Home

Tampilkan postingan dengan label Bagansiapiapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bagansiapiapi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Januari 2011

Jejak Perikanan Internasional Dan Pelabuhan Bagansiapi-api Yang Terlupakan

Kota Bagansiapi-api dalam sejarah dunia dikenal Kota Nelayan dan terkenal sebagai pusat Industri Perikanan nomor 2 di dunia Internasional, kini nyaris terlupakan. Baganiapi-api terletak di Kabupaten Rokan Hilir, dahulu Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau, di mulut muara sungai Rokan, Pesisir Timur Pulau Sumatera, menghadap Selat Malaka. Berdasarkan catatan sejarah ekspor hasil ikan laut dan hasil laut lainnya dari Bagansiapi-api mencapai 60 % dari seluruh ekspor Indonesia berupa ikan segar, ikan kering, udang kering dan hasil laut lainnya seperti terasi, pupuk dari bahan ikan, kemudian penghasil ikan laut lainnya yang cukup besar disusul oleh nelayan di laut Jawa Tengah dan Makasar. Peran Pelabuhan Bagansiapi-api dalam mengembangkan potensi perikanan menjadi Ikon Industri Perikanan Dunia dalam sejarah, bahkan menjadi faktor penentu perekonomian dunia Perikanan Internasional.
Posisi letak Bagansiapi-api yang strategis karenanya dapat dicapai dari segala arah sebagai bagian dari Propinsi Riau – Sumatera, sebelah utara dibatasi Selat Malaka dan Singapura, sebelah selatan Propinsi Jambi, sebelah barat Propinsi Sumatera Barat dan Sumatera Utara, dan sebelah timur oleh laut Tiongkok Selatan. Kebanyakan orang Indonesia Tionghoa tinggal di kota Bagansiapi-api, sedangkan sebagian lainnya orang Melayu, Padang, Tapanuli dan lain-lain tinggal di pinggiran Kota Bagansiapi-api.

Dari Kota Pekanbaru menggunakan jalur darat ke Bagansiapi-api diperlukan waktu 5 jam sampai 6 jam, sedangkan dari arah Kota Dumai dan Duri menuju Bagansiapi-api melalui jalur darat diperlukan waktu 2 jam atau 3 jam, bila dari Pelabuhan Bagansiapi-api ke Singapura atau Malaysia yaitu Malaka dan Kuala Lumpur menggunakan jalur laut kurang lebih 3 jam sampai 4 jam.
MULTI ETNIS PENDUDUK BAGANSIAPI-API



Orang Indonesia Tionghoa merupakan penghuni terbesar di Kota Bagansiapi-api, namun demikian masih banyak kelompok etnis lainnya yang tinggal berdekatan dengan mereka seperti orang Padang (Minangkabau), orang Tapanuli (Batak), orang Jawa dan lain-lain. Walau begitu, kehidupan rukun antar etnis dalam bingkai Negara Kesatuan RI berjalan dengan penyelarasan terus menerus antar penduduk warga yang berbeda asal suku, adat, agama dan kedaerahan serta budaya masing-masing terpelihara dengan baik. Bahasa pergaulannya yang utama adalah bahasa Hokkian, sedangkan bahasa Melayu merupakan variasi rumpun bahasa Melayu yang terdiri dari dua dialek, yaitu dialek yang digunakan wilayah kepulauan dan pesisir pantai, sementara dialek lainnya digunakan di daerah Sumatera. Perlu dicatat bahwa orang Melayu Riau tidak hanya tinggal di dataran Pantai Timur dan Pulau-pulau Riau, tetapi juga di Semenanjung Malaka dan Kalimantan Barat. Itulah sebabnya bahasa Melayu Riau menjadi bahasa perantaraan yang kemudian menjadi bahasa kebangsaan Indonesia.
Adapun orang Tionghoa di Bagansiapi-api yang 60 % orang Tionghoa Peranakan Indonesia, dan yang 10 % orang Tionghoa Totok (Singkek) ; Mayoritas orang Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan, ada yang menjadi petani dan pedagang ; sedangkan kelompok etnis lainnya sebagai petani. Mayoritas orang Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api menjadi nelayan disebabkan latar belakang sejarah kehadiran mereka yang berasal dari Tionghoa Selatan, wilayah provinsi Fujian (Hokkian) bermukim di Bagansiapi-api sejak abad ke 18, dan secara kebetulan keahlian Nelayan mereka sangat cocok dengan kondisi alam Riau tak lepas dari kehidupan melaut, hal ini sesuai dengan kehidupan mereka akrab dengan laut. Sedangkan pertanian sangat terbatas karena tanahnya yang asam sangat sulit di olah untuk keperluan budidaya sektor pertanian, ditambah dengan kondisi teknik pertanian yang tidak efisien dan tertinggal.
POSISI NELAYAN MENGALAMI KEMUNDURAN
Hidup Peranakan Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api dari pekerjaan sebagai nelayan bukanlah pekerjaan yang ringan, karena kebanyakan mereka harus hidup berbulan-bulan melaut atau hidup di atas jelmar yaitu tempat penangkapan ikan yang terletak beberapa kilometer dari pantai atau laut, yang luar biasa jelmar nelayan Bagansiapi-api dibuat dari kayu bakau yang tahan air laut  bukan dari besi seperti saat ini.
Pada pertengahan abad 18 dan awal abad 19 di Selat Malaka dan sungai Rokan banyak sekali ikannya, pada zaman itu orang Indonesia Tionghoa menggunakan cara penangkapan ikannya masih sederhana, kurang jauh dari laut dan kurang dalam menjatuhkan/memasang jalanya. Penangkapan ikan menjadi mata pencaharian pokok di Bagansiapi-api. Mereka secara swadaya dan mandiri menyiapkan kapal, layar, jala dan benang serta penerangan di laut tanpa bantuan Pemerintah atau jawatan perikanan laut pada masa itu.
Hasil ikan dari penangkapan nelayan Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api menjadi penangkapan ikan yang terbesar seluruh Indonesia dan bahkan nomor dua di dunia. Namun dari waktu ke waktu hasil perikanan semakin merosot, sekalipun laut Indonesia banyak ikannya, tetapi hasil tiap tahun semakin turun berhubung dengan alat penangkapan ikan telah kalah kompetitif, kecakapan dan keahlian nelayan pun tertinggal oleh arus globalisasi menjadi faktor pendukung kekalahan kompetisi dan terakhir pencurian ikan semakin marak oleh Negara Tetangga atau Mancanegara lainnya. Boleh dikategorikan posisi nelayan Bagansiapi-api semakin tertinggal, terisolasi dan kalah dengan kelompok pemodal mancanegara. Sekalipun usaha penangkapan ikan telah dijalankan secara turun temurun, ternyata sebagian besar nelayan telah terpinggirkan arus modernisasi perikanan, bahkan posisi miskin telah menempatkan mereka tidak berdaya. Namun pada masa itu tanah Jawa masih mendatangkan ikan kering, ikan asin dan terasi dari Bagansiapi-api.
Pada masa Penulis Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama senantiasa sepulang dari sekolah harus mencari tambahan uang untuk membiayai sekolah dengan menjajakan rokok dan barang dagangan lainnya di Pelabuhan atau di galangan kapal kayu, kadang-kadang dengan sekelompok teman berenang ketika air pasang ; Kondisi Pelabuhan Bagansiapi-api bagi Penulis sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari tempat mencari nafkah, berenang dan bermain yang sama sekali tidak diketahui teman-teman sekolah karena pergaulan Penulis lebih banyak dengan masyarakat umumnya ;
Peta situasi dan kondisi Kota Bagansiapi-api harus ditempuh melalui jalur laut atau sungai dengan menggunakan perahu kecil atau kapal tongkang atau kapal penumpang ke pelabuhan Bagansiapi-api, di masa itu belum dibuka jalur darat, yang ada pada masa itu jalur laut dan sungai sebagai alur yang dapat keluar dan masuk dari Kota Bagansiapi-api, setiap kapal atau perahu sangat hiruk pikuk berlabuh dan melalui Pelabuhan Bagan untuk bongkar muat barang-barang impor dan ekspor.
Di sepanjang pesisir dan jalan-jalan umum Bagansiapi-api dibangun rumah di atas panggung sebagai ciri khas, untuk menghindari aliran banjir air laut dan sungai maka rumah dan bangunan yang berada di dalam kota atau di tepi sungai atau pinggir laut setiap rumah dan bangunan dibangun di atas tiang yang lebih tinggi. Di daerah-daerah sungai sepanjang sungai Siak dan Rokan juga dibangun rumah rakit atau rumah di atas rakit. Selain sebagai rumah tinggal, rumah panggung dan rumah rakit juga berfungsi sebagai warung.

PEMBUAT KAPAL KAYU TERBAIK DENGAN PELABUHAN TERSIBUK DI ASIA DAN DUNIA
Untuk kepentingan perniagaan dan lalu lintas kepulauan Bagansiapi-api dan sekitarnya menggunakan perahu atau kapal penumpang atau tongkang yang dibuat dari kayu oleh galangan kapal kayu milik pengusaha Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api telah terkenal pembuat kapal kayu tongkang atau kapal penumpang atau kapal Ikan bagi usaha perikanan tangkap dan perahu dengan berbagai ukuran, dimulai dari ukuran 100 ton sampai dengan ukuran 1500 ton yang pada umumnya pemesan dan pembeli baik warga Negara Indonesia maupun luar negeri. Sejarah kepeloporan nelayan dan pembuat kapal kayu Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api mempunyai catatan sejarah panjang ; yang pada awalnya tatanan sederhana pembuat perahu, penangkap ikan dan penghuni Pulau Bagansiapi-api yang terpencil, memulai hidupnya dengan tatanan pra kapitalis, sederhana dalam struktur dan dengan kultur pembuatan kapal turun temurun mereka mampu menciptakan Pelabuhan Bagansiapi-api menjadi serbuan pelayaran kapal-kapal Internasional dan menjadi pusat perdagangan ekspor dan impor serta pusat Industri Perikanan Kedua di dunia.
Pada abad 18 dan awal abad 19 Pelabuhan Bagansiapi-api terbuka bagi lalu lintas pelayaran kapal-kapal Nasional dan Internasional sehingga menjadi tempat persinggahan, bongkar muat, ekspor impor dan menjadi jalur pelayaran perdagangan Internasional telah menjadikan Pelabuhan Bagansiapi-api sebagai kawasan yang tersibuk di asia dan dunia, lalu lintas kapal sangat ramai dan penuh hiruk pikuk di laut Selat Malaka, sepanjang sungai Rokan dan Siak, kapal-kapal tersebut diselenggarakan oleh maskapai Belanda dan Indonesia Tionghoa. Sepanjang waktu secara simultan kapal-kapal berlabuh di Pelabuhan Bagansiapi-api, untuk lalu lintas di laut peran pelabuhan-pelabuhan itu penting. Di Indonesia ada pelabuhan buatan yang bagus seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak dan Belawan. Dan ada Pelabuhan-pelabuhan Alam yang indah seperti Sabang, Cilacap, Makasar dan Dumai. Teluk bayur termasuk pelabuhan alam yang diperlengkapi. Pada pelabuhan-pelabuhan yang lain kapal-kapal berlabuh jauh dari pangkalan misalnya Pelabuhan Semarang, Tegal, Cirebon, Menado dan Buleleng.
Pada masa kecil Penulis hampir setiap saat pulang sekolah selalu berjalan mencari bahan kayu bakar dari sisa-sisa kayu pada setiap galangan pembuat kapal kayu, sambil berdagang asongan dan bila air laut pasang naik maka kesempatan itu digunakan untuk berenang bersama-sama teman kampung di sepanjang pelabuhan Bagansiapi-api. Dimasa itu banyak barang-barang impor dari Singapura dan Malaysia berupa barang elektronik Radio, buah-buahan, biskuit dan barang dagang lainnya ; Kota pelabuhan Bagansiapi-api menghubungkan Rute ke Malaka, Malaysia atau Singapura serta wilayah Nusantara lainnya : Dimasa itu dapat dikatakan belum banyak orang menggunakan radio, sistem telepon pun masih manual dengan cara putar gagang, sarana jalan pun tidak baik, transportasi darat tidak ada, komunikasi lain hanya melalui surat pos dan telegram, apalagi kendaraan motor, lebih banyak menggunakan sepeda atau jalan kaki ; sedangkan kendaraan sepeda dan kendaraan tradisionil becak yang khas sebagai sarana transportasi rakyat Kota Bagansiapi-api ; Hanya mereka yang kaya memiliki alat pemancar dan penerima siaran televisi dan radio dengan menggunakan ACCU/AKI, jumlah orang yang dikategorikan kaya hanyalah beberapa gelintir saja ;  Namun demikian jaringan perdagangan dan pelayaran di Pelabuhan Bagansiapi-api telah mampu menjalin hubungan dengan dunia Internasional, posisi Bagansiapi-api yang strategis dengan hasil perikanan berlimpah-limpah yang pengaruhnya telah menyentuh seluruh kepulauan Indonesia dan Internasional.

PELABUHAN TERBESAR YANG TERTINGGAL AKIBAT MODERNISASI
Perkembangan Bagansiapi-api sebelum Perang Dunia II dikenal sebagai Pelabuhan Nelayan terbesar di seluruh Indonesia, Asia dan terbesar kedua di dunia setelah Kota Bergen di Norwegia. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa penduduk Bagansiapi-api mayoritas adalah orang Indonesia Tionghoa dan peranakan. Mereka hidup menetap dan terisolasi semenjak ratusan tahun. Banyak tidak mengingat lagi sudah berapa generasi yang menetap di Bagansiapi-api selama beberapa keturunan. Bahasa Hokkian yang digunakan juga sudah ketinggalan dan tidak berkembang seperti Hokkian yang digunakan di Propinsi Hokkian (Fujian) Tiongkok. Leluhur mereka yang datang dan menetap di Bagansiapi-api telah berhasil membangun Kota Bagansiapi-api sebagai kota mandiri yang dibanggakan di masa kolonial oleh Penjajah Belanda sebagai Kota Industri Perikanan Internasional terbesar kedua di dunia.
Setelah kemerdekaan dan menjelang berakhirnya orde lama dalam kurun waktu relatif singkat kejayaan Pelabuhan Bagansiapi-api sudah mulai mengalami proses kemunduran sebagai Kota Perikanan. Pelabuhannya menjadi Ikon Dunia Perikanan Internasional karena berada di sebelah Utara dibatasi Selat Malaka dan sebelah Timur dibatasi Laut Tiongkok Selatan; Masa kejayaan berakhir sejak tahun  1970-an yang diakibatkan oleh sungai mulai dangkal dan kering serta saat ini sebagian besar sungai telah menjadi daratan, saat ini dapat diketahui kapal-kapal pantai atau kapal-kapal tongkang lewat pada saat air pasang naikpun sudah tidak dapat merapat atau berlabuh, kapal-kapal pun mesti dipandu, sebabnya lokasi pelabuhan di Muara sungai itu mengalami pendangkalan sehingga kapal sulit merapat.
Seingat Penulis semenjak kecil di dalam buku pelajaran Ilmu Bumi – Indonesia dan Pantja Benua untuk sekolah lanjutan tingkat pertama karangan G Viriens – R.J Djojoatmodjo – terbitan J. Wolters Jakarta – Gronigen telah mencatat kejayaan Pelabuhan dan Kota Bagansiapi-api baik masa zaman penjajahan Belanda maupun setelah kemerdekaan disebutkan Bagansiapi-api Kota Nelayan dan Pelabuhan Perikanan terbesar kedua di dunia, menjadi salah satu pintu untuk keluar-masuk pelayaran dan perdagangan lintas batas Negara. Dengan pelabuhan Bagansiapi-api berada di jalur pelayaran dan perdagangan Internasional, ketika itu pusat perdagangan di Asia Tenggara di pegang oleh Malaka, sehingga Pelabuhan Bagansiapi-api pun menjadi salah satu pilihan kunjungan banyak kapal-kapal asing singgah baik untuk istirahat maupun mencari hasil perikanan terutama ikan terubuk sangat diminati ; pedagang-pedagang dari Nusantara dan Internasional melakukan perdagangan perikanan, warga Bagansiapi-api berperan sebagai nelayan dan pedagang perantara maupun pedagang ekspor ; karena keterlibatannya dalam perdagangan dunia itu berarti pedagang-pedagang warga Bagan dengan sendirinya ikut berperan dalam perdagangan Nusantara dan Internasional.
PEDANGKALAN PELABUHAN DAN BERAKHIRNYA KEJAYAAN PELABUHAN BAGANSIAPI-API DARI PETA DUNIA
Setelah berjalan waktu, secara pelan-pelan Kota Nelayan dan Pelabuhan Perikanan terbesar kedua di dunia ini mulai mundur dan redup kejayaannya sebagai Kota Industri Perikanan Internasional. Pelabuhannya perlahan-lahan tapi pasti semakin dangkal ; kapal-kapal laut, kapal tongkang maupun kapal pantai kecil yang di masa kecil Penulis ramai berlayar dan berlabuh di Pelabuhan sulit merapat atau berlabuh, harus menunggu air pasang baru bisa menurunkan muatan atau mengambil muatan ; Setelah tahun 1977 Penulis tinggalkan Kota Pelabuhan tersebut sudah terlihat kapal pantai semakin sulit dan tidak dapat merapat ke Pelabuhan Bagansiapi-api. Kapal-kapal tersebut harus menunggu di luar Pelabuhan dan tidak bisa memasukkan muatan atau mengambil muatan, yang hanya bisa dilakukan dengan perahu kecil sebagai sarana bongkar muat di luar Pelabuhan.
Sepanjang Pantai Timur Bagansiapi-api dan Sungai Rokan dan Siak secara alami telah membentang dataran rendah akibat endapan dari lumpur sungai ; dataran ini semakin hari semakin lebar, makin hari makin menyempit sungai hingga menciptakan dataran yang akhirnya menjadi Kota Pelabuhan Bagansiapi-api kita saksikan sekarang telah menjadi sebuah dataran daratan sepanjang bekas pantai dan sungai Bagansiapi-api maka pupuslah Ikon Sejarah Perikanan Dunia. Sejak itu perubahan demi perubahan terus mengalir di sungai Rokan dan Siak. Aktivitas warga yang berabad-abad cuma melaut kini menjadi lebih beragam menggerakkan denyut perekonomian kota dengan berdagang dan atau berbudidaya Burung Walet.
Peranan dan perhatian Pemerintah Daerah pada masa itu kurang terasa ada, kalaupun ada relatif terbatas ; Departemen Perikanan atau Perhubungan masing-masing kurang memberi kontribusi dan fasilitas untuk memulihkan perdangkalan Pelabuhan Bagansiapi-api. Fakta yang kita saksikan Pelabuhan Bagansiapi-api dibiarkan terlantar dan tenggelam serta hilang dari peta Pelabuhan Nelayan dan Perikanan terbesar kedua di dunia ; saat ini Pelabuhan Bagansiapi-api dibiarkan dangkal dan tambah lama menjadi dataran rendah yang perahu kecil pun sulit merapat. Kota Pelabuhan Bagansiapi-api yang terkenal dengan penghasil ikan terubuk dan setelah itu terkenal dengan Kota Belacan atau penghasil produksi terasi terbaik di Indonesia telah tinggal sebuah nama, bahkan produksi ikan asinnya juga semakin merosot, terjadi penurunan tingkat produksi ikan segar, ikan asin, belacan dan hasil laut lainnya merupakan refleksi bagaimana perubahan lingkungan alam seperti hutan bakau di sepanjang sungai mempercepat bertambah luasnya dataran karena akar-akarnya menahan lumpur, tertimbun dan menjadikan Pelabuhan Bagansiapi-api sebuah Pulau Baru ; Di samping itu juga terjadi perubahan lingkungan eksternal seperti kurangnya bimbingan dan perhatian instansi perikanan dan perhubungan memberi dampak negatif terhadap Pelabuhan Bagansiapi-api sebagai Kota Industri Perikanan Internasional kedua di dunia menjadi hancur tanpa bekas, tetapi mencatat sebuah nama besar dalam buku besar sejarah dunia.


PENGEKSPOR IKAN ASIN MENJADI PENGIMPOR IKAN ASIN

Hancurnya Pelabuhan Bagansiapi-api sebagai Kota nelayan dan Industri Perikanan terbesar di Indonesia dalam hal produksi ikan asin pun terjadi penurunan ; Disebabkan antara lain karena kekurangan garam, yang membawa akibat berton-ton ikan terpaksa dibuang kembali ke dalam laut karena membusuk, akibat tidak ada persediaan garam yang cukup. Semuanya ini semestinya tidak perlu terjadi jika Pemerintah Daerah maupun instansi perikanan dan perhubungan menfasilitasi dan mendorong masyarakat Bagansiapi-api. Situasi ini baik secara langsung maupun tidak langsung telah menyebabkan terjadi dan berkembangnya perdagangan ikan segar di tengah laut untuk dibawa ke Malaysia. Tidak ada upaya atau pemikiran menyediakan penggaraman sendiri. Air laut cukup asin didekat Bagansiapi-api, tetapi karena garam merupakan monopoli Negara menurut ketentuan warisan Kolonial, akibatnya Bagansiapi-api harus menunggu pengirim garam dari Kalianget – Madura pengiriman garam Kalianget ke Bagansiapi-api sering terlambat karena persediaan kapal pengangkutan kurang dan mengakibatkan produksi ikan asin menurun dan kadangkala terpaksa mengimport ikan asin dari Negara lain, dan sungai garam di tengah Kota dahulu tempat bongkar muat garam Kalianget pun sekarang ini menjadi dataran jalan raya akibat pedangkalan Pelabuhan Bagansiapi-api dan runtuhnya system Industri Perikanan Bagansiapi-api yang berjaya di dunia, dalam sekejap hilang dan musnah dari peta Industri Perikanan dunia.
PEMAIN PERIKANAN INTERNASIONAL MENJADI PEMAIN PERIKANAN LOKAL
Pelabuhan Bagansiapi-api dikenal sebagai Kota Nelayan dan Industri Perikanan telah menjadi runtuh tanpa bekas ; Pada masa itu kompetitor bidang Industri Perikanan di Bergen – Norwegia menjadi tambah maju, karena teknologi pengawetan ikan berkembang maju ; Pemerintah Norwegia memberi bimbingan, perhatian dan dorongan sepenuhnya dalam menggunakan teknologi paling modern guna meningkatkan kemakmuran nelayan Norwegia ; Alangkah malangnya nelayan Pelabuhan Bagansiapi-api sebagai Kota Nelayan dan Industri Perikanan telah berakhir masa kejayaannya. Generasi muda Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api hanya bisa menatap dan menyayangkan hilangnya kejayaan Pelabuhan Bagansiapi-api dan runtuhnya kemakmuran rakyat nelayan Bagansiapi-api bersamaan dengan hilangnya kejayaan Industri Perikanan bagansiapi-api. Kini Pelabuhan Bagansiapi-api dan Kotanya pun menjadi tidak berarti lagi secara ekonomi ; Para pembuat kebijakan di masa orde lama dan orde baru tidak sungguh-sungguh dan jujur mau melakukan modernisasi Pelabuhan Bagansiapi-api, tidak ada perbaikan infrastruktur walaupun dana dari devisa ekspor ikan laut Bagansiapi-api memadai ; Pemerintah tidak secara serius memperbaiki fasilitas pemasaran dan peningkatan produksi hasil laut atau perikanan ; Revitalisasi nelayan tidak terjadi ; Revitalisasi Industri Perikanan dalam skala kecil dan menengah pun tidak terpenuhi ;
Sekarang ini nelayan kecil Bagansiapi-api yang terpinggirkan akibat kalah bersaing dengan teknologi dan jebakan globalisasi terpaksa bertahan dengan menggunakan alat tangkap sederhana secara individual. Mereka terpaksa memakai perahu layar sederhana, wilayah tangkapnya pun dekat pantai dan motif produksinya pun sekedar memenuhi kebutuhan dasar minimum hidup sehari-hari. Tangkapan yang dipasarkan jumlahnya tidak besar. Ini telah menjadi tragedi yang bertentangan dengan citra nelayan Bagansiapi-api di masa lalu yang dikenal mampu merantau ke laut lepas di beberapa wilayah operasinya sampai kebeberapa Negara Asean hingga Australia untuk menangkap ikan. Sekarang volume tangkapan ikan dari pemain perikanan Internasional menjadi sekedar untuk konsumsi di tingkat Kabupaten atau Kecamatan saja.
HANCURNYA PEREKONOMIAN NELAYAN DAN KERUGIAN NEGARA
Namun demikian disebabkan Kota Bagansiapi-api dihuni oleh mayoritas Peranakan Indonesia Tionghoa dan oleh banyak orang Indonesia masih dianggap “asing” ; Disadari atau tidak, terlihat timbul rasa menyesal, bahwa Pelabuhan Bagansiapi-api telah berlangsung proses pemiskinan masyarakat secara perlahan, kemudian pemiskinan ini berlangsung dalam kurun waktu cukup lama, maka muncul zona krisis dan tertinggalnya Pelabuhan Bagansiapi-api tidak bisa dihindari yang telah membahayakan dan menghancurkan kelangsungan hidup nelayan ;
Dengan mundur dan tertinggalnya Bagansiapi-api sebagai Kota Pelabuhan dan Nelayan teramai di Selat Malaka dan terbesar di Indonesia serta terbesar kedua di dunia sebagai Kota Industri Perikanan Internasional Kedua setelah Belgia, membawa konsekwensi terhadap perekonomian tingkat Propinsi maupun tingkat Nasional saat ini musti menyediakan devisa untuk import ikan asin dari Bangkok atau Negara lainnya ; dan rakyat sebagai konsumen ikan asin harus membayar lebih mahal untuk ikan asinnya ;
Akibat lebih luas terjadi krisis ekonomi rakyat yang melanda nelayan Bagansiapi-api memberi pelajaran berharga bagi generasi muda bahwa Pemimpin Bangsa pada masa itu telah melupakan rakyat nelayan ketika pertumbuhan ekonomi perikanan mencapai tingkat prestasi Internasional dan menduduki tingkat kedua di dunia Industri Perikanan Internasional ; padahal posisi rakyat nelayan adalah tempat jiwa bangsa ini berada. Oleh sebab itu pengalaman ini menjadi pelajaran di masa depan untuk merevitalisasi strategi pembangunan kerakyatan khusus nelayan Bagansiapi-api.
PENUTUP
Kedangkalan sungai Rokan di gerus waktu, cuaca, dan factor alam lainnya menyebabkan Pelabuhan Bagansiapi-api sekarang ini sudah sangat parah dan jika ingin dilakukan penggalian atau pemulihan lagi sudah sulit diwujudkan, dibutuhkan dana anggaran triliunan untuk biaya rehabilitasi yang tidak mungkin ditanggung oleh Anggaran Negara lagi. Prestise dan kejayaan Negara kita dengan hadirnya Bagansiapi-api sebagai Kota Industri Perikanan Internasional Kedua telah dirugikan oleh fakta gagalnya transformasi industrial perikanan Indonesia. Kota Pelabuhan terbesar di Indonesia dan Kota Perikanan Kedua di dunia telah mengubur masa lalunya secepat mungkin sudah lenyap, hilang dan hapus dari peta Industri Perikanan Dunia Internasional sebagai akibat kegagalan transformasi industrial yang patut menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda, Pemerintah Daerah dan Negara RI yang tercinta.
Dengan letak geografis Kabupaten Rohil yang berada di kawasan Pesisir, tepatnya di jalur pelayaran dan perdagangan internasional yang paling ramai dimasa silam telah menjadi sebuah legenda ; Pertumbuhan ekonomi pada hampir seluruh wilayah Kabupaten Rohil dan daerah-daerah lain di Propinsi Riau menjadi mundur. Saat ini Pemerintahan Rohil telah melakukan pembangunan pelabuhan baru dan merupakan bagian grand design pengembangan pelabuhan yang menghubungkan Rute Bagansiapi-api ke Malaka-Malaysia. Diharapkan pelbuhan baru ini dapat mendorong potensi Rohil dan memberi dampak positif kemajuan bagi masyarakat dan kota Bagansiapi-api.
Jakarta, 18 Januari 2011.

sumber : baganintheworld.com

Sabtu, 27 November 2010

海外的第二金同廈故鄉─印民蘇島峇眼亞比埠百年滄桑

 話峇眼開埠於公曆1878年(清光緒四年歲次戊寅)  

     峇眼亞比,位於印尼蘇門答臘島中部東海岸一個小漁村,二次世界大戰前為印尼最大產魚區。相傳當年由十八名洪姓華僑來此開埠,據說:其中有一名許氏暹羅女子,合共十九人。之前,因在暹羅管轄通扣埠之思思地方,以捕魚維生,當地土著有密謀驅逐華人之不利舉動,為避禍計,這班人連夜裝載捕魚器具,乘潮逃離其地,經數十日海上漂流,最後來到峇眼亞比,抵達後,始知當時峇眼,乃屬原始樹芭。  

    峇眼亞比,雖開埠只有一百多年歷史,但由於地理形勢不同,並得益洛江浩瀚怒瀨水勢,海道深而地勢處於三角浪潮沖激,及四面流(即其他海域區廿四小時為流漲期,而峇眼卻十二小時為一流漲期)之助,如逢氣候惡劣,魚蝦多被海風浪濤打進此地避風險。因而,海產特別豐盛,由于歷史的沿革,地理的變遷,河道改流,卻使這塊沿海地區,發生了翻天覆地的變化。  

    很久很久以前,這只是一片樹林芭,經年久月深,舊樹死亡而新樹復生,不知過了幾許歲月,地質逐漸堅實從而闢為可供居住之地。記得自我懂事以來,峇眼範圍還相當小,惟民風純樸,多遵守儒家思想,崇尚「成由勤儉敗由奢」之古訓,居民多靠捕魚維生,不論去上區、海口(碼頭港口)、下區沿海一帶,都可見到漁船出海歸航之繁忙景象,此種盛況曾閃耀幾十年,如今已不復見。  

    昔日陸路交通情況,人們出門,多靠步行,路遠一點者,才有騎坐腳踏車,而當時家中擁有腳踏車者,為數有限,可見當時民間生活並不富裕,婦老由於纏腳,不良於行,才有借助黃包車代步。  

    習俗方面,喜慶喪事,全由近鄰及親友,熱心義務,代勞襄理,其人情味、鄉土情,十足可嘉。凡志趣相投者,閒暇聚夥,烹茶暢敘談論古今,不亦樂乎。間有善彈琵琶及擅拉胡琴者,則彈唱自娛,怡然自得;入暮時分,孩童各作排排坐唱兒歌,數星星,玩石頭剪刀包,捉迷藏等玩意為其賞心樂事之舉。  

    照明設備,因電力不足,路燈半明不亮,家中富裕者,才有安裝電流,亦多燈光如豆。當時尚無電唱機,能擁有手搖留聲機者,亦是經濟充裕之大戶人家。  

    斯地地層,因是陳年枯枝敗葉,腐化後所構成,所以一掘下去皆是棕色之物,當地稱之為芭土;而此種土質非常肥沃,利於種植,所以峇眼水果特別好吃。  

    自來水因取自地河,色如濃茶;記得有位外來女教職員,見到如此色澤之泉水而不敢沖涼。食水方面全靠天公賜下甘霖,若逢旱季,雨水也是貴而難求,居民多數須為「水」辛苦為「水」忙。若逢大雨成災,真是一片濃茶汪洋。  

    據堪輿學家言及:峇眼亞比,因屬箕穴,易富易退,華人來此,不像其他民族,賺到了錢就寄回鄉建築故里。可謂大部分華人來到此地,都抱著落地生根,生於斯,長於斯,終於斯之觀念,從而建設發展第二故鄉。  

    由於港口淤淺逐漸浮升為陸地,龍脈變動,據云,地層蘊藏石油,以致漲力甚強。此地屢蒙祝融光顧,不時發生火災,所以峇眼亞比名稱上再加上一個「亞比」。鎮內上芭十六間和下芭十六間即是當年為賑濟受祝融光顧之貧苦者而建之,至今也歷半個多世紀了。但上芭及下芭二次大火,發生於何年何月何日,大火之嚴重性達至何種程度;為何會各建十六間為賑濟屋,今賑濟屋猶存,但其意義已無法稽考了。  

    靠海產以經商者,多見一、二十年間之興旺,而最後落魄衰敗於終,可說沒有一家富過代。真有十年水流東,十年水流西,富人無富種,窮人無窮栽之謂,恰似長江後浪推前浪,一代一代由興而衰。是否真有風水輪流轉,十年人事一番新之兆。  

    如今,滄海桑田,當年數千噸級輪船出入之大海,已經脫胎換骨,在荷轄時期建築之四十四梯級之碼頭(荷蘭橋),已被海底浮升之泥土蓋沒只存三梯級,版圖範圍擴展之幅度,增漲不止兩倍,迄今還在繼續擴大中,但增漲之地,土地為海泥土色,與原本之棕色芭土完全不一樣,真是「滄海桑田」信而有徵。  

    峇眼亞比,在開埠以前,誠如以上所述,只是樹芭一大片,夜間螢火蟲甚多,遠遠望之,如火光輝耀。後賴先賢披荊斬棘,慘淡經營,始有今日之縣鎮。我們應該感謝付出代價之前人,沒有他們辛勤開拓,哪有我們容身之地,真是「前人種樹,後人乘涼」啊!  

    由於首任翁君喻僑領,及次任黃熙雲僑領,都是福建金門人氏,以及開埠者洪姓諸君,全屬福建同安人氏。遂各自與家鄉親友,互通音信,知悉此地海產豐富,進而陸續結伴南來。尤其在一九三八年日本侵略中國,沿海失陷,書信難通,款項無法匯寄,真有:「烽火連三月,家書抵萬金」之慨。此時,在中國依賴匯款度生之婦幼,不得不繞山越海,扶老攜幼,千里迢迢冒險南渡,投靠丈夫或親友。於是人數激增,所謂「同是天涯淪落人,相逢何必曾相識」。他們千里投荒,慶幸聚居一處,均能發揚守望相助之精神。俗云:樹大了,什麼鳥都有。因而,廣東、海南、潮州、福州,什麼省份的人:有的經馬六甲、怡保、檳榔嶼、新加坡等處都來到此地。歷經重重災難困苦,乃是磨練出團結友愛的最好考驗。此間海南人多合營咖啡店,潮州人排攤賣炒粿條,福建人多操麵食生意,可說中國式的絕招,三把刀(菜刀、剃刀、剪刀)走天下盡出,客家人開裁縫店,上海福州人開理髮店及洗染店,有的屈就拉黃包車;其他各省各縣之人士,也多靠食攤、煎炒、點心或當苦力維生。當時的各式糕點、燒賣、薄餅、大包、風味可口,至今回憶,乃然口齒生津,但如此手藝,今已失傳了。  

    在日本南侵時期,港口封鎖,交通受阻,各種貨物短缺,營養失調,醫療設備之差,已難於形容了,人之死亡率高漲,連產婦都由唐山亞嬸接生,病痛只好採生草煎服,眼疾嚴重致盲眼及生瘡特別多。  

    戰後彭九騫曾編寫:卅六目,及鴉片歌歌曲,風行一時。當時僑胞相當關心國事,賣報人萬清河因時常喊賣號外新聞,竟成為家喻戶曉人物。  

    日本野蠻行為,強徵勞役,前往北干峇魯各地修橋造路,埠中糧食煙酒分配,實行統制政策,由於執法甚嚴,並無盜竊之擾,治安尚稱安定。據云:當時已開好數十處防空壕,準備公審抗日份子,以便實行如新加坡那樣的大屠殺——活埋。幸而,善惡到頭終有報,日本戰敗投降,峇眼人福厚,僥倖逃過此劫數。  

    日本投降後,峇眼治安處於真空狀態。當時,家族會、社團,如雨後春筍般,四處林立;當時有識之士,提議組織華僑總會,使各家族會、社團,有統一宗旨,才是社會福祉。以是,華僑總會順理成章的產生了,由敦煌、高陽、穎川、江夏、西河、弘農、敖東、隴西、盧山、箱山、古城、濟陽、滎陽、汾陽、延陵、太原、鉅鹿、松山等十八家族會及各社團,如和平信義,同舟共濟,精神團結,義同社、中民社、靜修軒、閩南國樂社、福建永定客屬公會(即露天大鑼鼓隊)、鶴鳴樓歌劇團、中華音樂社(西樂)、韓江公會、晉江會館、南安會館、瓊崖同鄉會、金蘭以及振源漁業公會等,各派代表,共商扶持埠中秩序,分任理監事。並設立商業部、組織華警、負責治安,興辦學府、養老院、孤兒院、痳瘋病院、義山、寺廟等等,並出版每日電訊日報,以使訊息並遍流通。寺廟較有代表性者應推永福宮(即大伯公宮),位於埠中市區,建於楊明山甲政執政期間,當時建材全由中國運來上等杉木、建築師、堪輿家均聘自中國,擴建後成為大宮廟;原為紀念當年隨洪姓諸君來眼開埠指點迷津之紀府王爺,故每年逢農曆五月十六日十七日紀王千秋穀旦,各家殺豬宰羊大事拜拜,並公演戲劇連月酬神,答謝神恩,外地各埠商翁善信,均承機會來禮佛酬神,並創商機,真是遊人如鯽,十分熱鬧。  

    當時學府,首推由前身競存學校及民德學校合併之中華公學,設備最為完善,各種運動項目,當今世運所舉辦者,件件皆有;教員均聘自國內外大學師資。每逢節日,舉辦遊藝義演晚會及工藝品點心義賣助學,務求辦好教育,社會熱心人士,都共襄盛舉。另有徵收糖、油、米、金銀紙、香燭及運輸費,以供維持社會治安慈善部門種種費用。  

    當時船隻出入自由,魚產量豐富,特產有蝦煎、絲町、薄片、鳳尾魚、蚌、螃蟹、蝦、黃魚、石首魚、叻魚、鰣魚、刺殼魚、鯽魚、大白鯧等,味道之殊佳,非其他海港產品所能比及。陸地轄屬:龜務、山頂一帶;橡膠收成良好,有洛江橡膠加工廠,出口往星洲,價格不斐。海港轄地如:四角芭、汫水港、大芭、草焦芭、大港、利巴咸等地,都是海產盛產區域。  

    戰後交通,四通八達,尚無國界限制。原料購採方便,生意樣樣好做,船隻川行不息,人們出入自由,但也帶來不良後果,煙賭盛行。那時有真空祖師教,為一般社會名流士子創辦之修身養性場所,有前壇及後壇之分,前壇多為商界名流聚集處;佔地達萬平方,四周植樹,空氣涼爽,專以物理治療神經病及為癮君子戒毒,效果卓著。  

    點心食攤生意,日夜輪流經營,樣樣皆通,行行都有,可謂真正之不夜天,是峇眼各行業之黃金時期。  

    若干貧苦之家,孩童並無法上學堂,多至咖啡店、飲食攤幫忙當童工,以度生計,酬勞甚微。當時娛樂戲班,多由星洲組團來獻演梨園劇,戲院乃為婦女老幼最佳娛樂消閒之場所。華人家庭中,因受故國傳統佛教影響,有輪迴報應之觀念,老年人較有福氣,在孝道禮教下,一般有子女在家照顧,年邁雙親讓子孫圍繞膝下,含飴弄孫,以享天倫之樂,而現今,西方式的老年,就沒有這份福氣了。