Home

Tampilkan postingan dengan label Budaya Tionghoa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Tionghoa. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

JAM AIR DAN MATAHARI TIONGKOK KUNO

Ada sebuah pepatah Tiongkok, "Waktu adalah uang, tetapi Anda tidak bisa membelinya dengan uang." Kalimat tersebut mengungkapkan dengan jelas betapa bangsa Tiongkok menghargai waktu. Namun, sebelum penemuan jam di jaman modern, bagaimana bangsa Tiongkok mengukur waktu?

Alat penunjuk waktu tertua disebut gnomon, solarium atau sundial. Prinsip dasarnya adalah mengetahui waktu dari arah dan proyeksi matahari. Alat ini secara umum disebut jam matahari.

Jam matahari kehilangan fungsinya saat mendung, hujan atau malam tiba. Kemudian, muncul jam air yang dapat memberi informasi waktu baik pada siang atau malam hari. Jam ini disebut clepsydra. Clepsydra, yang dikenal juga sebagai gelas air, adalah alat kuno yang mengukur waktu dengan cara menandai air yang dialirkan melalui sebuah bukaan kecil. Sebagai penunjuk waktu, clepsyndra lebih umum digunakan daripada sundial.

Adalah sangat tidak praktis mengukur waktu dengan air mengalir, jadi bangsa Tiongkok kuno menciptakan alat penunjuk waktu yang menggunakan tenaga air sebagai penggeraknya. Pada dinasti Han Timur, sekitar tahun 117 S.M., Zhang Heng menciptakan alat penunjuk waktu berukuran besar dengan penggerak utama air.

Alat ini secara umum berfungsi untuk mencatat waktu secara mekanik. Kemudian, generasi selanjutnya sukses membuat alat penunjuk waktu yang salah satunya adalah menara jam tenaga air (shuiyun yixiangtai) oleh Su Song pada jaman dinasti Song. Ini merupakan sebuah pencapaian baru dalam perkembangan jam mekanik pada masa itu. Pada jam ini, ada sebuah boneka yang berfungsi memberi informasi waktu dengan memukul drum atau membunyikan lonceng.

Di musim dingin, timbulnya masalah air yang membeku pada clepsydra mendorong terciptanya jam pasir. Bagian "Risalah Astronomi" dari Sejarah Dinasti Ming mencatat tentang pembuatan "Gelas Pasir Lima Roda" oleh Zhan Xiyuan pada awal dinasti Ming.

Selama ratusan tahun, bangsa Tiongkok kuno menggunakan beberapa alat primitif sebagai penunjuk waktu.

Selain cara-cara di atas, beberapa orang menggunakan dupa yang dibakar untuk mengukur waktu, sehingga muncul ungkapan 'yizhuxiang' dan 'liangzhuxiang', yaitu periode waktu saat sebuah atau dua buah dupa terbakar habis. Namun, konsep-konsep waktu ini belumlah akurat bila dilihat secara umum.

Menara jam tenaga air (jam air) yang diciptakan oleh Su Song dianggap pantas dan masuk akal sebagai jam mekanik pertama di dunia.

Jam tersebut merupakan alat komprehensif yang berfungsi untuk mengamati dan menggambarkan fenomena langit dan sekaligus mencatat dan melaporkan waktu. Secara garis besar, menara ini merupakan alat observasi astronomi mini.

sb : yinnihuaren

Minggu, 13 Maret 2011

ALASAN ORANG TIONGKOK KUNO MEMAKAI GIOK

Orang-orang di masa lalu memakai ornamen batu giok. Biasanya mereka tidak akan pernah memakai baju tanpa batu giok. Dalam bab Yuzao dari Liji, Kitab Etiket, Konfusius berkata, "keindahan giok mirip dengan keutamaan bangsawan."

Dalam teks-teks medis Tiongkok kuno, Shennong Bencao Jing, dan Ben Cao Gang Mu, giok dikatakan berfungsi dalam "menghilangkan peradangan bagian dalam, melepaskan kegelisahan, memelihara jantung dan paru-paru, membantu suara dan tenggorokan, pelembab rambut, memelihara lima organ internal, menenangkan jiwa, menenangkan pembuluh darah seseorang, dan mencerahkan  telinga dan mata. "

Semua orang yang berpartisipasi dalam the New Tang Dynasty Han Couture Design Competition merancang busana yang dihiasi dengan aksesoris dari batu giok. Menurut nona  Fan Hong, salah satu hakim panel kompetisi, Tiongkok kuno selalu memakai aksesoris giok untuk mengingatkan diri untuk mencontoh nilai-nilai moral dari batu giok.

Perancang busana Cheng Minghua, yang memenangkan penghargaan untuk desain Han Counture menyatakan bahwa orang-orang China kuno biasanya memakai sepotong batu giok pada pakaian mereka yang lebih rendah, yang disebut "giok pada ikat pinggang". Hung dari ikat pinggang terselip di pinggang itu berfungsi  sebagai hiasan sekaligus untuk membantu pakain terlindung dari tertiup angin, dan menjaga keanggunan.

sb : yinnihuaren.blogspot.com

Sabtu, 12 Maret 2011

CAO MU JIE BING

Pada zaman Dinasti Jin Timur, raja negeri Qianqin, Fu Jian telah menguasai bagian utara Tiongkok. Pada tahun 383 Masehi, beliau merencanakan untuk menyerang negeri Jin di sebelah selatan. Bila mendapat berita bahwa jumlah tentara negeri Jin sangat sedikit, Fu Jian segera memimpin pasukannya yang berjumlah 900 ribu orang, maka ke negeri tersebut. Beliau tidak ingin terlepas peluang yang terbaik untuk berperang.

Namun, di luar dugaan Fu Jian, barisan depannya dengan jumlah 250 ribu orang tentara itu, telah dikalahkan dalam serangan mendadak yang diluncurkan oleh tentara Jin di sekitar kota Shouchun, sampai sekian banyak nyawa yang tewas. Kekalahan itu menyebabkan tentara Qianqin merasa sangat takut sehingga hilang semangat untuk berjuang, malah ingin melarikan diri.

Pada saat itu, Fu Jian yang berada di atas tembok kota Shouchun itu, melihat pasukan Jin yang segak bergaya dengan semangat perjuangan yang cukup membara. Ketika memandang ke arah Gunung Bagong di sebelah utara pula, beliau merasa bahwa rumput dan pohon di gunung itu semuanya nampak seperti tentara musuhnya. Beliau merasa sangat takut, dan bertitah kepada adiknya:

"Alangkah hebatnya musuh kita! Siapalah yang mengklaim kekuatan militer mereka tidak cukup hebat?"

Fu Jian merasa sesal sekali karena telah memandang rendah terhadap lawannya sehingga mengalami kerugian yang begitu besar.

Inilah asal usul peribahasa "Cao Mu Jie Bing" mulai digunakan untuk menggambarkan betapa buruknya kekalahan yang dialami oleh tentara yang dipimpin oleh Fu Jian itu. Peribahasa "Feng Sheng He Li", atau "terkejut ketika terdengar deruan angin dan suara burung jenjang", membawa arti yang sama dengan "Cao Mu Jie Bing". , Atau "terkejut ketika terdengar deruan angin dan suara burung jenjang", membawa arti yang sama dengan "Cao Mu Jie Bing". Kedua peribahasa ini berarti psikologis pada seseorang yang mudah terkejut atau merasa takut dengan sesuatu yang dibayang-bayangkannya.

 Sb : yinnihuaren

YI MING JING REN

Pada zaman Negara Berperang, negara Qi diatur oleh raja Qiwei. Namun, beliau selalu bersikap acuh tak acuh terhadap urusan negara, dan asyik menghabiskan waktu dengan minum arak dan makan sepuas-puasnya sambil ditemani selir-selir yang cantik, sehingga keinginan dan cita-cita luhur yang ditunjukkannya ketika naik tahta bertahap pudar. Kondisi ini menyebabkan negara Qi berada di ambang kehancuran.

Pada saat itu, ada seorang pejabat bernama Chunyu Kun yang sangat bijak dalam menggunakan metafora ketika memberikan nasihat kepada raja. Kebanyakan rekomendasi yang dikemukakannya selalu diterima oleh raja. Karena Raja Qiwei sangat suka akan teka-teki, Chunyu Kun mencoba memikirkan cara yang bijak.

Pada suatu hari, ketika menghadap Raja Qiwei di istana, dia berkata:

"Hamba ada satu teka-teki yang ingin hamba bagi dengan tuanku. Ada seekor burung besar yang tinggal di istana ini. Namun, burung itu tidak hanya tidak ingin mengembangkan sayapnya untuk terbang, malah tidak pernah membuka mulutnya pun untuk berbunyi. Cobalah tuanku teka burung apakah itu. "

Raja Qiwei segera mengerti bahwa tujuan sebenarnya Chun Yukun berbagi teka-teki itu dengannya adalah untuk menyindirnya sebagai seorang pemerintah yang tidak berupaya untuk berbuat apa-apa pun. Setelah berpikir beberapa lama, beliau bertitah dengan penuh yakin:

"Meskipun burung itu tidak ingin terbang sekarang, namun, setelah mengembangkan sayapnya, ia akan ke langit biru. Walaupun ia tidak ingin berbunyi sekarang, namun, setelah membuka mulutnya, bunyinya akan mengguncang dunia. Tunggu saja ya!"

Sejak itu, Raja Qiwei mulai berkonsentrasi penuh ke urusan negara. Di bawah pemerintahannya, situasi di negara Qi membaik. Akhirnya, negerinya berhasil bangkitlah kembali menjadi sebuah negeri yang disegani tetangga dan digeruni musuh

Catatan Keterangan:

Peribahasa "Yi Ming Jing Ren" ini digunakan untuk menyindir orang atau golongan yang tidak tahu menghargai bakat dan kemampuan yang dimiliki mereka. Namun, jika mereka menggunakan bakat mereka dengan baik, mereka pasti akan berhasil yang cemerlang.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing

Sabtu, 29 Januari 2011

Cara Orang Jaman Dulu Memprediksi Cuaca


Prediksi Cuaca
Prediksi Cuaca
Pepatah Kuno Tiongkok: Kemilau pagi pertanda hujan, sedangkan kemilau senja menunjukkan sebuah hari yang cerah.


Orang Tiongkok kuno mampu memprediksi cuaca dengan keahlian alami mereka. Karena bebas dari budaya modern, musik rap, heavy metal dan pengaruh lainnya, kemampuan alami mereka jauh lebih berkembang. Budaya pada waktu itu lebih beradab dan hamonis, di mana orang orang meluangkan waktu lebih banyak untuk kontemplasi diri dan meditasi.

Pada jaman Dinasti Shang, orang-orang menggunakan sistem sensor melalui mata dan pendengaran untuk memprediksi cuaca. Sebagai contoh, kemilau matahari tenggelam yang berwarna merah mengindikasikan cuaca cerah di hari berikutnya

Hal lain yang secara umum digunakan untuk memprediksi cuaca adalah binatang. Bagi kita yang memiliki anjing, kita semua tahu bahwa anjing akan mulai berlaku ganjil sesaat sebelum badai hujan terjadi. Pada momen tersebut, anjing akan mulai merasa malas dan ingin tertidur.
Tetapi, beberapa menit sebelum gempa atau badai terjadi, anjing akan menggonggong tak menentu. Adalah pada dinasti Zhou di mana memanfaatkan berbagai binatang untuk prediksi cuaca, menjadi suatu hal yang umum.  Studi mengenai perilaku binatang terbukti menjadi cara yang efisien untuk memprediksi cuaca. Dengan cara ini, orang jaman dahulu bisa bersiap untuk sebuah cuaca yang buruk atau menyongsong hari yang indah. (Erabaru/ana)

Legenda Perjodohan


Tali Jodoh
Tali Jodoh
Hampir setiap orang di dunia ini memilik pasangan dan ada yang akhirnya menikah atau pun tidak walaupun sudah bersama dalam waktu lama. percayakah Anda bahwa sebuah pernikahan ditentukan oleh jodoh, ini ada salah satu legenda yang bisa membuktikan hal tersebut.
Pada zaman Dinasti Tang, ada seseorang laki-laki bernama Wei Gu. Suatu hari ia pergi ke wilayah Songcheng.
Pada malam harinya, ia melihat seorang laki-laki tua sedang membaca buku besar dan sangat tebal, membawa tas besar berisi banyak benang merah duduk di bawah sinar bulan.
Dengan penuh penasaran dia bertanya pada laki-laki tua itu, “Orang tua, bisa anda jelaskan buku apa yang anda baca ini?”
Laki-laki tua itu berkata, “buku ini berisi tentang perjodohan antara laki-laki dan perempuan di seluruh dunia.”
Wei menjadi lebih terkejut dan bertanya: "Lalu apa maksud benang merah di tas besar Anda ? "
Orang tua tersenyum dan berkata: "Benang merah ini digunakan untuk mengikat kaki 
setiap pasangan. Jika mereka yang diikat dengan benang merah, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, pada akhirnya mereka tetap akan menikah. "

Gu Wei tidak percaya, tapi dia masih penasaran tentang orang tua ini. Ketika 
dia ingin bertanya lagi, orang tua itu berdiri dan berjalan menuju 
pasar dengan membawa buku dan tas miliknya. Wei mengikutinya.
Ketika orang tua itu melihat seorang wanita buta yang membawa seorang gadis berumur tiga tahun di jalan, ia berkata kepada Wei: "Gadis muda ini akan menjadi istri Anda di masa depan." Kemudian orang tua itu lenyap.
Wei kaget dan marah, kemudian memerintahkan pelayannya untuk membunuh anak tersebut. Pelayan itu segera menjalankan perintah tuannya, kemudian melarikan diri.
Setelah 14 tahun berlalu, Wei mempunyai tunangan, putri dari Wang Tai 
(Gubernur Xiangzhou). Gadis itu sangat cantik dan baik hati, namun ada sedikit bekas luka di alisnya. Mereka akan segera melangsungkan ikatan perkawinan.

Suatu hari Wei bertanya kepada bapak mertuanya tentang bekas luka yang dimiliki istrinya.
Wang mengatakan putrinya ditikam seseorang, ketika dia dibawa oleh pengasuhnya di sebuah pasar. Karena segera menyelamatkan diri, ia tidak mengalami luka serius, hanya punya luka di alisnya.
Wei tegang dan bertanya: "apakah pengasuh itu buta?" Wang mengatakan: "ya, tapi bagaimana Anda bisa tahu itu? "Kemudian Wei memberitahu Wang, dia menceritakan tentang dirinya dan orang tua yang ditemuinya di Songcheng. Wang sangat terkejut akan hal ini.
Wei dan istrinya memahami perkawinan mereka telah diatur oleh ikatan perjodohan. Jadi mereka sangat menghargai pernikahan mereka dan hidup bahagia. 
(Erabaru/ngrh)


Xiao Yan, Kaisar Wu Dari Dinasti Liang ShanXing


Xiao Yan, Kaisar Wu
Xiao Yan, Kaisar Wu
Xiao Yan, nama julukannya, Shuda, hidup di masa periode Dinasti Selatan (420-589) (ket: salah satu zaman transisi dari dinasti Jin ke dinasti Sui). Beliau dilahirkan pada tahun 464 Masehi di Zhongdouli, daerah Nanlanling (sekarang kabupaten Wujin di Propinsi Jiangsu ). Xiao Yan adalah Kaisar Wu dari Dinasti Liang (salah satu dinasti di zaman dinasti selatan).


Xiao Yan merupakan seorang sosok yang berbakat

Xiao Yan merupakan seorang keturunan dari Perdana Menteri Xiao He dari Dinasti Han. Xiao Yan hidup selama 86 tahun dan memerintah kekaisaran-Nya selama 48 tahun. Diantara Kaisar-kaisar Tiongkok terdahulu setelah Kaisar Qin Shi Huang(259-210 SM, Kaisar pertama setelah Tiongkok disatukan), Xiao Yan merupakan Kaisar Kedua yang berumur cukup panjang.
Xiao Yan merupakan Kaisar yang jarang ditemukan dalam sejarah Tiongkok karena kedua bakat sastra dan militer-Nya.
Menurut Zizhi Tongjian(diartikan secara harafiah: “cermin komprehensif untuk membantu pemerintah”, sebuah buku catatan sejarah Tiongkok yang terkenal, yang ditulis oleh seorang sejarawan ternama Sima Guang (1019-1086) yang mencatat tentang kisah pada Zaman 16 Kerajaan/16 Negara dan merentang hingga 1363 tahun): “Xiao Yan/ Sang Kaisar Wu dari Dinasti Liang merupakan seorang yang “terpelajar dan sangat mahir dalam menulis(menulis dengan kuas), ilmu Sastra,ilmu Yin Yang, Ramalan, Menunggang Kuda dan Memanah, menulis kaligrafi Cao(sebuah teknik menulis kaligrafi dengan gaya kursif) dan Li (lebih terkenal dengan LISHU, sebuah  teknik menulis kaligrafi yang lain), dan juga memainkan Go (atau lebih terkenal dengan nama I-GO,sebuah permainan mirip catur,tetapi dengan menggunakan biji putih dan hitam yang berasal dari Tiongkok)”.
Bakat alami sastra dan militer(perang)-Nya memberikan Dia sebuah reputasi yang gemilang, meski masih berumur 7 atau 8 tahun di saat itu.

Xiao Yan sangat cerdas dan sangat suka membaca, meski ketika Dia masih kecil, Dia sudah sangat berwawasan luas dan multi-talenta. Dia sangat berbakat dalam sastra. Di kala itu, Dia dan 7 orang teman-Nya dipanggil sebagai “ 8 sekawan”. 
Grup ini terdiri dari beberapa nama terkenal dalam sejarah seperti : Shen Yue, Xie Tiao, dan Fan Yun. Shen Yue adalah orang yang menulis SONG SHU (kitab catatan sejarah dari Dinasti Song), QI JI ( kitab catatan sejarah dari Dinasti QI), dan buku-buku yang lainnya di dalam sejarah. Xie Tiao merupakan seorang penyair yang terkenal. Tetapi bagaimanapun, diantara kedelapan orang ini, keberanian dan wawasan Xiao Yan lah yang paling menonjol dan diatas yang lainnya.

Seorang Kaisar yang memimpin selama 48 tahun di masa periode Dinasti-Dinasti Selatan


Xiao Yan merupakan kaisar yang memimpin selama 48 tahun. Dia memerintah paling lama diantara para kaisar yang lainnya pada zaman Dinasti-Dinasti Selatan.

Hasil pencapaian Xiao Yan dalam pemerintahan sangat memuaskan, meski telah menjadi seorang kaisar, Dia tetap mempelajari sebab-sebab runtuhnya Dinasti Qi sebagai pelajaran berharga buat Dia : Dia bekerja keras dalam menangani urusan negara.
Dia selalu bangun awal tiap harinya untuk membaca dan meninjau kembali laporan laporan yang diberikan sama bawahan-Nya tanpa memperhatikan waktu. Untuk memdapatkan masukan-masukan dari pihak lain dalam mencari orang-orang berbakat,Dia menaruh 2 kotak yang ditempatkan di depan gerbang istana. Satu kotak dinamakan Kotak Keluhan, dan satunya lagi disebut Kotak Saran/Usulan. Jika ada petugas kerajaan yang mempunyai prestasi baik, atau ada orang yang berbakat tetapi tidak diberi penghargaan atau dipromosi atas prestasinya  ; ataupun ada orang berbakat tetapi tidak dipergunakan oleh pemerintah, orang-orang dapat menaruh saran mereka kedalam kotak saran. Jika rakyat biasa ingin mengkritisi ataupun memberikan saran kepada pemerintah, maka mereka dapat menaruh kertas suara mereka kedalam kotak keluhan.

Xiao Yan memberikan perhatian penuh dalam memilih dan menunjuk pejabatNya. Dia berharap para pejabat pemerintah dapat berperilaku jujur, tidak korupsi dan merupakan seorang yang budiman. Dia juga membuat sebuah perintah/keputusan: Jika seorang  pemimpin dari sebuah wilayah yang kecil telah membuat sebuah kontribusi atau membawakan hasil yang memuaskan dalam pemerintahannya, dia dapat dipromosikan menjadi seorang pimpinan untuk wilayah yang lebih luas.
Jika seorang pimpinan dari sebuah wilayah yang luas dapat membawakan sebuah hasil yang memuaskan, dia dapat dipromosikan menjadi seorang prefektur(sebuah jabatan yang khusus dengan hak dan wilayah yang lebih luas waktu itu). Setelah perintah ini disebarkan, kinerja dari pejabat pemerintahan dan sistem pengangkatan pejabat di pemerintahan Dinasti Liang mengalami kemajuan pesat.


Sepenuh Hati Meyakini Ajaran Budhime dan Berkeinginan Untuk Melepaskan Tahta


Zaman Dinasti-Dinasti Selatan merupakan sebuah zaman yang penting dalam sejarah perkembangan Budaya Budhisme di China. Kaisar Wu dari Dinasti Liang berkontribusi besar dalam menyebarkan Ajaran Budhisme, dimana membuat Budhisme menjadi tersebar luas di seluruh China bagian selatan. Pada Saat Dia Masih seorang Kaisar, Dia pergi ke kuil untuk menjadi biksu sebanyak 4 kali.  Akhirnya Dia menjadi “Kaisar biksu” pertama di China.

Xiao Yan telah menganut Daoisme (Taoisme) ketika Dia masih muda. Di tahun ketiga setelah Dia naik tahta, Dia memimpin 20,000 orang yang terdiri dari biksu-biksu dan rakyat biasa, untuk mengadakan sebuah pertemuan, dan pada waktu itu Dia menyatakan Dia “ telah melepaskan “ ajaran Taoisme dan beralih ke ajaran Budhisme”.
Dia berharap dapat menggunakan prinsip ajaran Budhisme dalam memerintah kekaisaranNya”, dan juga untuk membantu para rakyatnya agar dapat melepaskan keterikatan hati mereka akan nama dan kepentingan dan memperoleh kehidupan yang abadi.

Setelah Kaisar Wu menyatakan diriNya adalah seorang penganut ajaran Budhisme, Dia pergi untuk tinggal di kuil Tongtai sebanyak 4 kali. Di tahun 547,dia pergi ke kuil dan tinggal di sebuah kamar yang sederhana dengan kasur yang sederhana juga. Dia menggunakan teko, gelas dan mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Dia membaca kitab suci, dia memukul lonceng pada pagi hari, dan menabuh drum pada malam hari. Dia juga membersihkan kuil bersama dengan biksu-biksu yang lain.
Karena sebuah kekaisaran tidak bisa berdiri tanpa seorang pemimpin/Kaisar, bawahanNya memintaNya untuk kembali ke Istana untuk memimpin,tetapi di menolak, hanya setelah banyak bawahanNya memintaNya untuk kembali baru akhirnya Dia kembali ke istana.
Di tahun 529 bulan september,Dia mengadakan sebuah acara religius yang mengikutsertakan para biksu, biksuni penganut budha awam pria maupun wanita. Setelah selesai melakukan ritual bersama para bawahannya, dia memutuskan untuk tidak kembali lagi ke istana.
Malam itu, dia bermalam di kuil TongTai, hari berikutnya dia memberikan ceramah ajaran kepada 4 tipe kalangan rakyat (biksu, biksuni, penganut budha awam pria maupun wanita), Dia sekali lagi tidak berkeinginan balik ke istana meskipun banyak kali bawahannya membujuk Dia, hanya setelah bawahanNya (dari pejabat tinggi sampai yang pejabat rendah) mendonasi sejumlah besar uang senilai seratus juta untuk menebus Dia, dan membawaNya pulang pada bulan Oktober.
Di tahun 546 Kaisar Wu telah berusia 83 tahun, dan Dia kembali lagi ke kuil,dan akhirnya para bawahan mendonasikan uang sebesar 200 juta lagi untuk membawanya pulang ke istana, satu tahun kemudian dia kembali lagi ke kuil untuk keempat kalinya, Dia tinggal di kuil selama 37 hari lamanya. Dia sungguh berkeinginan untuk menjadi biksu meski Dia adalah seorang yang Kaisar yang terhormat. Lewat usahaNya dalam menyebarluaskan Budhisme, pengaruh budhisme bekembang pesat di China.
Selain itu penyebaran Budhisme mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Kaisar Wu dari Dinasti Liang,pada saat itu semua orang, dari Kaisar sampai keluarga-keluarga kerajaan,dari bangsawan hingga rakyat jelata,menganut ajaran Budhisme, Budhisme mengalami ketenaran yang belum pernah ada sebelumnya pada saat itu, dan menjadi agama utama di seluruh Tiongkok pada saat itu. (Erabaru/tan)

Asal Usul Tradisi Telur Merah Bayi Satu Bulan


Tradisi Telur Merah untuk Bayi Satu Bulan
Tradisi Telur Merah untuk Bayi Satu Bulan
Dalam budaya orang Tionghoa, bayi yang berumur satu bulan patut dirayakan. Orang tua yang berbahagia akan memperkenalkan kehadiran momongan baru mereka kepada teman dan sanak saudara mereka, sambil merayakan sebuah pesta telur merah dan jahe. Secara tradisi, nama bayi tersebut juga akan diberitahukan pada saat itu juga.
 
Tamu tamu yang menghadiri pesta telur merah dan jahe itu akan membawakan berbagai kado.  Angpao selalu diberikan kepada bayi laki-laki, sementara bayi perempuan akan mendapatkan berbagai perhiasan mahal. Para tamu undangan tidak meninggalkan pesta dengan tangan yang kosong. Orang tua sang bayi akan memberikan telur merah kepada mereka menandakan kebahagiaan dan sebuah permulaan hidup yang baru dengan hadirnya sang bayi.
 
Pesta telur merah dan jahe berasal dari budaya Tiongkok kuno. Sama seperti di negara negara lain, angka kematian bayi di Tiongkok zaman dahulu cukup tinggi sebelum berkembangnya ilmu pengobatan modern pada abad ke 20. Oleh karenanya, seorang bayi yang telah berusia satu bulan kemungkinan besar dapat bertahan hidup sampai dewasa, makanya diadakan sebuat pesta untuk merayakan hal itu.
 
Secara tradisi, masa nifas (umur bayi satu bulan/ ibu istirahat satu bulan setelah melahirkan tanpa keluar rumah)  ini juga merupakan saat yang tepat untuk mengenalkan kembali sang ibu kepada masyarakat luar, orang Tionghoa percaya bahwa ibu-ibu berada dalam kondisi tubuh paling lemah sepanjang masa hidupnya sehabis melahirkan. Sama seperti adat orang inggris yang meminta ibu ibu istirahat untuk beberapa waktu sehabis persalinan, ibu ibu orang Tionghoa secara tradisional telah melakukan istirahat di dalam rumah selama sebulan penuh sehabis melahirkan tanpa keluar rumah. Ini untuk memastikan agar mereka tidak jatuh dalam kondisi yang terlalu lelah, atau tidak terjangkiti oleh berbagai kuman penyakit dari dunia luar yang dapat membahayakan mereka pada saat tubuh dalam kondisi paling lemah. Selain beristirahat, mereka minum sup daging hasil rebusan dari kaki babi, telur, cuka dan jahe, kebanyakan dari ibu ibu muda masih mengikuti cara ini sampai sekarang.
 
 
Pada zaman dulu, sesuai dengan pentingnya anak laki-laki dalam tradisi orang Tionghoa, pesta telur merah dan jahe kadang-kadang hanya dirayakan kepada bayi laki-laki saja, atau perayaan buat bayi laki-laki lebih megah dibanding bayi perempuan, tetapi sekarang, pesta dirayakan untuk bayi jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.
 
 
Di tahun tahun terakhir, lingkungan/tempat merayakan pesta telur merah dan jahe telah mengalami perubahan.  Para  orang tua mungkin akan memilih untuk merayakan pesta tersebut  di sebuah restoran yang mewah. Para orang tua juga dapat menggunakan telur dengan warna merah muda (tidak harus merah tua) dalam perayaan itu  : telur dengan jumlah angka jamak adalah untuk bayi laki-laki : telur dengan jumlah angka ganjil adalah untuk bayi perempuan. Tradisi ini juga masih terlihat pada keluarga keturunan Tionghoa di Indonesia: pada saat bayi mereka berusia satu bulan, mereka akan mengirimkan paket telur merah dan ayam goreng (atau kue) kepada sanak saudara atau rekan-rekan yang memberikan kado kelahiran untuk sang bayi. (Erabaru/tan)

Kamis, 27 Januari 2011

SEMPOA - KALKULATOR PERTAMA DI DUNIA

Sebagai alat hitung tradisional Tiongkok dan sebuah penemuan penting pada masa Tiongkok Kuno, sempoa digunakan secara luas sebelum penemuan angka-angka Arab di dunia.

Sebelum penemuan sempoa, orang-orang zaman dulu menggunakan tongkat kayu kecil yang disebut “perhitungan kepingan”. Seiring dengan peningkatan jumlah perhitungan, perhitungan dengan tongkat kayu kecil gagal memenuhi tuntutan tersebut. karena itu, orang menemukan kalkulator pertama yaitu sempoa. Asal-usul sempoa dapat ditelusuri kembali pada 600 SM di periode Musim Semi dan Gugur. Penemu merangkaikan 10 manik-manik dalam satu kelompok dan dimasukkan ke dalam batang yang kemudian dibingkai. Perhitungan dapat dilakukan dengan menggerakkan manik-manik tersebut.

Sempoa berbentuk persegi panjang dengan bingkai kayu. Dalam bingkai, terdapat batang manik-manik. Balok di tengah-tengah bingkai membagi setiap batang menjadi dua bagian. Manik-manik di bagian atas melambangkan 5, dan sisanya di bagian bawah melambangkan satu.

Dalam penerapan sempoa, orang-orang membuat banyak tips perhitungan untuk membantu mempercepat perhitungan. Jenis metode perhitungan menggunakan sempoa disebut perhitungan sempoa. Oleh Dinasti Ming, perhitungan sempoa ini tidak hanya diterapkan untuk operasi penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, tetapi juga untuk mengukur luas tanah, bentuk dan ukuran dari berbagai objek.

Karena pembuatan sempoa sederhana, harganya murah dan cara perhitungannya mudah diingat dan dilakukan, sempoa digunakan secara luas di Tiongkok. Lambat laun, hal ini menyebar ke Jepang, Korea, Amerika Serikat dan Asia Tenggara, dan negara-negara lain dan ke daerah - daerah. Bahkan dalam penggunaan umum kalkulator elektronik modern, sempoa masih sedang digunakan dalam penjumlahan dan pengurangan untuk kenyamanan.

PERINTIS AUTOPSI PADA ZAMAN DULU CHINA

Pada zaman dahulu kala, ada seorang dokter kehakiman, bernama Songci. Dalam buku karangannya yang berjudul "Xiyuan Jilu" disebutkan, bahwa seorang dokter kehakiman harus teliti dan bertanggung jawab, harus turun tangan sendiri memeriksa nyawa orang yang terluka dan meninggal.

Dia menulis: "Harus mengisi sendiri formulir data yang disediakan, tidak boleh minta diisikan pejabat. Jangan mual terhadap bau jenazah dan menjauhinya, serta membakar pewangian untuk menahan bau itu. Jangan membiarkan pejabat memberi laporan semaunya dan mengisikan formulir, sehingga menyembunyikan yang penting-penting dan yang diisi hanya yang umum saja. Banyak yang dikurangi, sedikit tambahannya."



Jika pemeriksaan tidak benar, di samping belum terungkapnya perlakuan tidak adil terhadap korban yang meninggal, muncul lagi rasa diperlakukan tidak adil bagi yang masih hidup. Karena tewasnya satu nyawa, akhirnya berakibat dua bahkan beberapa nyawa ikut melayang, ketidakadilan dan dendam-mendendam bergulir tak habis-habisnya, maka tragedi ini tidak akan berakhir selamanya. Untuk menghindari agar tidak terjadi ketidakadilan dan kepalsuan, dokter kehakiman harus langsung turun tangan sendiri untuk melakukan pemeriksaan.

Songci pernah beberapa kali menjabat sebagai hakim tingkat tinggi, ketika menjabat di penjara di Provinsi Hunan, setiap kali bertemu dengan kasus kematian yang mencurigakan, dia selalu datang sendiri ke lokasi kejadian. Setelah dia mempelajari secara intensif karya ilmu kedokteran kehakiman pada dinasti masa silam dan memadukannya dengan pengalaman sendiri, tersusunlah sebuah karya berjudul: Xiyuan Jilu (Catatan Kumpulan Ketidakadilan Hukum). Tujuannya ialah untuk menghindari terjadinya kasus salah tuduh. Setelah buku diterbitkan, buku tersebut dianggap sebagai buku teladan bidang hukum, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Perancis serta Jepang dengan cepat dan beredar di mancanegara.

Semangat Songci yang serius dan sungguh-sungguh dalam mengautopsi dan pemeriksaan luka-luka, memberi pengaruh sangat mendalam bagi generasi belakangan. Ada seorang hakim dari Dinasti Qing di bawah pengaruhnya, datang menyelidiki ke lokasi kejadian perkara dan berhasil membongkar sebuah kasus pembunuhan yang sangat sulit dipecahkan. Kejadiannya begini: Ada seorang mati terbunuh di sekujur tubuhnya ada belasan luka celurit.

Saat itu tidak bisa terbongkar kasusnya. Penyidik datang langsung ke tempat kejadian, diketahui bahwa almarhum sebelum meninggal pernah bertengkar mulut dengan seorang peminjam uang, ia pun lantas menyelidiki tindak-tanduk peminjam uang secara diam-diam, setelah menguasai data perkara tangan pertama, lalu memutuskan untuk menyita seluruh celurit-celurit di daerah setempat secara mendadak, bagi yang tidak menyerahkan akan diusut secara hukum.

Maka penduduk pun menuruti perintah dan menyerahkan celuritnya, semuanya terkumpul sebanyak 70-80 buah. Waktu itu sedang panas terik, salah satu celurit yang dikumpulkan itu dikerumuni banyak lalat. Lantas ditanya siapa pemilik celurit itu oleh penyidik, di antaranya seseorang mengakuinya, orang tersebut adalah peminjam uang yang sudah lewat masa janji pengembalian. Lalu ditangkap untuk diinterogasi, tapi ia melawan.

Penyidik perintahkan supaya dilihat sendiri, tak tampak ada lalat pada celurit-celurit lainnya. Sekarang masih terdapat bercak darah di atas celurit dan dihinggapi banyak lalat, mana bisa ditutup-tutupi? Maka sang pembunuh itu langsung bertekuk lutut dan mengakuinya.

Dari sini dapat terlihat bahwa pemeriksaan dan penyidikan dokter kehakiman itu sedikit pun tidak boleh terlena, serta hanya mempunyai bukti yang kuat, baru tidak sampai salah menuduh orang yang tak berdosa dan melepas penjahat; Dan juga hanya dengan bukti yang kuat itulah, sang pelaku kejahatan baru bisa mengakui perbuatan jahatnya. [Yinnihuaren.blogspot.com]

Sabtu, 22 Januari 2011

TAHUN BARU IMLEK TIONGHOA

Siapa yang tidak mengenal perayaan tahun baru Imlek? Hampir seluruh warga keturunan Tionghoa yang berada di seluruh negeri turut merayakan tahun baru Imlek. Salah satunya adalah negara kita Indonesia. Sejak beberapa tahun lalu semenjak diresmikannnya tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional, para warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Indonesia mulai marak merayakannya dengan berbagai atraksi barongsai dan liong.

Diluar daratan China, Tahun Baru China lebih dikenal sebagai Tahun Baru Imlek. Kata Imlek (Im = Bulan, Lek = penanggalan) berasal dari dialek Hokkian atau dari Mandari yin li yang berarti kalender bulan. Perayaan Tahun Baru Imlek dirayakan pada tanggal 1 hingga tanggal 15 pada bulan ke-1 penanggalan kalender China.

Tahun Baru China hampir dirayakan oleh seluruh pelosok dunia dimana terdapat orang China, keturunan Tionghoa atau Pecinan. Banyak bangsa yang bertetangga dengan China turut merayakan Tahun Baru China seperti Taiwan, Korea, Mongolia, Vietnam, Nepal, Mongolia, Bhutan, dan Jepang.

Khusus di daratan China, Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan negara-negara yang memiliki penduduk beretnis Tionghoa, Tahun Baru China selalu dirayakan dan sebagian besar justru telah berakulturasi dengan budaya setempat.

Asal Mula Tahun Baru Imlek

Festival Musim Semi/Tahun Baru Imlek adalah hari raya terbesar dan terpenting di Tiongkok. Ia adalah hari pertama dalam kalender Imlek, dan biasanya jatuh di antara 30 Januari dan 20 Februari, merupakan awal musim semi, sehingga dikenal sebagai Chunjie(festival musim semi).

Festival tradisional ini juga adalah festival berkumpul; tak peduli seberapa jauh rumah seseorang, mereka akan berusaha kembali ke rumah untuk berkumpul dan makan bersama(chi tuanyuan fan).

Istilah dalam merayakan festival ini dalam bahasa Tionghoa adalah guo nian. Guo berarti “melewati” dan nian berarti “tahun”. Asal mula perayaan tahun baru Imlek berawal dari ribuan tahun lalu dengan berbagai perkembangan legenda dan tradisi. Menurut salah satu legenda yang paling terkenal, di Tiongkok zaman dulu hiduplah sebuah makhluk buas bernama Nian. Nian tinggal di dasar laut sepanjang tahun, dan ia naik ke daratan hanya pada malam tahun baru, untuk memakan hewan ternak dan membunuh manusia.

Maka pada setiap malam tahun baru, semua orang dari seluruh desa akan mengungsi, membawa serta orang-orang tua dan anak-anak, pergi ke pegunungan yang jauh untuk menghindari makhluk Nian. Pada suatu malam tahun baru, para penduduk desa bersiap-siap untuk bersembunyi. Tiba-tiba datanglah seorang pengemis tua dari luar desa, ia memegang tongkat dan membawa sebuah tas. Matanya berkerlip bagaikan bintang dan jenggotnya bagaikan perak.

Karena panik dan takut pada Nian, penduduk desa cepat-cepat melarikan diri. Beberapa orang menutup jendela dan mengunci pintu, beberapa berkemas-kemas, dan yang lain menggiring ternak. Semua orang berteriak dan kuda-kuda meringkik, tidak seorang pun memperhatikan pengemis ini.

Hanya seorang nenek yang tinggal di timur desa memberikan makanan kepada pengemis tua itu. Nenek ini juga menyarankan sang pengemis untuk mengungsi ke pegunungan untuk menghindari Nian. Tetapi pengemis tua sambil mengelus jenggotnya berkata dengan tersenyum, “Jika engkau mengizinkan saya untuk tinggal di rumahmu malam ini, saya pasti akan mengusir Nian.”

Nenek tua terkejut mendengar perkataan pengemis. Ia memandang pengemis dengan perasaan ragu, tetapi ia juga mendapati bahwa sang pengemis dengan rambut putihnya dan kulit yang kemerahan, memiliki sikap yang tidak seperti orang biasa. Nenek tetap menyuruh pengemis untuk melarikan diri. Tetapi pengemis hanya tersenyum tanpa menjawab. Maka nenek pun akhirnya meninggalkan sang pengemis untuk pergi ke gunung.

Sekitar tengah malam, makhluk Nian datang ke desa. Ia merasakan atmosfer yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Rumah nenek yang berada di timur desa bersinar dengan terang, dengan kertas merah menempel di pintu. Begitu kagetnya, Nian melolong dengan keras.

Nian menatap rumah itu dengan marah, lalu dengan auman keras ia menerjang rumah itu. Saat mendekati pintu, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras. Nian gemetar sekujur tubuhnya, ia tidak berani melangkah maju.

Ternyata warna merah, api dan ledakan adalah hal-hal yang paling ditakuti oleh Nian. Dan ketika pintu rumah nenek terbuka, pengemis tua dengan jubah merah sedang tertawa di halaman rumah. Makhluk Nian ketakutan dan lari tunggang-langgang.

Keesokan harinya adalah hari pertama di tahun yang baru. Ketika penduduk desa kembali dari tempat persembunyian mereka dan mendapati keadaan desa tetap aman, mereka sangat terkejut. Nenek tua baru sadar apa yang telah terjadi dan ia memberitahu penduduk desa tentang janji pengemis tua.

Penduduk desa berbondong-bondong menuju rumah nenek, tetapi pengemis tua telah pergi. Di rumah itu hanya tersisa kertas merah yang menutupi pintu, bara api dari tumpukan bambu masih mengeluarkan suara letupan di halaman, dan beberapa lilin masih menyala di dalam ruangan rumah.

Kisah ini segera tersebar luas dan semua orang membicarakannya. Mereka menyimpulkan bahwa pengemis tua itu pastilah orang dari kahyangan yang datang untuk mengusir bencana dan memberkati penduduk. Kertas merah, kain merah, lilin merah, dan ledakan petasan adalah senjata untuk mengusir makhluk Nian.

Untuk merayakan datangnya keberuntungan itu, penduduk desa mengenakan baju baru dan topi baru mereka, lalu mengunjungi saudara dan teman-teman untuk memberi selamat. Hal ini segera tersebar ke desa-desa sekitar, dan semua orang pun mengetahui bagaimana mengusir Nian.

Sejak saat itu, setiap malam tahun baru, tiap keluarga menempeli pintu rumah mereka dengan duilian(kuplet antitesis) yang ditulis di kertas merah, membakar petasan, dan menerangi rumah mereka serta tidak tidur sampai larut malam. Pagi-pagi sekali di hari pertama tahun yang baru, mereka pergi ke rumah kerabat dan teman untuk memberikan ucapan selamat. Kebiasaan ini telah diturunkan dari generasi ke generasi, menjadikannya sebuah perayaan yang paling meriah di kalangan orang Tionghoa.

Mitologi Tahun Baru Imlek

Berdasarkan cerita rakyat dan legenda kuno, tahun baru China dirayakan ketika orang China berhasil melawan hewan mitos yang disebut sebagai Nian yang berarti tahun dalam bahasa China. Makhluk Nian selalu muncul pada hari pertama Tahun Baru dan kedatangan Nian adalah memangsa hewan ternak, memakan hasil pertanian dan bahkan penduduk, terutama anak-anak.

Suatu ketika, seorang penduduk menyaksikan [satu/seekor/semakhluk] Nian ketakutan dan lari menghindar dari seorang anak yang berkostum merah. Dari kejadian itu, maka penduduk desa akhirnya tahu kekurangan Nian yakni takut pada warna merah.

Semenjak itu, setiap menjelang dan selama Tahun Baru, penduduk akan menggantung lentera merah serta memasang tirai/gordin merah pada pintu dan jendela. Selain itu, masyarakat juga menggunakan mercon untuk menakuti Nian. Sejak itulah, Nian tidak pernah lagi muncul di desa mereka.

Makna Tahun Baru Imlek

Terlepas dari mitos yang berkembang dikalangan masyarakat, perayaan Imlek merupakan perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina setelah melewati musim dingin dan mensyukuri permulaan musim baru penuh harapan yakni musim semi yang terjadi tiap tahunnya.

Perayaan imlek dimulai tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama (Cap Go Meh). Acara tahun baru Imlek ini diisi dengan acara sembahyang Imlek, sembahyang kepada Thian, dan perayaan Cap Go Meh.

Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.

Pada hari raya Imlek ini merupakan momen pertemuan seluruh anggota keluarga sekali dalam setahun. Anggota keluarga akan bersilahturahmi, saling berbagi dan menceritakan pengalaman masing-masing.

Tepat pada hari raya Imlek, semua orang berpakaian baru dan rapi sebagai lambang kehidupan dengan lembaran yang baru. Anggota keluarga akan saling memberikan ucapan selamat dan pengharapan baru agar di tahun yang baru, semua berjalan sukses baik dalam kesehatan, keuangan, pekerjaan maupun bisnis.

Perayaan Imlek pun disemaraki dengan pernah pernik dan ornamen berupa aksesoris yang berwarna merah, kue keranjang, angpao, lentera, petasan/mercon, tebu dan barongsai.

DEWA KEBERUNTUNGAN


Sebagai dewa keberuntungan yang dapat membawa kekayaan, dewa keberuntungan yang disembah oleh sebagian besar China. Setiap saat festival musim semi setiap keluarga akan menggantung gambar dari dewa keberuntungan untuk membawa berkat keberuntungan besar. Ini pada mulanya merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh pedagang, yang kemudian mulai populer di antara orang-orang lainnya dan desa. Selain itu, orang-orang dari waktu yang berbeda dan berbeda menyembah dewa keberuntungan daerahnya sendiri, seperti dewa sipil keberuntungan, dewa martial keberuntungan, dewa keberuntungan lima arah dan malaikat keberuntungan, serta satu ortodoks Zhao Gongming. Dewa keberuntungan dalam kepercayaan rakyat adalah bukan citra tunggal tetapi sesuatu muncul sebagai sebuah kelompok.

Dewa Sipil Keberuntungan atau Caibo Xingjun biasanya mengacu pada Bi Gan dan Fan Li, yang patung-patung dan lukisan tokoh berada di tampilan pejabat sipil. Ada juga Dewa Martial Keberuntungan - Zhao Gongming dan Guan Yu dalam tampilan wajah gelap dan jenggot tebal mengenakan topi besi dan baja mantel.

Para Dewa Keberuntungan Lima Arah didefinisikan sebagai Marshal Zhao Gong, Zhaobao (makna mengundang harta) Dewa Surga Xiao Sheng, Nazhen (berarti mengumpulkan harta) dewa surga Cao Bao, Herald mengundang keberuntungan Chen Jiugong, dan Lishi (berarti uang beruntung) pegawai dunia bawah Yao Shaosi bersama mengambil alih semua harta keberuntungan dan membawa nasih keberuntungan orang-orang.

Malaikat keberuntungan sering muncul dalam gambar anak memegang piring harta karun atau ingot emas dan tongkat ruyi melayani dewa sipil dan martial keberuntungan, yang sering divisualisasikan sebagai pegawai dunia bawah Lishi, yang mammon anak laki-laki, Liu Haichan dan dewa harmony.

Di beberapa tempat, tokoh-tokoh sejarah seperti Wansan Shen (seorang pangeran pedagang terkenal dan cerdas) juga disembah sebagai dewa keberuntungan. Dewa-dewa keberuntungan di Tibet Buddhisme juga banyak dianut oleh orang Tibet, yang meliputi raja keberuntungan surgawi, jambhala kuning, jambhala hitam dan jambhala putih. di Tibet dan wilayah Qinghai selalu diadakan sebuah kustom untuk berdoa bagi keberuntungan dengan pemujaan dewa keberuntungan.

Menyambut Dewa Keberuntungan

Hari kelima dari bulan pertama kalender lunar China dikatakan ulang tahun dari dewa keberuntungan dan juga merupakan hari baik untuk menyambutnya. Pada malam hari keempat bulan pertama, setiap rumah tangga diharapkan untuk mempersiapkan sebuah pesta untuk merayakan ulang tahun dan untuk siap mendapatkan hewan kurban, kue, buah, dupa, lilin dan lain-lain. Kemudian, orang memukul drum dan gong dan membakar dupa untuk membayar upeti kepada dewa keberuntungan. Pada pagi hari kelima, petasan yang meledak sebagai tanda menyambut dewa keberuntungan.

Ini adalah kustom untuk toko untuk menggantung kain merah di atas papan mereka dan untuk membeli emas atau ikan ingot perak, berharap untuk sebuah awal yang baik untuk bisnis makmur. Ikan ingot adalah string ikan berulir melalui punggung menggantung dari balok, dengan ikan kepala menghadap ke dalam. Kertas merah mengandung emas berbentuk sepatu atau perak ingot melekat ikan, menyimbolkan "membawa keberuntungan dan harta".

Penawaran Pengorbanan kepada Dewa Keberuntungan

Pada hari kedua dari bulan pertama kalender China, upacara pengorbanan diadakan di seluruh negeri, tetapi upacara berbeda dari suatu tempat ketempat lainnya. Di China utara, setiap rumah tangga menyambut dewa keberuntungan untuk keluarga dengan membeli potret dari dewa untuk beribadah. Persembahan kepada dewa harus disajikan setelah dupa dibakar.

penawaran umum meliputi ayam jantan, kepala babi dan hidup carps dan lain-lain Di China selatan, persembahan kepada dewa keberuntungan ditempatkan di total tiga tabel: tabel pertama adalah penuh buah, tabel kedua ini penuh dengan kue dan tabel ketiga menyajikan sebuah pesta formal yang meliputi kepala babi, ayam utuh, bebek utuh, ikan dan lain-lain, menunjukkan keinginan yang baik untuk mendatangkan keberuntungan.

The Zhao Dewa Kepala Gongming

Dari semua dewa keberuntungan disembah oleh orang-orang, yang paling berpengaruh adalah "dewa kepala" Zhao Gongming, yang juga dikenal sebagai marshal Zhao atau altar Zhao, digunakan untuk menjadi salah satu dewa di dunia bawah sebelum kaisar langit mengangkatnya untuk menyusun sebuah mezbah misterius, bertanggung jawab untuk diperdagangkan dan mengumpulkan keberuntungan di dunia fana. Jadi, dia telah dianggap sebagai dewa keberuntungan oleh rakyat.

Citra Zhao Gongming biasanya dihadapi pria gelap dengan janggut penuh, mengenakan topi besi dan jubah pertempuran, memegang cambuk berharga dan mengendarai seekor harimau hitam. Dia juga disebut "singa altar hitam yang misterius". Sekitarnya, ada cekungan mengumpulkan harta-, emas besar dan ingot perak, mutiara berharga dan karang yang meningkatkan efek penuangan masuk keberuntungan

Martial Dewa Keberuntungan - Guan Yu

Guan Yu adalah seorang jenderal terkenal dari negara shu pada periode tiga kerajaan. Dia setia dan berani dalam seluruh hidupnya dan karena itu disembah oleh umat Buddha, Tao dan Konghucu. Dia tidak akan mengubah prinsip ketika dibujuk dengan emas, perak dan harta. Dia adalah kontras dengan mereka yang akan prinsip-prinsip perdagangan keuntungan pribadi.

Biasanya orang, terutama pedagang mengagumi dan menghormati loyalitas, serta integritas Guru Guan Yu dan menghormatinya sebagai seorang santo pelindung pembuatan keberuntungan. Dalam beberapa tahun belakangan ini, semakin banyak orang menganggapnya sebagai malaikat pelindung serba untuk semua perdagangan serta dewa keberuntungan.

Dewa Sipil Keberuntungan - Gan Bi

Menurut catatan sejarah, Bi Gan adalah paman dari raja zhou dari dinasti shang. Dia adalah seorang menteri setia dan benar. Menurut Fengshen Yanyi atau penciptaan para dewa, hati Bi Gan digali oleh Daji, selir raja zhou yang paling disukai, tetapi ia tidak mati berkat obat mujarab yang ditawarkan oleh Jiang Ziya. Kemudian, Bi Gan pergi ke tengah-tengah orang awam untuk mendistribusikan harta karun.

Legenda mengatakan bahwa pedagang di bawah berkat Bi Gan semua begitu bisnis yang jujur, tidak pernah menipu siapa pun. Itu sebabnya Bi Gan secara luas dipuji dan disembah. Potret biasa Bi Gan adalah orang yang berpakaian seperti seorang pejabat sipil yang memakai topi kasa menteri dan jubah bordir, dengan ruyi (sebuah benda hias S-berbentuk, USU terbuat dari batu giok,. mantan lambang keberuntungan) dalam bukunya tangan dan emas atau perak ingot bawah kakinya.

Dewa Sipil Keberuntungan - Fan Li

Fan Li adalah seorang negarawan pemikir, luar biasa dan strategi dari musim semi dan gugur. Ia juga seorang pengusaha yang memiliki bakat untuk membuat uang. Setelah pengunduran dirinya, ia tinggal dalam pengasingan bersama keluarganya di Taodi, di mana ia mengumpulkan banyak keberuntungan meskipun pertanian, peternakan dan melakukan bisnis, menjadi orang yang sangat kaya. Kemudian, ia membagikan keberuntungannya kepada orang-orang lokal. kebijaksanaan bisnis operasi dan kemurahan hati-Nya sangat dipuji oleh orang-orang, yang menyembah dia sebagai Dewa Keberuntungan.

Sisi Dewa Keberuntungan - Lima-Jalan Dewa

Selain dewa bela diri dan sipil keberuntungan, dewa samping juga disembah di kalangan masyarakat. Nama dewa berasal dari posisi potret, yang sering ditempatkan di samping. Dewa sisi biasanya disebut apa yang disebut "dewa lima-jalan". Kelima jalan adalah timur, barat, selatan, utara dan tengah. Hal ini diyakini bahwa dengan berkat dari "dewa lima jalan", nasib baik akan datang kepada seseorang ketika ia pergi keluar.

Dewa Muda Keberuntungan

Dewa muda keberuntungan termasuk pasar agung-resmi meningkatkan, Haichan Liu, Twin dan lain-lain. Dewa Gambar dewa ini biasanya anak-anak memegang nampan harta atau emas (perak) ingot atau ruyi berdiri di samping dewa marshal dan dewa sipil keberuntungan.

Dewa Keberuntungan Buddha Tibet

Penyembahan dewa keberuntungan juga umum di Buddhisme Tibet. Ada berbagai macam dewa keberuntungan, seperti raja keberuntungan surgawi, Kuning Keberuntungan Dewa, Hitam Putih Keberuntungan Dewa dan Dewa Keberuntungan dll. Raja Payung Surgawi adalah salah satu dari empat raja surgawi dalam Buddhisme, juga bertanggungjawab atas manajemen keberuntungan. Ia memegang payung harta di tangan kanannya.

Seperti perhiasan dapat dihasilkan dari balik payung, raja surgawi juga disebut "Dewa Harta". Dewa Keberuntungan Kuning berasal dari Raja Payung Surgawi. Dia emas dari kepala hingga kaki, jadi dia disebut "Dewa Keberuntungan Kuning". Dewa Keberuntungan Hitam berevolusi dari dewa keberuntungan kuno India dan tubuhnya berwarna hitam. Dan Dewa Keberuntungan Putih adalah dewa lain yang bertanggung jawab atas keberuntungan di Tibet ajaran Buddha yang mengendarai seekor naga.
[Yinnihuaren.blogspot.com]

DEWA DAPUR 灶神

Dewa Dapur (Zàoshén), biasa disebut "Dapur pria (Zaojun)", "Kakek Dapur (Zaoye)" atau "Raja Dapur (Zaowangye)", adalah Dewa yang bertanggung jawab atas makan dalam legenda kuno mitis China.

orang umum di China menganggap Dewa Dapur sebagai abadi penting dan seorang pengawas yang ditunjuk oleh Kaisar Langit untuk mengawasi kebaikan dan keburukan, dan kontribusi dan utang yang dibuat oleh anggota setiap keluarga, dan melaporkan secara berkala kepada Pemerintah di Surga.

Awal Dewa Dapur berasal dari ibadah alami orang untuk api. Sebelum Dinasti Qin, pengorbanan dapur sudah menjadi salah satu dari "Tujuh Pengorbanan" upacara pengorbanan nasional.

Dalam Periode Musim Semi dan Gugur, Konfusius pernah mengatakan kepada murid-muridnya bahwa Dewa Dapur akan mengatakan sakit orang di Surga jika tidak berkenan. Untuk Dinasti Han, Dewa Dapur adalah anthropomorphized dan diberkati dengan fungsi baru.

Dewa Dapur, oleh karena itu, telah menjadi Dewa untuk mengawasi kesalahan yang dibuat manusia di dunia, membuat laporan kepada Kaisar Surga dan mengatakan sakit orang.

Jadi, orang membuat dapur pengorbanan setiap tahun. Selama pengorbanan dapur, sangatlah penting untuk menawarkan debu malt dan anggur, yang orang anggap sebagai persembahan yang bisa membuat Dewa Dapur menutup mulutnya.

Orang-orang dari semua lapisan masyarakat membayar hormat kepada Dewa Dapur selama upacara pengorbanan dapur. Menurut rekaman terkait, kaisar dari Dinasti Qing akan membuat pengorbanan dapur besar di Istana Bumi Tranquility, dimana tablet dari Dewa Surga dan Dewa Tanah akan diatur dan kaisar akan bersujud sampai ke tanah sembilan kali di depan tablet ini untuk berdoa bagi berkat tahun mendatang. Untuk pengorbanan kepada Dewa Dapur adalah untuk berdoa untuk kemakmuran.

Zaman dahulu, Gambar dari Dewa Dapur biasanya ditempelkan di dinding kotak angin kecil. Gambar Dewa Dapur, dikenal sebagai pegawai Dapur Timur, yang masih disembah oleh orang-orang saat ini, biasanya menunjukkan angka dari Dewa Dapur dan istrinya, yang duduk berdampingan.

Selain gambar, biasanya tertulis kuplet seperti "jika Dewa di surga berkata baik, dunia akan damai".

Di antara kalimat ini, baris kedua kadang-kadang diganti dengan "keberuntungan akan datang ketika kembali ke istana". Kalimat ini menyatakan aspirasi rakyat China untuk kebahagiaan.

ENGLISH VERSION

The God of Kitchen (Zaoshen), commonly called "gentleman Kitchen (Zaojun)", "Grandfather Kitchen (Zaoye)" or "King of Kitchen (Zaowangye)", is a God in charge of eating in China's ancient mythic legend.

Common people in China regard the God of Kitchen as an important immortal and a supervisor appointed by the Emperor of Heaven to supervise virtues and vices, and contributions and debts made by the members of every family, and report to the Heaven Government periodically.  

The early God of Kitchen came from people's natural worship for fire. Before the Qin Dynasty, kitchen sacrifice had already become one of the "Seven Sacrifices" of national sacrifice ceremonies.

In the Spring and Autumn Period, Confucius once told his students that the God of Kitchen would say ill of people in the Heaven if it were not well pleased. To the Han Dynasty, the God of Kitchen was anthropomorphized and endowed with new functions.

The God of Kitchen, therefore, has become a God to supervise mistakes made in the domain world, make reports to the Emperor of Heaven and to say ill of people.

So, people make kitchen sacrifice every year. During the kitchen sacrifice, it is absolutely necessary to offer malt dusts and wines, which people regard as the offerings that could make the God of Kitchen close its mouth. People from all walks of life pay reverence to the God of Kitchen during the ceremony of kitchen sacrifice.

According to related record, emperors of the Qing Dynasty would make grand kitchen sacrifices at the Palace of Earthly Tranquility, where tablets of the Heaven God and Land God would be set and emperors would kotow nine times in front of these tablets to pray for blessings of the coming year.

To sacrifice the God of Kitchen is to pray affluence.

Anciently, the Figure of the God of Kitchen was usually pasted on the wall of the small wind box. The picture of the God of Kitchen, known as the Officer of the East Kitchen, which is still worshiped by people today, usually shows the figures of the God of Kitchen and his wife, who sat side by side.

Beside the picture are usually corresponding couplets like "if Gods in heaven say well, the world will be peaceful".

Among this sentence, the second line is sometimes replaced with "Lucks will come when returning to the palace". These sentences expressed the Chinese people's aspiration for happiness.

[Disalin oleh Mei-Ing]
yinnihuaren.blogspot.com

LIMA MAKHLUK KEBERUNTUNGAN DALAM BUDAYA CHINA

Cari tahu apa arti simbolis dari beberapa binatang dari Legenda China berikut ini.

1. Pi Xiu


Pi Xiu juga disebut Bi Xie, yang berarti menangkal kejahatan, di bagian utara China. Ia merupakan salah satu binatang keberuntungan dalam budaya China. Ada beberapa macam dari jenis ini. Yang bertanduk satu disebut Tian Lu, dan yang bertanduk dua dikenal sebagai Bi Xie. Ia memiliki sayap pendek, ekor keriting, bulu tengkuk dan jenggot. Pi Xiu dianggap sebagai binatang keberuntungan karena semakin lebar membuka mulutnya semakin banyak uang yang ia dapat.

Semakin bulat perutnya, semakin banyak uang yang dikandungnya. Orang-orang menyukai Pi Xiu karena menandakan keistimewaan yang menonjol yaitu mempunyai mulut tetapi tidak ada organ pelepasan. Ia melambangkan tabungan, tetapi tidak menghabiskan uang. Orang sangat ingin seperti Pi Xiu, tidak menghabiskan banyak uang, atau tanpa henti mengejar kemujuran atau keberuntungan.



Pi Xiu umumnya dianggap mewakili pertukaran mata uang asing, saham, keuangan, balap kuda, masa depan, dan jenis-jenis saluran lainnya yang menghasilkan uang yang diatur oleh keberuntungan. Oleh karena itu, mereka yang berdagang akan menempatkan patung Pi Xiu di perusahaan atau tempat kerja di mana bisnisnya beroperasi. Namun, Pi Xiu tidak berlaku bagi siapa pun yang melanggar hukum atau melakukan kejahatan, karena merupakan makhluk spiritual.

2. Naga

Naga melambangkan hirarki rakyat China sejak zaman kuno, menyiratkan tumpuan bagi seorang kaisar. Legenda mengatakan bahwa sang Naga melahirkan sembilan anak: Anak sulung Qiu Niu menggemari musik, putra kedua Yai Zi suka membunuh, anak ketiga Chao Feng suka mengambil risiko, anak keempat Ba Xia suka menanggung beban berat, anak kelima Han Bi suka peradilan dan keadilan, anak keenam Chi Wen suka melahap, anak ketujuh Tie Tao suka makan, anak kedelapan Ni Jin suka kembang api dan anak kesembilan Lao Pu menyukai dering dan gema. Di antara mereka, penampilan fisik anak keempat berupa kura-kura dengan kepala mirip naga dan disebut kura-kura naga oleh rakyat.

Konon sang Dewi Nu Wa menopang langit runtuh dengan anggota badan Ba Xia. Karena kura-kura naga gemar menanggung beban berat, konon ia digunakan untuk menangkal bencana dan malapetaka bagi rakyat, menjaga tempat tinggal, dan membuat rumah berkembang, agar orang-orang diberkati nasib baik dan kebahagiaan. Naga dikaitkan dengan jenis kelamin laki-laki dan merupakan makhluk keberuntungan paling terhormat dalam pikiran orang-orang China. Ia juga berfungsi sebagai simbol ketahanan, kekuatan, keunggulan dan pengaturan kekayaan.

3. Phoenix

Phoenix adalah "Raja Burung" dan juga burung keberuntungan paling terkenal dalam China Kuno. Bentuk asli dari ayam dalam 12 binatang horoskop China adalah Phoenix. Mulanya Phoenix, juga dikenal sebagai Sun Bird atau Phoenix dalam Api, dikaitkan dengan maskulin sedangkan Naga dikaitkan dengan feminin, mewakili makhluk-makhluk perairan.

Namun semasa Dinasti Han, Kaisar Liu Bang secara pribadi mengklaim bahwa ia dilahirkan sebagai transformasi dari naga putih. Karena kaisar tersebut merupakan Putra Langit yang sebenarnya, Naga kemudian beralih peran menjadi Phoenix, dan berubah dari berkaitan dengan jenis kelamin perempuan menjadi jenis kelamin laki-laki.

Phoenix kemudian mengadopsi kualitas feminin dan menjadi simbol bagi permaisuri. Selama ribuan tahun, Phoenix melambangkan kecantikan, keberuntungan, kebaikan, ketenangan, kebajikan, alam, serta mengarah pada Kemahakuasaan Tuhan dan menganjurkan kultivasi umat manusia, membawa perdamaian dan kecerahan. Hal ini kadang-kadang digunakan sebagai metafora untuk menyatakan cinta setia antara suami istri, atau orang-orang yang diberkati pernikahan yang bahagia.

4. Kura-Kura

China sangat meyakini bahwa banyak rahasia langit dan bumi tersembunyi pada Kura-kura, karena pola yang rumit dan garis-garis pada cangkangnya. Oleh karena itu, Kura-kura telah menjadi makhluk misteri dan kultivasi budaya berlimpah.

Ia juga melambangkan umur panjang, karena umurnya yang sangat panjang. Biasanya orang menggunakan metafora "umur kura-kura" atau "umur bangau" untuk mengungkapkan bahwa seseorang akan hidup sepanjang umur kura-kura dan bangau. Sejak zaman dahulu, orang-orang percaya bahwa Kura-kura dapat membawa rasa keberuntungan, dan telah menjadi makhluk spiritual, bak peramal.

Menempatkan kura-kura yang terbuat dari batu giok di dalam rumah dapat mendamaikan Yin dan Yang, mengatur medan magnet alami, dan bertindak sebagai suplemen pengumpul keberuntungan. Sebuah kura-kura terbuat dari batu giok dapat juga berfungsi untuk menjaga tempat tinggal, untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan.

5. Qi Lin

Laki-laki disebut Qi dan perempuan adalah Lin. Figur khasnya adalah kepala naga, tanduk rusa, kuku kuda, ekor lembu, dahi serigala dan tubuhnya ditutupi dengan sisik dan kerang yang berwarna-warni. Legenda mengatakan bahwa di mana pun Qi Lin masuk akan membawa keberuntungan.

Dengan demikian mewakili "nasib baik". Dalam kebudayaan China tradisional, ia adalah simbol keberuntungan dan dinyatakan bahwa "Qi Lin mendatangkan masa kemakmuran". Orang percaya bahwa Qi Lin dianggap sebagai makhluk keberuntungan yang dapat menjauhkan kemalangan, menghalau kejahatan, menjaga tempat tinggal, serta mendatangkan keberuntungan dan promosi.

Qi Lin digunakan dalam berbagai peristiwa untuk simbol penghargaan, persahabatan, berkah, kebajikan dan kompetensi tinggi.

Rabu, 19 Januari 2011

Kisah Tragis Oei Hui Lan Putri Orang Terkaya di Indonesia


oei hui lan
 
Ternyata selama ini kita telah melupakan sejarah, bahwa di Jaman sebelum lahirnya Kartini. Ada putri Indonesia yang sangat begitu berpengaruh terhadap dunia. Dialah Oei hui lan atau dikenal dengan sebutan Madame Wellington Koo’. Hui lan adalah putri kelahiran semarang pada tahun 1889 ini adalah putri kedua dari keturunan perantau bernama Oei tiong ham. Oei tiong ham sendiri adalah orang terkaya di asia tenggara di tahun itu. dia menjadi tonggak sejarah perubahaan bangsa cina di bumi nusantara sebagai orang pertama yang berani melepas kuncil di rambut. Sejak saat itu banyak penduduk cina di nusantara berambut cepak dan bergaya eropa.Pengaruh Hui lan sendiri saat era Perang dunia pertama sangat dominan. Ia menikah dengan Wellington Koo salah satu duta besar China yang pada saat itu sedang babak belur di hajar Jepang. Hui lan adalah Putri Indonesia pertama yang mampu secara fasih melafarkan bahasa Belanda, English dan Francis. Ia menjadi orang yang berada disamping kemerdekaan China saat melepas Shantung dari penjajahan Jepang.
Sebelum Hindia Belanda berubah menjadi Indonesia, dia menjadi satu satunya orang Indonesia yang bergaul luas dengan orang orang kerajaan Istana Eropa mulai dari Ratu Viktoria hingga ratu Belgia. Fotonya menjadi satu satunya wanita Indonesia yang tercatat dalam musem kerajaan di English. Hui lan sendiri menjadi orang yang bertindak besar dalam sejarah dunia ketika ia bersama sang suami membawa Cina merdeka dan menjadi negara Rebupblik.
Ia begitu terpandang di eropa. Gaya hidupnya juga sangat elegan, mengingat ayahnya adalah orang kaya, ia bahkan dapat memiliki istana di beberapa negara termasuk rumah milik sang penemu telepon asal Amerika Graham bell dan Istana milik Sun yan Set , presiden Republik Cina pertama. Ia menjadi inspirasi bagi semua wanita asia tentang sebuah kemajuan dalam berpikir bahwa Wanita asia adalah orang yang dapat disejajarkan dengan wanita Eropa. Walaupun ia menikah dengan seorang pria China daratan tapi ia tetap mencintai tanah air kelahirannya. Bahkan sampai sekarang warisan keluarga dia masih bisa di lihat di semarang. Ia tetap berwarga negara Indonesia.
Hui lan meninggal di usia 93 tahun, ia mengeluarkan buku berjudul “ No feast last forever”. Kisah hidupnya yang bak telenovela dan banyak hal yang dia ceritakan dari negeri ini berdiri hingga negeri ini bernama Indonesia. Hidupnya juga tidak seindah yang ia bayangkan, walaupun ia kaya dan dapat memiliki segalanya. Ia tidak dapat menggunakan uangnya untuk Cinta dan kebahagiaan.
Ia ditinggal suaminya yang berpoligami, bersaudarakan 48 orang dari ayah yang memiliki 8 istri dan tragisnya kekayaan sang ayah akhirnya berujung pada perebutan kekuasaan dan intrik dalam keluarga. Dan pada akhirnya hartanya di sita negara pada masa pemerintahaan Soekarno.
Sungguh tragis. Buat baca kisahnya lebih lengkap
KISAH INI ADALAH KISAH NYATA PUTRI SANG RAJA GULA YANG IA TULIS DALAM BUKUNYA” TAK ADA PESTA YANG TAK BERAKHIR” . CUKUP MENARIK UNTUK DISIMAK DAN SEMOGA MEMBERIKAN ANDA ILHAM DALAM KEHIDUPAN..
OEI TIONG HAM ORANG TERKAYA DI ASIA TENGGARA
9
Oei Tiong Ham, yang dijuluki Raja Gula dari Semarang pernah jadi orang terkaya di Asia Tenggara. Ia juga berdagang candu. Berlainan dengan Tjong A Fie, ia tidak dikenal sebagai dermawan. Sekitar tiga dasawarsa yang lalu, putrinya Oei Hui Lan, bersama Isabella Taves, menulis memoar yang diterbitkan di Amerika Serikat. Dari buku berjudul No Feast Last Forever itu kita bisa tahu perihal kehidupan mereka, yang bisa membeli apa saja dengan uang mereka yang berlimpah. Namun apakah mereka berbahagia ?
Saya lahir di Semarang, Desember 1889 sebagai Oei Hui Lan, putri Oei Tiong Ham yang pernah dikenal sebagai Raja Gula dan oran terkaya di Asia Tenggara. Ibu saya istri pertamanya. Ibu hanya mempunyai dua orang anak, kedua duanya perempuan. Kakak saya Tjong lan, sepuluh tahun lebih tua dari saya. Ayah masih mempunyai 42 anak dari 18 gundik. Bagi orang Cina, anak gundik pun dianggap sebagai anak sah.
Saya duga, anak ayah lebih banyak daripada itu, tetapi cuma anak laki laki yang kelingkingnya bengkok yang diakuinya sebagai putranya. Kelingking bengkok diwarisi ayah dari ayahnya. Tjong Lan berkelingking bengkong. Kelingking saya lurus. Namun ayah tidak meragukan saya sebagai anaknya, sebab mana mungkin ibu saya serong dengan pria lain.
Wajah Kakek dianggap membawa Rezeki
Kakek saya Oei Tjie sien berasal dari Amoy, di daratan Cina. Pada masa mudanya ia senang bertualang. Ia terpelajar dan konon tampan seperti Raja Umberto dari Italia, tetapi seingat saya ia pendek dan gemuk.
Karena ikut pemberontakan Taiping, ia menjadi buronan pemerintah Mancu. Terpaksa ia kabur ke sebuah jung yang akan berangkat. Setelah berlayar berbulan-bulan, tibalah ia di Semarang, Jawa. Ia turun tanpa membawa uang sepeserpun dan pakaiannya hanya yang melekat di badan. Di tempat asing yang bahasanya sama sekali tidak dikenalnya itu, ia hanya bisa menawarkan tenaga mudanya.
Mula-mula ia bekerja di pelabuhan, menghela jung-jung yang kandas di lumpur. Ia menyewa penginapan murah tempat para pendatang Cina tidur menggeletak di lantai papan. Pada suatu malam, pemilik gubuk bambu itu melihat pemuda yang sedang tidur kelelahan itu. Wajah pemuda itu dianggapnya membawa rezeki. Pemilik gubuk kebetulan mempunyai banyak anak perempuan. Pemuda itu dibangunkannya untuk dilamar menjadi menantunya. Oei Tjie sien mau saja. Calon istrinya baru berumur 15 tahun, tubuhnya kuat dan sifatnya penurut.
Mereka menikah tanpa pesta apa pun. Perempuan muda itu bekerja keras membantu suaminya. Ia melahirkan tiga anak putra (yang seorang meninggal saat masih bayi) dan empat putri. Sementara itu Oei Tjie Sien keluar masuk kampung memikul barang kelontong. Kadangkadang dari kampung ia membawa beras untuk dijual di kota.
Lama kelamaan , ia menjadi makmur berkat beras. Dikirimkannya uang ke Cina untuk membeli pengampunan, sehingga ia bisa berkunjung ke cina, sekalian memperkenalkan putra sulungnya, Oei Tiong Ham, kepada orang tuanya. Petama kali diajak ke Cina itu, umur ayah baru tujuh tahun. Ia lahir 19 November 1866.
Potong Kuncir Lalu ke Eropa
Kakek berakar di Jawa. Anak-anaknya, bisnisnya dan bahkan makamnya pun ada di pulau itu. Namun ia selalu menganggap dirinya orang Cina dan disebut singkeh, tamu baru. Ia hidup seperti di Amoy, makan makanan Hokkian saja, berbahasa Hokkian saja (ia paham bahasa Melayu tetapi cuma bisa mengucapkan beberapa kata) dan selalu memakai pakaian cina. Karyawannya semua orang Cina, yang berhitung dengan sempoa.
Nenek saya tidak pernah keluar rumah, kecuali kalau ada upacara pembersihan makam keluarga. Kegiatannya cuma main mahyong dan kadang kadang mengisap pipa air. Ia tidak pernah mengunyah sirih, berlainan dengan nenek saya dari pihak ibu.
Namun kakek saya Oei Tjie Sein dan tanda tangannya pun Oei Tjie Sein. Namun ia ingin disebut Kiangwan. Perusahaannya disebut Kian gwan kongsi. Anehnya nenek saya menganggap dirinya Kong si. Jadi kalau menyuruh pelayan umpamanya, ia berkata ,”Kongsi ingin anu.” Kalu berbicara dengan ayah umpamanya, ia berkata Kongsi tidak suka anu.” Ayah juga kemudian memilih anam Tai gawan.
Menjelang lanjut usia, kakek lebih banyak berada di rumah peristirahatannya di luar kota, ketimbang di rumah lamanya di pecinan, walaupun kantornya tetap disana. Soalnya, ia mempunyai dua gundik yang ditempatkan di rumah peristirahatannya itu. Gundik yang seorang adalah seorang perempuan cina yang cantik, yang kulitnya putih mulus seperti porselin dan rambutnya hitam lebat. Kalau sanggulnya dilepas, rambutnya terurai mencapai mata kaki. Kakek lekas bosan kepadanya. Perempuan itu ditempatkannya di sebuah rumah kecil di lahan kakek yang luas itu. Makanan dan pakaiannya dicukupi. Keluarganya boleh menjenguk sekali sekali. Namun apalah artinya kalau kakek tidak pernah mengunjunginya. Saya heran perempuan muda itu bisa bertahan agar tidak menjadi gila.
Di rumah utama, kakek tinggal dengan seorang gundik yang paling dikasihinya. Perempuan itu berkulit hitam dan wajahnya buruk. Ia bertelanjang kaki, mengenakan sarung dan tidak bisa berbahasa Cina. Mereka memiliki dua orang anak yang kulitnya berwarna terang. Saya tidak pernah melihatnya, sebab ketika kakek meninggal ayah memberikan uang dan menyuruhnya pergi bersama anak anaknya, yang tidak diakui ayah sebagai saudaranya. Gundik kakek yang cantik dinikahkan dengan seorang karyawan ayah.
Nenek tidak penah diundang kakek ke rumah peristirahatannya. Walaupun nenek ingin sekali datang. Dekat rumah itu, kakek sudah menyediakan mausoleum untuk makamnya, yang dibangun selama 25 tahun. Nenek meninggal lebih dulu daripada kakek. Ketika kakek meninggal, ia mewariskan 10 juta gulden atau kira kira AS$ 7 juta. Buat ukuran jawa waktu itu, jumlah itu besar sekali.
Saat itu ayah sendiri sudah kaya. Jadi ia meminta kakek menyerahkan rumah besar di Pecinan kepada adik ayah, yang lebih suka menjadi seniman daripada pedagang. Adik-adik ayah yang perempuan mendapat warisan juga. Sejumlah uang disisihkan pula untuk menolong orang orang bermarga Oei yang memerlukan bantuan.
Sesudah kakek meninggal, ayah menjadi kepala keluarga besar kami dan kami pun bebas melakukan hal-hal yang tadinya dilarang kakek. Yang pertama dilakukan ayah adalah meminta izin khusus kepada penguasa Belanda untuk memotong jalinan rambutnya. Kami pun berkunjung ke Eropa untuk perama kalinya. Masa itu perjalanan dengan kapal makan waktu 35 hari. Bagi kakek, dunia ini cuma Cina, tetapi dunia ayah lebih luas.
Janda Yang Baik Hati
Sebelum ayah mulai berusaha mencari nafkah sendiri, ia membantu kakek. Salah satu tugasnya adalah mengumpulkan uang sewa rumah. Suatu hari, setelah berhasil menggantungi 10,000 gulden, ia lewat ke tempat perjudian dan tidak bisa mengekang nafsunya untuk berjudi. Uang bawaannya amblas.
Keluar dari rumah perjudian, baru ia insaf apa akibat kekalahannya di meja jugi itu. Ia tidak punya muka untuk berhadapan dengan ayahnya karena telah berani mempergunakan uang yang bukan miliknya. Kakek bukan hanya tidak suka pada perjudian, tetapi juga keras terhadap anak. Ayah merasa dirinya hina dan bermaksud menceburkan diri dari jembatan. Namun ia ingin mengucapkan selamat berpisah dulu dari kekasihnya, seorang Janda. Janda itu mendesak ayah untuk menerima uangnya sebanyak 10,000 gulden. Akhirnya, ayah mau juga menerimanya. Kebaikan janda itu tidak pernah dilupakan ayah. Ia bukan cuma mengembalikan uang itu, tetapi juga menjamin hidup janda yang menyelamatkan nyawanya itu.
Kakek selalu hidup hemat, ayah sebaliknya. Kakek sering memarahi ayah karena kesenangannya bermewah mewah itu. Suatu hari, karena kesel dimarahi, ayah berkata kepada nenek,“Suatu hari kelak, saya akan lima puluh kali lebih kaya daripada ayah.“Hal itu memang terlaksana.
Mulanya begini: Salah sebuah rumah milik kakek ditinggali seorang Jerman yang sudah lanjut usia. Mantan konsul itu ingin sekali membeli rumah dengan tanah luas yang mengelilinginya itu, tetapi kakek tidak mau menjualnya. Menurut orang Cina, menjual salah satu miliknya berarti kehilangan gengsi. Jadi mantan konsul itu mendekati ayah yang diketahuinya akan mewarisi rumah dan tanah itu.
Saya akan memberi Anda sejumlah uang yang bisa Anda tanamkan sekehendak hati,“usul orang Jerman itu.“Kalau uang itu amblas, saya tidak akan mengeluh. Kalau berkembang sampai sepuluh kali lipat atau lebih, berikanlah rumah dan tanah itu untuk saya pergunakan seumur hidup.
Pada dasarnya ayah seorang penjudi. Ia selalu yakin nasib baik berada ditangannya. Karena itu ia juga lebih suka mempunyai karyawan yang kepandaiannya sedang sedang saja tetapi rezekinya besar daripada memperkerjakan orang yang pandai yang tidak mempunyai hoki. Namun selain mengandalkan hoki, tentu saja ia juga pandai melihat situasi dan memanfaatkannya.
Tawaran dari mantan konsul itu sama saja dengan tantangan untuk berjudi. Jadi ia bertanya berapa jumlah uang yang akan diberikan oleh bekas konsul. Jawabannya mencengangkan dia: AS$ 300,000. Ayah segera setuju, tetapi tidak berburu nafsu menanamkan uangnya. Ia berpikir ayahnya menjadi kaya berkat beras. Jawa memang cocok ditanami padi, sementara itu tenaga kerja dan lahan murah. Tebu juga terbukti cocok ditanam di tanah Jawa. Jadi, ayah membeli lahan luas untuk ditanami tebu. Masa itu Revolusi Industri belum sampai ke Jawa, tetapi ayah sudah mendengarnya,. Ia mendatangkan ahli ahli dari Jerman untuk memberi nasihat perihal mesin mesin yang diperlukan untuk bercocok tanam dan mengolah tebu menjadi gula. Ia mendatangkan mesin mesin dan lewat mantan konsul ia juga mengirimkan pemuda pemuda ke Eropa untuk belajar menjalankan mesin mesin itu dan membetulkannya.
Suksesnya berkesinambungan sebab ia tidak pernah puas. Ia peka terhadap setiap pembaharuan dan gagasan, sehingga tidak henti hentinya menyekolahkan karyawan ke luar negeri supaya bisa mempelajari hal hal yang baru. Mesin mesinnya terus diperbaharui dan pabriknya mendapat aliran lsitrik lebih dulu daripada kediamannya.
Ayah berkata kepada saya,”Jangan mau jadi orang biasa biasa saja. Kita mesti menjadi orang nomor satu.” Kemudian ayah melebarkan sayapnya ke luar negeri dan ke bidang bidang lainnya seperti kopra. Sekali ia menunjukkan kepada saya perkebunan kopranya di luar kota Singapura. Saya berseru kagum ketika melihat tanaman indah itu. Ayah berkata,”Orang lain melihat pohon, aku melihat uang. Pohon kelapa tidak meminta banyak perawatan, tetapi mendatangkan banyak uang.”
Menurut saya, ayah bukan cuma berhasil berkat hoki, tetapi terutama oleh kepercayaan dirinya yang timbul karena ia menguasai bidang yang ia geluti. Akibatnya ia bisa cepat memutuskan segala sesuatu . Ia juga memiliki kepekaan untuk memilih waktu yang tepat.
Membuka Perwakilan di Wallstreet
Pada kunjungan kami yang pertama di Eropa, ayah membuka kantor perjualan di London dan Amsterdam. Untuk mewakilinya di Amsterdam, ayah memperkerjakan seorang Belanda bernama Peters, yang selalu saya panggil Pietro. Ayah mempunyai kapal-kapal sendiri untuk mengangkut gula, kopra, dan tepung kanji. Ayah yang tidak bisa berbahasa belanda, inggris, maupun Perancis itu kemudian membuka perwakilan di Wallstreet, New York.
Asal Muasal ia mengusahakan tapioka itu begini: suatu ketika seorang pemilik pabrik tapioka di Semarang ingin menjual pabriknya yang merugi terus. Ayah menukarkannya dengan sebuah rumah kecil. Pabrik itu diperbaikinya dan dilengkapinya dengan mesin mesin. Tidak lama kemudian ia sudah menjual 1,5 juta ton tapioka ke Asia Timur laut.
Ketika kakek meninggal, ayah menerima warisan rumah mantan konsul jerman itu. Sebetulnya ayah bisa membayar kembali uang pinjamannya beberapa kali lipat, namun ia menepati janjinya.
Bandul intan 80 karat
Ketika ayah saya menjadi kayaraya dan mendapat gelar kehormatan Majoor der Chinezen (1901) , saya sering ikut dengannya melakukan perjalanan perjalanan bisnis. Ayah berpesan kepada para sekretarisnya.,”Belikan dia semua yang diinginkannya”. Saya pun terbiasa untuk diistimewakan, untuk menyimpang dari peraturan yang berlaku dan untuk mengharapkan semua orang tahu bahwa saya anak ayah yang berkuasa.
Tidak ada seorang anak Belanda pun yang memiliki rumah boneka seindah kepunyaan saya. Tingginya sedagu saya, dibeli Pietro di Eropa. Saya bisa merangkak masuk ke dalamnya. Perlengkapannya komplet dan penuh detail. Di kamar mandinya ada handuk yang serasi. Ranjangnya memakai per dan kasur. Dalam lemari pakaiannya bergantungan pakaian boneka boneka saya. Di dapurnya ada panci, alat penggoreng, garpu dan pisau.
Di belakang rumah kami ada kebun binatang, berisi kera, rusa, beruang, kasuari, dll. Kalau ayah kembali dari bepergian, ia selalu membawa hadiah untuk saya spasang kuda poni, sepasang anjing chihuahua, boneka atau apasaja.
Umur saya belum tiga tahun ketika ibu mengalungkan bandulan intan 80 karat ke leher saya. Besar intan itu sekepalan tangan saya dan tentu saja menganggu gerak gerik dan bahkan menyakitkan saya. Namun ibu tidak perduli. Suatu hari ketika pengasuh memandikan saya, ibu melihat dada saya luka akibat intan itu. Barulah ibu melepaskannya. Sampai buku ini ditulis. Intan itu masih saya miliki, tersimpan di sebuah bank di London.
Jago Menyogok, tapi pantang disogok.
8711_smallKetika masih kecil, saya pernah ikut ayah ke Penang. Kakak saya Tjong Lan tidak dekat dengan ayah. Ia bahkan takut. Di Penang,s aya tinggal di kapal saat ayah turun ke darat. Kemudian datanglah seorang lanjut usia ke kapal, menyerahkan sekotak uang emas kepada saya, sambil membungkukkan badannya dalam dalam. Saya tidak tahu benda itu uang emas inggris, yg nilainya 200,000 poundsterling. Saya kira cuma mainan. Waktu ayah datang saya sedang bermain main dengan uang itu. Ayah bertanya darimana saya mendapatkannya. Ia segera menyuruh orang mengembalikan uang itu.
Rupanya pria lanjut usia yang naik ke kapal itu bermaksud menyogok ayah dengan memberi hadiah berharga kepada anak kesayangan ayah. Ayah pantang disogok, padahal ia sering menyogok pejabat pejabat Belanda supaya usahanya lancar.
Ayah juga tidak percaya kegunaaan pengawal pribadi. Ia lebih yakin pada caranya sendiri. Setiap tahun ia memberi sejumlah uang kepada kelompok bandit yang paling berpengaruh, untuk menangkal gangguan maling dan pembunuh. Usahanya berhasil.
Keluarga kami merupakan satu satunya keluarga Cina yang tinggal di luar pecinan. Masa itu kadang kadang orang Cina diolok olok anakanak belanda yang bubar dari sekolah. Ayah mempunyai cara untuk menanggulanginya. Ia turun dari kereta, lalu mendekati anak yang paling besar. Kelihatannya kami pemimpin mereka,”katanya seraya mengangsurkan sekeping uang emas.”Tolong urus mereka.”
Uangnya dikoporkan
Ayah selalu berpakaian rapi, di luar maupun di dalam rumah. Kalau keluar, ia selalu mengenakan setelan jas putih. Sepatunya pun putih. Di dalam rumah ia memakai celana dari bahan batik dan jas tutup cina.
Kejantanan dihargai tinggi di kalangan orang Cina. Seorang pria Cina boleh memiliki gundik sebanyak yang ia mampu. Kadang kadang istri pertama mencarikan gundik bagi suaminya, tetapi ibu saya tidak sudi melakukan hal semua itu. Ibu saya bernama Bing Nio, yang kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris sama dengan Victoria. Ia berasal dari keluarga Goei. Dalam keluarga itu, kaum prianya bertubuh besar, tetapi kaum perempuannya bertubuh kecil. Nenek moyangnya berasal dari Shantung, tetapi sudah bergenerasi generasi mereka tinggal di Jawa. Nenek saya melahirkan 5 putri dan empat putra. Kelima putrinya cantik-cantik. Yang paling cantik ibu saya. Kakek saya bekerja di bank dengan penghasilan tidak seberapa.
Nenek saya dari pihak ayah mencarikan gadis paling cantik di pecinan untuk dijadikan isteri ayah. Dari para comblang ia mendengar perihal kecantikan ibu saya. Jadi ketika ibu berumur 15 tahun, Nenek Oei mengirimkan tandu keemasan untuk menjemputnya. Tandu itu berarti orang tua phak laki laki menginginkan ia menjadi menantunya. Pengantin perempuan tiba di rumah mertuanya dengan ditandu oleh empat orang. Ia melakukan kowtow, yaitu berlutut dan menundukkan kepala sampai dahi menyentuh lantai di hadapan mertuanya. Sampai saat itu pengantin wanita belum pernah melihat calon suaminya, tetapi sejak itu hanya maut yang bisa melepaskannya dari ikatan pernikahan. Pada masa itu perceraian tidak pernah tejadi, kecuali kalau pihak perempuan melakukan salah satu dari tujuh dosa tidak berampun.
Ayah menerima saja tradisi ini. Tidak terpikir olehnya untuk menceraikan ibu yang tidak memberikan anak laki laki. Cuma saja ia terus menerus menambah gundik dan banyak di antara gundiknya itu yang memberinya anak laki laki. Ia juga tidak pernah tinggal dengan salah seorang gundiknya itu, sampai muncul seorang gundik bernama Lucy Ho, dalam hidupnya.
Karena tidak mempunyai anak laki laki, ibu terus menerus merasa dirinya memiliki kekurangan dan frustasi. Ayah tidak pernah menolak permintaaannya akan kebendaan, bahkan juga setelah ibu meninggalkan ayah untuk tinggal bersama saya di London. Ibu sering mengirim kawat untuk meminta uang.”Kirim empat,”artinya ia meminta 4,000 poundsterling yang masa itu setara dengan AS$ 25,000. Tanpa banyak cingcong, ayah akan mengirimkan uang sebanyak yang diminta.
Pernah ketika masih tinggal di Semarang, ketika saya berumur kira kira 12 tahun, saya terbangun oleh bunyi petir. Saya berlari masuk ke kamar ibu. Ia sedang duduk di ranjang, menghitung setumpuk tinggi uang di bawah kelap kelip lampu minyak. Saya begitu terpesona sampai melupakan ketakutan saya. Ibu tersenyum dan berbisik,”Ayahmu pulang membawa sekoper uang. Aku mengambilnya sebagian. Ia tidak pernah menyadarinya.
Saya heran mengapa ibu tidak meminta saja: Saya yakin ayah akan memberikannya. Mungkin ibu tidak mau ayah tahu untuk apa uang itu. Pada masa itu kami tidak pernah membawa bawa uang. Kalau kami menginginkan sesuatu, kami tinggal mengambilnya saja di toko dan pemilik toko akan menagihnya kepada ayah. Saya rasa ibu memberikan uang itu kepada keluarganya sendiri. Perempuan cina yang tidak mempunyai anak laki laki memang memerlukan segala cara untuk membangun egonya, kalau perlu dengan membeli. Kalau cuma untuk mencukupi kebutuhan keluarga secara wajar saja, saya yakin ia tidak perlu melakukan perbuatan itu. Namun kakek saya dari pihak ibu pecandu, sedangkan suami dari beberapa saudara perempuannya sering berurusan dengan pihak berwajib.
Ayah saya lahir pada tahun harimau, sedangkan ibu pada tahun naga. Mereka sama sama tidak mau tunduk. Namun ibu menyukai status sebagai isteri ayah. Ia mencintai perhiasannya. Di luar rumah ia dianggap tokoh penting. Kalau ia pergi menonton sandiwara, para pemain berlutut di hadapannya seusai pertunjukan. Lantas ibu akan memberikan tip yang besar sekali.
Kalau pulang bertamu dari rumah nyonya belanda, sering bajunya cuma disemat dengan peniti biasa, karena penitinya yang bertaburkan permata ia hadiahkan kepada nyonya rumah yang mengagumi perhiasannya itu. Ayah akan membelikannya yang baru. Yang perlu ia lakukan hanya meminta.
Bersaudara 42 orang
Saya tidak begitu kenal saudara ibu. Seorang saudara perempuannya, menikah dengan seorang pria yang cukup berada, tetapi tidak dikaruniai anak. Jadi, bibi saya itu mengangkat dua anak perempuan, yaitu anak saudara suaminya. Bertahun tahun kemudian, ternyata kedua anak angkatnya itu menjadi gundik ayah. Yang seorang Cuma bertahan sebentar, karena ia minggat dengan sopirnya, seorang pribumi. Adiknya tidak begitu cantik, tetapi tubuhnya indah dan ia pandai, namanya Lucy Ho.
Setelah ibu meninggalkan ayah untuk tinggal bersama saya di London, ayah dan Lucy Ho pindah ke Singapura. Ayah keluar dari Jawa untuk menghindari pajak. Lucy gundik yang penuh pengabdian. Ia mengurusi keuangan dengan cermat dan ia memberi anak kepada ayah setiap tahun. Anak laki lakinya banyak. Setelah tinggal dengan dia, ayah berubah. Walaupun uangnya tetap banyak, ia tidak hidup mewah seperti yang disukainya semasa di Jawa.
Ironisnya dari keluarga semacam kami ialah Putri Lucy yang sudah dewasa suatu hari ketika bertemu dengan putri Tjong Swan (Saudara saya berlainan ibu) di New York. Mereka jatuh cinta, tetapi tidak diperkenankan menikah oleh hukum AS, sebab ayah si pemuda adalah kakek si gadis. Mereka akhirnya menikah juga di Belanda. Mungkin hal itu bisa terlaksana berkat pengaruh Tjong Hauw., adik saya berlainan ibu juga.
Di antara 42 saudara saya tidak seibu, hanya Tjong Swan dan Tjong Hauw yang cukup dekat dengan saya. Keduanya diserahi mengurus usaha ayah di Jawa, ketika ayah sudah pindah ke Singapura. Tjong Hauw diperoleh ayah dari seorang perempuan yang ditipunya. Perempuan itu berasal dari udik. Ia tidak mau dijadikan gundik. Ia ingin dijadikan istri. Ayah setuju, perempuan itu dijemput dengan tandu. Namun di rumah tempat ia dibawa dilihatnya tidak ada pesta, tidak ada mertua. Walaupun demikian ia tidak bisa kembali ke orangtuanya sebab akan memberi aib. Hampir saja ia gila. Walaupun ia memberi ayah empat putra, ayah memperlakukannya dengan kejam. Sebelum ia disingkirkan, ayah menyuruhnya menjahitkan kelambu untuk gundik berikutnya.
Bandot
Sebelumnya ayah saya sudah menjadikan seorang janda sebagai gundiknya. Ny Kiam membawa serta adik perempuannya yang berumur kira kira sepuluh tahun dan seorang anak perempuannya yang berumur dua atau tiga tahun. Ny Kiam sangat mencintai ayah, tetapi ia tidak memberi ayah keturunan. Ketika adiknya berumur 15 atau 16 tahun, ayah menjadikannya gundiknya. Perempuan itu melahirkan lima anak laki laki dan empat anak perempuan.
Karyawan ayah menyebutnya isteri nomor dua. Di rumah kami tidak ada yang berani mempergunakan sebutan itu, karena ibu tidak menyukainya. Kenyataannya ia memberi ayah banyak anak laki laki. Ayah tidak menyukai putranya yang pertama karena sangat dimanjakan oleh ibunya. Ayah memilih putranya yang kedua Tjong Swan untuk menjadi andalannya di samping Tjong Hauw.
Lama setelah itu,, ketika saya sudah menikah dengan Wellington Koo dan singgah di Penang dalam perjalanan dari London menuju Beijing, dua orang perempuan wajahnya menyenangkan menemui saya,”Kami adik adikmu,”kata salah seorang diantaranya sambil tersenyum. Ternyata mereka itu putri putri ayah dari cucu Ny. Kiam. Rupanya ketika ayah sudah bosan pada istri nomor dua (adik Ny. Kiam), ayah menyingkirkannya untuk digantikan oleh anak Ny. Kiam, yang ketika ibunya menjadi gundik ayah masih berumur 2 atau 3 tahun. Putri Ny. Kiam itu mempunyai dua anak perempuan dan kedua duanya berkelingking bengkok. Kedua duanya menikah dengan orang berada. Kata mereka, nenek mereka masih tinggal di rumah pemberian ayah di Jawa.
Tahun 1927, Ketika saya kembali ke Jawa untuk menghadiri pemakaman ayah, Ny. Kiam mendekati saya dengan kemalu-maluan. Ia memanggil saya Nona dan menyerahkan gigi palsu ayah yang rupanya ia simpan bertahun tahun untuk dimasukkan ke liang kuburnya. Saya turuti kemauannya, sebab saya pikir ayah akan menganggapnya lucu.
Berlainan dengan Ny. Kiam, gundik yang dulu ditipu ayah itu, yang melahirkan Tjong Hauw, tidak datang ke pemakaman. Saya mengunjunginya di rumahnya. Saya lihat ia masih memakai pending bertatahkan intan pemberian ayah: Rupanya walaupun ia diperlakukan dengan buruk oleh ayah, ayah tidak membiarkannya telantar.
Saya ingat, semasa kecil, saya keras dibawa ayah ke rumah gundik gundiknya. Mereka tentu berusaha mengambil hati saya, supaya ayah senang. Namun, ketika ibu tahu, ayah dimaki makinya. Ibu kemudian minggat dari rumah dengan membawa saya. Saya sakit keras dan dokter yang merawat saya memberitahu ayah. Ketika itu ibu tetap tidak mau kembali. Ia baru pulang 2 bulan kemudian ke rumah kami yang seperti istana.
Menjamu Raja Siam
Rumah kami terletak di atas lahan yang luasnya lebih dari 93 ha. Rumah model cina ini mempunyai taman yang dirancang khusus dengan kolam kolam dan jembatan jembatan. Tukang kebun kami memiliki lima puluh anak buah. Dapur kami ada tiga. Ibu mempunyai juru masak sendiri, yang keahliannya memasak makanan Indonesia, sebab Ibu menyukai masakan indonesia. Ayah menyukai masakan Cina dan Eropa. Dapur untuk memasak makanan Eropa dikuasai oleh mantan koki kepala gubernur jenderal. Di situ tergantung daging impor dari Australia. Tidak seorangpun diperkenankan masuk ke sana oleh mantan koki gubjen itu. Saya pernah iseng memasukkan anjing besar ke sana yang lantas menggondol daging impor. Dapur ketiga diurus oleh dua orang koki Cina.
Jauh di belakang ada perumahan para pelayan. Masih ada lagi rumah untuk guru pribadi kami (nona Jones), koki kami, tukang pijit ibu, dan tukang cuci pakaian ibu. Untuk para tamu tersedia dua pavilyun.
Ayah sering menjamu dan perjamuannya tidak tanggung tanggung. Kami pernah menjamu raja Siam berikut haremnya. Kami pun pernah diundang makan di kediaman gubernur jenderal Hindia Belanda.
Tjong Lan dan saya tidak bersekolah di sekolah umum, padahal sebenarnya saya ingin memiliki teman teman sebaya. Paling paling saya bisa bermain ke rumah keluarga Belanda yang tinggal di lahan kami, Ibu pun tidak pernah mengundang anak saudara saudaranya ke rumah kami.
Banyak yang diundang, tidak ada yang datang
Ketika saya berumur 15 tahun, saya katakan kepada ayah, saya ingin mengadakan pesta dansa bergaya inggris, seperti yang saya baca di The Tatler. Ayah memperbolehkan. Memang saya diistimewakan, karena dianggap membawa rezeki, bintangnya naik terus setelah kelahiran saya.
Ayah menyewa 16 pemain musik yang dulu disewanya untuk perjamuan raja Siam. Kamar makan kami dan pavilyunpanjang disiapkan untuk berdansa. Ayah secara santai juga menyampaikan kepada para rekanan dagangnya agar mendatangkan anak anak mereka ke pesta saya.
Hari besar itu pun tiba. Para pemain musik datang dan menunjukkan kebolehannya, tetapi tidak ada seorang tamu pun yang datang. Saya menangis dan ayah marah sekali kepada para rekanannya. Kalau saya ingat lagi peristiwa itu. Saya pikir, kami juga yang salah. Mestinya kami mengirimkan kartu undangan resmi, sehingga mereka akan memberi tahu kalau tidak datang.
Untuk meredakan kemarahan ayah, pengacaranya Baron van Heeckeren mengusahakan agar putri putrinya mengadakan pesta dansa untuk menghormati saya, dengan mengundang teman teman Belanda. Saya yakin maksud mereka baik, tetapi saya terlalu angkuh untuk hadir.
Dicekoki Bahasa Inggris
Waktu kami pergi ke Belanda saya puasa juga karena ternyata Bahasa Belanda saya lumayan. Kemudian ketika sudah menjadi isteri Wellington Koo dan suama saya dijadikan duta Cina di AS, bahasa Belanda itu masih ada gunanya. Pernah kami mengundang pemain film termasyhur waktu itu Tyrone Power dan isterinya Linda Christian. Linda yang pemalu itu berasal dari Belanda. Ia begitu tercengang mendapatkan isteri duta Cina bisa berbahasa Belanda.
Di Rumah , ayah biasa berbahasa Hokkian, tetapi dengan saya ia berbahasa Indonesia. Bahasa pertama yang saya pelajari lewat pengasuh saya. Kemudian kakak saya mendapat pengasuh yang diimpor dari Prancis dan kami belajar bahasa Perancis. Ayah meminta Pietro mendatangkan guru pribadi buat kami dari Eropa dan datanglah seorang Inggris, Nona Elizabeth Jones yang mencekokkan bahasa Inggris kepada kami. Akhirnya saya lancar berbahasa Inggris dan tetap menjadi anak didiknya sampai saya meninggalkan jawa untuk tinggal di Inggris pada umur 15 atau 16 tahun.
Lewat tengah hari, kalau Tjong Lan dan saya sudah selesai belajar dari Nona Jones, datanglah pelbagai guru pribadi. Ada yang mengajarkan kaligrafi, seni berbicara, tarian cina klasik dan juga musik. Ibu ngin anak anaknya tidak pemalu dan pandai bergaul, supaya bisa memperoleh suami yang hebat. Saya pun disuruh belajar menunggang kuda di Singapura.
Tjong Lan lebih tertutup daripada saya. Ketika masih berumur belasan tahun, ia jatuh cinta dntgan seorang dokter muda. Ibu melakukan penjajakan lewat comblang. Ternyata keluarga pria itu ingin ayah membiayai praktek putranya. Ayah marah, ia tidak mau membli menantu. Kalau saja Ibu mau menolong Tjong Lan, mungkin ayah bisa dibujuk, tetapi ibu sependapat dengan ayah.
Mula mula Norak
Ibu tidak suka ikut dengan ayah meninjau perkebunan, tetapi saya sering dibawa serta. Ibu baru ikut kalau ayah pergi ke luar negeri. Waktu kami sekeluarga pergi ke Eropa untuk pertama kalinya, kami membawa serta beberapa pelayan. Pietro menjadi juru bahasa ayah dalam mengadakan pelbagai transaksi, sedangkan isterinya yang bisa berbahasa Indonesia sedikit, mengantar ibu dan Tjonglan berbelanja.
Ibu menyingkirkan pakaian Cinanya untuk diganti dengan pakaian Eropa. Masa itu kami jauh dari anggun. Kemana mana kami beriring iringan dengan beberapa mobil atau kereta. Selera Pietro pun tidak halus, padahal kami mengandalkan petunjuknya. Kami tinggal di hotel hotel kelas dua seperti Charing Cross di London dan Grand di Paris, meskipun seluruh lantai diborong. Ketika kami ke AS , ayah sudah berpengalaman. Kami tinggal di Waldorf Astoria.
Setahun lamanya kami tinggal di Luar negeri. Ayah dan Pietro bekerja sedangkan ibu dan Tjong Lan keluar masuk toko. Ibu tidak mau membeli barang sembarangan. Ia selalu ingin paling top. Kalau sudah bosan berbelanja, mereka masuk ke salon kecantikan. Malamnya, ibu, ayah, Tjong Lan dan Pietro makan di restoran dan pergi ke kelab malam. Sementara itu saya kesepian di hotel. Kadang kadang saya ditemani oleh Ny. Pietro. Sementara itu para pelayan makan makanan Indonesia yang mereka masak sendiri. Bahan bahannya dibelikan oleh Pietro.
Lama kemudian, ketika saya sudah menjadi isteri Wellington Koo, saya sering geli mengingat betapa naif dan tidak anggunnya kami masa itu. Saya membayangkan betapa tercengangnya orang orang Eropa melihat ibu dan Tjong lan keluyuran memakai perhiasan Intan, mirah dan Zamrud serta seenaknya memesan barang mahal tanpa menanyakan dulu harganya.
Mobil Ditarik Sapi.
Ketika kami masih tinggal di Semarang, Tjong Lan yang waktu itu berumur 18 tahun dijodohkan dengan putra teman ibu. Teman ibu di Jakarta itu mempunyai putra yang baru pulang dari Belanda. Ia lancar berbahasa Belanda, Inggris dan Perancis. Namanya Ting Liang dari keluarga Kan yang kaya dan terkemuka. Mereka menikah di rumah kami. Keluarga ibu tidak diundang, sebab ayah marah kepada mereka.
Setelah Tjong Lan menikah, ibu bercerita kepada saya bahwa ia menguatkan hatinya untuk tetap tinggal di rumah kami, supaya Tjong Lan bisa menikah di rumah itu. Tjong Lan dan suaminya pergi ke Eropa selama setahun dan ketika kembali mereka membawa mobil kecil buatan perancis. Masa itu belum ada mobil di tempat kami. Suatu hari saya mencuri curi mengendarainya dan menabrak pohon.
Begitu melihat mobil Tjong Lan, ayah segera memesan mobil Lancia yang besar dari Inggris, untuk mengemudikannya, ayah mendatangkan sopir dari Jakarta, yang berpengalaman mengemudi di Singapura. Bila dipakai di jalan rata, Lancia itu tidak merongrong, tetapi begitu mendaki bukit ia tidak kuat menanjak, sehingga sopir harus pergi meminjam 4 ekor sapi untuk menghelanya ke rumah kakek atau ke pesangrahan ibu.
Kemudian ayah mengimpor sopir dari Inggris, namanya Powell. Anehnya, sejak dikemudikan Powell, mobil itu bisa menanjak tanpa bantuan ternak. Jangan jangan sopir lama tidak tahu kalau mobil perlu ganti gigi supaya bisa menanjak.
Tjong Lan tinggal dalam sebuah rumah dalam lingkunganhalaman kami juga. Para pelayannya semua dari rumah kami, makanan untuknya dan untuk suaminya dibawakan dari tempat kami. Sya bisa mengerti kalau suaminya tidak betah dan tidak mau bekerja di perusahaan ayah. Ia ingin menjadi dokter dan ayah mengirimkannya ke Eropa. Waktu itu mereka sudah mempunyai bayi, Bob Kan. Seingat saya ipar saya kemudian tidak pernah membuka praktik. Anak mereka kemudian belajar di Eropa di Eton (sekolah menengah mahal dan berprestise di Inggris) dan kuliah di Cambridge Inggris.
Ketika ayah sakit, doktenya mengusulkan agar ayah beristirahat di Eropa. Sekali lagi ibu dan saya ikut. Pietro sudah pensiun tetapi ayah mempekerjakannya lagi setahun. Ia menyewakan rumah bagi kami di Paris. Sekali ini bahasa Prancis saya sudah bisa diandalkan untuk menjadi penerjemah ibu. Ibu lebih mempercayai selera kakak ipar saya daripada selera Pietro. Ia begitu jatuh hati kepada menantunya, sehingga kakak saya dibelikannya sebuah rumah besar yang dilengkapi beberapa pelayan di Wimbledon Inggris.
Ketika ayah, ibu dan saya pulang ke Jawa, saya merasa kehidupan saya tidak kembali seperti semula. Ibu sudah tidak tahan tinggal di Semarang, sebab gundik gundik ayah mempunyai sejumlah anak laki laki yang meningkat dewasa dan merekalah yang akan mewarisi perusahaan ayah. Apalagi kemudian ayah menyingkirkan semua gundiknya demi Lucy Ho. Namun tentu saja tidak terlindak dalam pikiran ibu untuk bercerai.

Kini saya berpendapat, berkenalan dengan kaum ningrat dan orang berduit
tidaklah penting. Otak dan kepribadian lebih penting. Kita bisa
menderita akibat haus kekuasaan, tetapi kita bis mendapat kesenangan
dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita seharusnya
menghargai orang orang lain dan hidup ini. Seperti kata ibu, kita harus
puas dengan yang kita miliki.”
Ayah pindah ke Singapura.
9_2
Saya sedih untuk berpisah dengan ayah, tetapi saya ikut dengan ibu ke London. Kemudian ayah juga meninggalkan istana marmer kami untuk pindah ke Singapura bersama Lucy Ho. Soalnya pemerintah Hindia Belanda menekannya untuk menjual perkebunan perkebunan tebunya dengan harga AS$ 70 juta. Ayah mempercayakan perusahaannya di Jawa kepada putra putranya yang terpilih. Tjong Swan dan Tjong Hauw. Mereka bertugas melaksanakan saran saran bisnis ayah dan melapor kepadanya.
Di London, ibu dan saya tinggal di Brooke Street, dekat hotel hotel besar. Kami mempunyai rumah lain di Wimbledon yang luas lahannya hampir 2,8 ha. Ibu mempunyai mobil Roll Royce, lengkap dengan sopir dan footman (pelayan yang tugasnya antara lain membukakan pintu mobil) Ipar saya mempunyai mobil Daimler dan Fiat. Di Wimbledon kami mempunyai seorang butler (kepala Pelayan) Cina, tiga gadis pembantu rumahtangga Inggris dan seorang sopir Inggris. Selain itu, kakak saya memiliki seorang koki inggris dan ibu membawa kokinya yang sudah lama bekerja padanya dari Jawa. Para pelayan itu selalu saja bertengkar. Ibu saya yang biasa berbahasa jawa, mengalami kesulitan bahasa dalam berkomunikasi dengan para pembantu. Jadi, segalanya harus diurus oleh ipar saya, sebab kakak saya pun tidak becus mengurus rumah. Dewasa ini, kalau saya pikir-pikir, ipar saya sepatutnya mendapatkan gaji untuk jasanya sebagai majordomo (pengurus rumah tangga)
Ipar sayalah yang pergi berbelanja dan membayar rekening. Karena koki indonesia bawaan ibu tidak bisa berbahasa Inggris, ipar saya pula yang ketiban tugas berbelanja ke pasar. Ipar saya harus menyerahkan rekening rekening dan catatan pengeluaran rumah tangga kami ke kantor ayah di Mincing Lane. Kalau saya pikirkan kembali, kami bersalah menyia nyiakan bakatnya, dengan hanya menjadikannya Majordomo. Mungkin ia bisa menjadi orang yang jauh lebih penting, kalau diberi kesempatan lain.
Saya diberi ayah 400 poundsterling atau AS$ 2,000 setahun untuk membeli pakaian. (Pada masa itu nilai poundsterling dan dollar jauh lebih tinggi daripada sekarang). Tentu saja tidak cukup. Saya sodorkan rekening rekening tagihan kepada Ting Liang. Ia sering marah, padahal ayah selalu mau melunasi semua pengeluaran saya. Suatu hari setelah bertengkar hebat dengan ipar saya, saya minta pindah. Saya tinggal alam sebuah villa kecil di Curzon street, diurus seorang pembantu rumah tangga prancis dan koki Prancis. Ting Liang tidak mau membayar sewa ruamh saya dan gaji pelayan serta koki saya. Jadi saya langsung mengirim telegram kepada ayah dan tanpa banyak cincong ayah menaikkan jumlah uang belanja saya.
Di masa remaja itu saya sangat menikmati dansa. Malam hari, saya pinjam mobil ibu lengkap dengan sopirnya untuk pergi bersama dua sepupu saya ke pesta pesta dansa. Sepupu sepupu saya itu adalah putra adik ibu yang di Singapura. Keduanya mendapat beasiswa untuk belajar di London dari dermawan Singapura, Lim Boo Keng. Teman teman saya masa itu diantaranya Guy Brook yang kemudian menjadi Lord Brook dan pemuda pemuda yang kelak menjadi Earl of Callodan, Sir Oliver duncan, dan Sir Hugo Cuncliffe Owen.
Saya belajar menyetir mobil dan mendapat mobil Daimler kecil. Saat itu umur saya belum genap 18 tahun dan London tahun 1918 masih sepi. Saya menganjurkan Tjong Lan untuk belajar menyetir juga. Hubungan kami tidak selalu mulus. Ia sering iri kepada saya. Pergaulannya terbatas pada orang orang sekantor ayah ata para relasi bisnis. Ia dibesarkan di Jawa sehingga tidak mengalami kebebasan seperti saya semasa mudanya. Padahal ia cantik dan jauh lebih pandai daripada saya.
Bertemu Wellington Koo
Walaupun bahasa Inggris Ibu saya sangat terbatas, berhasil juga ia mendapat teman teman. Banyak teman temannya itu diperoleh lewat roti. Entah dari mana ia belajar membuat roti. Seminggu sekali ia membuat roti dan rotinya itu empuk serta lembut. Suatu hari, tetangga kami, Marquess of Duferin dan isterinya datang, katanya karena tertarik bau roti yang datang dari rumahkami. Sang Marquess kemudian belajar bahasa Cina dari Ibu. Ia tidak berhasil memasukkan pelajaran itu ke otaknya, tetapi setiap pulang selalu mengepit roti buatan ibu.
Putri Alice dari Monaco (Saya rasa ia nenek Pangeran Rainer) juga bertandang karena roti. Ia menjadi teman baik ibu. Ketika kami bepergian kemana mana, kami selalu mendapat sambutan yang baik dari para bangsawan Eropa berkat saran dari Putri Alice.
Kemudian Tjong Lan tinggal di Paris. Suatu hari ia mengirim telegram kepada ibu, menganjurkan ibu dan saya cepat cepat datang. Ternyata, salah seorang anggota delegasi pemerintah Cina yang sedang mengadakan pembicaraan perihal perdamaian setelah PD I, ingin berkenalan dengan saya setelah melihat foto saya di rumah Tjong Lan. Nama anggota delegasi itu Wellington Koo. Walaupun umurnya baru 32 tahun, ia sudah duda karena isterinya meninggal muda. Almarhumah isterinya adalah putri jenderal Tang yang terkenal.
Wellington Koo adalah wakil Cina di AS dan ia lulusan Columbia University. Tjong lan menganggap, ini kesempatan baik buat saya mendapat jodoh. Padahal saya sama sekali tidak tertarik. Bayangkan duda berusia 32 tahun! Namun ibu begitu bersemangat. Dengan ogah ogahan saya pun ikut ke Paris. Benar saja dugaan saya. Gaya Wellington Koo kalah dibandingkan dengan gaya pemuda pemuda teman saya. Rambutnya dicukur pendek model cepak yang kuno itu. Pakaiannya bukan buatan penjahit Inggris terkemuka, tetapi dibeli di sembarang toko biasa di AS. (Setelah menjadi suami saya, mau juga ia memanjangkan rambutnya dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih anggun). Ia tidak bisa berdansa, tidak tahu soal menunggang kuda, dan bahkan tidak bisa menyetir mobil.
Saat itu saya juga buta soal politik. Saya tidak tahu mengapa Jenderal Tang memperlakukan Wellington Koo dengan begitu hormat ketika mereka dijamu Tjong Lan. Saat itu Wellington Koo ditempatkan di sebelah saya. Ternyata ia tidak berusaha bercakap cakap tentang dunianya dengan saya. Ia menyesuaikan pembicaraan dengan dunia saya dan sebelum perjamuan berakhir saya sudah agak tertarik kepadanya.
Kami bercakap cakap dalam bahasa Inggris dan menjelang akhir perjamuan ia berkata akan menjemput saya keesokan ahrinya. Sebagai orang nomor dua dalam delegasi, ia mendapat fasilitas mobil dan sopir dari pemerintah Perancis. Saya terkesan. Kami mempunyai banyak mobil dan sopir, tetapi semuanya kami bayar sendiri. Wellington Koo begitu penting rupanya, sehingga pemerintah negara asing menyediakan mobil berpelat diplomatik baginya.
Saya lebih terkesan lagi ketika di opera dan di teater kami mendapat tempat khusus yang disediakan oleh pemerintah. Ayah tidak mungkin mendapat keistimewaan seperti itu, walaupun ia bersedia membayar berapa saja.
Saya pun berdandan serapi mungkin dan mengenakan pakaian saya yang paling indah. Permen dan bunga bunga yang indah mengalir untuk saya dari Wellington Koo, dari beberapa kali sehari ia menelepon saya. Kalau kebetulan saya sedang tidak ada di rumah, ia pun mencari saya sampai dapat. Suatu hari ketika sedang merawat tangan saya di Salon Elizabeth Arden, ia muncul. Saya merasa tersanjung, sebab pria yang mempunyai kedudukan seperti dia mau berbuat demikian demi saya.
Sekali, dalam percakapan saya katakan bahwa saya tidak mungkin diundang ke istana Buckingham, istana Elysee dan Gedung Putih.
Istri saya ikut diundang, kalau saya menghadiri perjamuan resmi di tempat tempat itu,”katanya.
“Tentu isterimu kan sudah meninggal,”kata saya.
Ya, dan saya mempunyai 2 orang anak yang masih kecil, yang memerlukan ibu,“ ketika itu umur saya baru 19 tahun dan saya biasa berbicara tanpa tedeng aling aling seperti ayah saya.
Jadi, kamu ingin menikah dengan saya,“tanya saya.
Ya, dan saya harap kamu mau. Ia tidak berkata bahwa ia mencintai saya, tidak juga bertanya apakah saya mencintai dia. Saya tercengang dan berkata saya akan berpikir pikir dulu.
Menantu Impian
Saya tahu apa yang akan dikatakan ibu. Wellington Koo merupakan menantu impiannya. Kekagumannya kepada Wellington Koo tidak pernah padam. Ibu tidak ragu ragu untuk memujinya secara terbuka. Ia sangat bangga menjadi mertua Wellington Koo. Mungkin ibu lebih cocok buat Wellington Koo daripada saya. (Wellington lahir di tahun babi sedangkan saya di tahun Harimau!)
Tjong Lan memberi saran,”Hui Lan, kamu harus menikah dengan Wellington Koo, jangan seperti saya yang bersuamikan orang yang tidak berarti. Ingat, kamu akan menjadi Madame Wellington Koo dan orang orang akan menyapamu Your Excellency.”
Ketika saya masih ragu-ragu, ibu tidak sabar. Saya katakan bahwa saya tidak siap menjadi ibu tiri. Menurut ibu, saya tidak perlu mengasuh sendiri anak anak tiri saya. Mereka sudah mempunyai pengasuh. Kalau belum, ibu yang akan mencarikan.
Ingat,“kata ibu kepada saya,“sekarang masih ada aku yang akan melindungimu, tetapi aku ini berpenyakit diabetes. Kalau aku sudah tidak ada, kamu kann tidak bisa hidup serumah dengan Tjong Lan, karena kamu tidak akur dengan Ting Liang. Kamu tidak akan diperbolehkan hidup sendiri oleh ayahmu. Kamu harus pulang ke ayahmu, padahal Lucy Ho membencimu. Kamu bisa diracuni.“
Saya pun setuju menikah dengan Wellington Koo. Dengan kegirangan ibu mengirim telegram kepada ayah. Mata-mata ayah menemukan satu titik hitam dalam sejarah hidup Wellington Koo. Ia pernah menikah dan bercerai di Shanghai, sebelum menikah dengan putri jenderal Tang. Ayah balas menelegram ibu,“kalian tolol. Kalau Hui Lan dinikahkan dengan Wellington Koo, ia tidak bisa menjadi istrinya, karena Wellington Koo mempunyai istri yang masih hidup di Cina. Mengapa kalian tega berbuat demikian kepada Hui Lan?”
Ibu tidak akan mundur. Ibu sudah diberitahu oleh Wellington bahwa semasa kanak kanak ia sudah dijodohkan dengan putri tabib yang menyembuhkannya dari penyakit berat. Waktu pulang liburan dari Amerika Serikat (ia mahasiswa yang cemerlang di Columbus University) tahu 1908, ibu dan kakak laki lakinya mengirimkan tandu merah kepada putri tabib itu. Wellington yang lahir 1887 dengan taat membawa gadis desa yang tidak terpelajar ke New York. Istrinya kemudian meminta dipulangkan karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di sana. Diadakanlah rapat keluarga yang memutuskan mereka bercerai. Masa itu perceraian diakui kalau direstui orang tua.
Kemudian Wellington menikah dengan gadis berpendidikan barat, putri Tang Shao Yi, tangan kanan Presiden Yuan Shih Kai. Setelah mendapat gelar master dari Columbus dan lulus dari sekolah hukum di Yale, Wellington Koo kembali ke Cina untuk menjadi sekretaris dan penerjemah bagi Yuan di Beijing.
Wellington Koo berasal dari keluarga yang tidak kaya tidak pula miskin. Mereka termasuk kuno. Kaki ibunya masih diikat dan ibunya itu hanya bisa berbahasa Cina dialek Shanghai, serta tidak pernah pergi jauh dari rumah. Ketika bersekolah di Amerika Serikat, Wellington hanya bisa tinggal di asrama murah dan hidup sederhana sekali. Istrinya, putri Jenderal yang berpendidikan barat itu penurut, berbeda dengan saya.
Pertunangan kami diumumkan di Hotel Ritz di Paris, sedangkan pernikahan kami dilangsungkan di kedutaan Cina di Brussels, Belgia. Hari itu Tjong Lan sakit, sehingga hanya ibu yang hadir. Ayah dan keluarga Wellington tidak bisa datang karena jarak yang jauh. Pernikahan harus dilangsungkan sebelum Wellington menggantikan Alfred Tse sebagai Minister (Jabatan yang lebih rendah dari duta) Cina di London. Saya mendapat hadiah Rolls-Royce dari ibu. Seragam sopirnya dibuat di Dunhill. Ibu juga menghadiahkan peralatan makan dari perak, yang waktu itu harganya 10,000 poundsterling. Benda itu masih saya miliki sampai sekarang, walaupun sudah lama sekali disimpan di bank dengan ongkos US$200 dollar setahun.
Sarung bantal bagi kami diberi kancing yang berhiaskan intan. Semua itu tentu saja ayah yang membayar, meskipun ibu yang membelinya. Hadiah perhiasan dari Wellington termasuk sederhana bila dibandingkan dengan yang saya dapat dari ibu.
Cintanya hanya untuk Cina.
Ketika kami sudah berada di hotel, saya menanggalkan pakaian pengantin saya yang dibuat dari Callot untuk berganti dengan negligee yang seksi untuk menyenangkan suami saya. Ternyata ia tidak memperhatikan saya ketika saya memasuki ruang duduk suite kami. Ia sedng sibuk bekerja dikelilingi empat sekretarisnya. Jadi saya duduk saja menunggunya.
Malam itu juga kami harus berangkat dengan kereta api ke Jenewa. Karena keesokan harinya Liga Bangsa-Bangsa dibuka dan Wellington Koo merupakan ketua delegasi Cina. Perhatian Wellington Koo hanya untuk Cina. Ia memang orang yang diperlukan oleh Cina, tetapi bukan suami yang tepat untuk saya. Otaknya cemerlang, tetapi ia tidak mampu bersikap mesra dan menunjukkan kelembutan.
Sore itu, sebelum berangkat untuk menghadiri resepsi pernikahan yang diadakan bagi kami oleh wakil cina untuk Spanyol yang khusus datang dengan istrinya. Pesta resmi itu dihadiri pejabat2 Prancis, Belgia, dsb. Ibu ikut dengan kami ke Jenewa. Pagi pagi saya dibangunkan oleh Wellington yang ternyata sudah berdandan rapi dan sudah sarapan. Katanya, di stasiun kami akan disambut seluruh delegasi cina. Cepat2 saya berdandan. Saya mendapat karangan bunga mawar yang besar sekali dari penyambut. Ibu saya juga, sehingga ia senang sekali.
Kami mendapat suite yang mengesankan di hotel Beau Rivage yang menghadap ke danau. Suami saya segera diambil para sekretaris untuk rapat. Wellington mengingatkan saya bahwa ibu saya berada di hotel itu juga dan mungkin menunggu saya. Jadi, saya pergi menemui ibu. Kami makan siang bersama lalu pergi berbelanja. Rasanya seperti belum menikah saja.
Saya sangat tercengang dan juga tersinggung ketika Wellington dan Wang mengatur tempat duduk tamu di perjamuan yang kami adakan tanpa meminta pendapat saya sama sekali. Saya bergidik melihat kartu bertuliskan nam orang yang akan duduk di kiri kanan saya, karena mereka orang orang yang sangat membosankan. Jadi, saya atur kembali letak kartu2 di meja perjamuan. Tahu-tahu, ketika saya sedang berdandan, Wellington masuk,“Hui Lan, ini bukan pesta pribadimu,“katanya. Kamu menjamu mewakili Cina, sehingga para tamu harus didudukkan sesuai dengan tingkatan mereka, agar tidak ada seorangpun yang merasa terhina atau hilang muka.“ Itulah pelajaran pertama yang saya dapat mengenai protokol. Kemudian saya sangat ahli dalam mengatur tempat duduk para tamu, sehingga tugas itu diserahkan kepada saya, bukan kepada pejabat kedutaan besar, yaitu setelah hubungan kami dengan negara negara meningkat menjadi kedutaan besar.
Suami lebih suka memakai mobil bekas.
Sejak semula Wellington gigih memperjuangkan pemulangan Shantung dari Jepang kepada Cina. Sebelum menikah dengannya saya tidak tahu menahu perihal itu, namun saya belajar dan mulai menginsafi posisi dan tanggungjawabnya yang besar.
Kami sering harus menghadiri resepsi resmi, Ia terlalu sibuk untuk memperhatikan pakaian saya, padahal saya mendapat banyak pujian. Suatu malam, sepulang resepsi, saya tanyakan kepadanya apakah sikap saya selama ini cukup memuaskan dan tidak dipergunjingkan orang? Ia mendekati saya. Saya kira ia akan memeluk saya, ternyata ia hanya mau mencopot anting anting intan saya. “Saya sudah memberi kamu perhiasan satu satunya yang bisa saya belikan,”katanya.”Saya ingin kamu memakainya, bukan perhiasan dari orang lain, walaupun banyak dikagumi dan dibicarakan orang.”
Saya tertegun. Perhiasan yang saya kenakan, sebagian besar pilihan ibu dan dibayar oleh ayah. Saya tersinggung karena suami saya menghendaki perhiasan itu disingkirkan. Ia memang menikah dengan saya bukan karena uang saya, terapi ia tahu perhiasan itu merupakan bagian dari saya.
Ia juga menyarankan agar pesanan Rolls Royce dibatalkan saja, sebab ia tidak sanggup membeli Rolls Royce. “Ayah bisa dan dia memberinya kepada kita,”jawab saya. Kata Wellington, ia akan membeli mobil bekas Alfred Sze. Mobil bekas dengan seragam sopir yang juga bekas? Jangan harap saya mau,”jawab saya. Akhirnya Wellington berkata, saya boleh naik Rolls Royce saya, tetapi ia sendiri akan naik mobil bekas Sze.
Roll Royce pesanan ibu menjadi bahan percakapan di London. Tampaknya Wellington tidak perduli. Ia juga tidak perduli saya terus menerima kiriman uang dari ayah. Pikir saya, goblok sekali kalau saya tidak memanfaatkan pemberian itu. Sementara itu saya juga mulai menikmati menjadi istri seseorang yang banyak perhatian dan penting.
Saya mendesak Wellington untuk memugar dan mengganti perabot kami di Portland Place yang suram itu. Ia mengingatkan bahwa Cina tidak kuat membayarnya. Ayah memiliki banyak uang. Keluar beberapa ribu dollar tidak berarti apa apa baginya,”desak saya. Ia mengingatkan bahwa semua yang saya bayar akan menjadi milik Cina. Saya tidak perduli. Ketika itu tidak pernah terpikir oleh saya bahwa uang ayah bisa habis. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa,”Tiada Pesta yang tidak berakhir.” Pepatah itu, menurut teman lama saya, E.T. Cheng yang kemudian menjadi dutabesar di London, adalah pepatah Cina yang paling menyedihkan.
Tampak serasi padahal tidak sejalan.
Masa itu banyak hal yang tidak saya pahami. Namun saya tahu dari ayah bahwa uang bisa berbuat banyak. Bagi saya, hidup lebih mewah daripada yang dimungkinkan oleh gaji Wellington bukanlah masalah. Hal itu tidak merugikan Cina, malah menguntungkan, sebab biayanya saya dapat dari ayah saya.
8711_small_1
Saya masih ingat, ketika dengan pertama kali ke Istana Buckingham yaitu saat Wellinton menyerahkan surat-surat kepercayaan kepada Raja George V dan Permaisuri Mary. Putri Alice sebelumnya sudah mengajari saya curtsy, yaitu cara wanita memberi hormat kepada keluarga raja2. Ia juga berpesan agar saya jangan berbicara kalau tidak ditanya. Keluar dari istana, Wellinton berkomentar,”Kita ini memang pasangan yang hebat,” Ya, makin lama saya bertambah matang. Saya pandai mengatur seperti ayah dan memiliki selera seperti ibu. Saya pasangan yang sepdan bagi Wellington. Begitulah tampangnya dari luar, padahal pernikahan kami tidak berjalan dengan mulus.
Orang orang mengagumi otak suami saya, tetapi kami cuma negara kelas dua, sebab masa itu Cina bukan negara yang kuat. Kekuatan2 besar cuma mengirimkan wakil setingkat minister ke Beijing, bukan duta besar. Kami ditempatkan jauh di bawah para dubes. Suatu kali, ketika pulang dari suatu upacara, dengan bergurau saya katakan kepada Wellington,”Saya tidak ingin seumur hidup menjadi istri Minister, Kapan kamu menjadi dubes?” Bisa dipahami kalau Wellinton jengkel.“Kalau kamu tidak puas dengan keadaanmu sekarang, kapan pun kamu tidak akan puas. Saya tidak bisa mendapat kedudukan lebih tinggi lagi dari ini, minister untuk Istana Saint James!”
Putra sulung saya lahir di Washington, 30 Januari 1922, ketika suami saya menghadiri konferensi pembatasan Persenjataan, yang juga membicarakan nasib Shantung. Wellington memilih nama Kai Yuen yang berarti “zaman baru”. Namun nama resmi putra kami itu Yu Chang yang diberi oleh abang sulung suami saya. Namun sejak semula orang orang lain memanggil putra kami Wellington junior, sehingga seterusnya kami sebut ia junior.
Ayah berubah
Tahun 1916 keadaan cina kacau. Presiden Yuan Shih Kai meninggal tidak lama setelah berusaha menjadikan dirinya kaisar. Penggantinya lemah, Wellington yang sudah tujuh tahun meninggalkan cina dipanggil pulang. Dalam perjalanan ke Cina dengan S.S. Khyber kami singgah di Singapura. Tahu tahu pintu kabin kami diketuk pelayan. “Seorang pria berpakaian putih ingin bertemu dengan Anda, Madame. Katanya, beliau ayah saya.”
Dengan kegembiraan meluap luap saya membuka pintu. Saya perkenalkan ayah kepada Wellington. Mereka bersalaman secara formal seperti orang Eropa. Keesokan harinya saya dijemput ayah dengan perahunya sendiri. Di Pelabuhan sudah menunggu mobil bersopir. Namun, ketika tiba di kediaman ayah merasa ibu. Tidak ada istal, tidak ada bermacam macam dapur. Pelayan pun tidak banyak. Ayah bahkan tidak memiliki pelayan pribadi. Di lahan tmepat tinggalnya berdiri beberapa rumah. Rumah tempat tinggal denganLucy Ho mirip rumah pengusaha kecil Bahkan air leding dan WC dudukpun tidak ada.
Berulang ulang saya bertanya mengapa ia hidup seperti itu. Kemana ciri2 kemegahannya ? Ia tidak menjawab pertanyaan pertanyaan itu. Katanya, bisnisnya berjalan seperti biasa, Hauw maupun Swan bisa diandalkan. Kantor ayah di Singapura pun berjalan dengan baik, tetapi ia jarang ke sana.
Saya begitu sedih menyaksikan perubahan cara hidupnya dan melihat semangatnya merosot dalam mengurusi bisnis. Akhirnya ia berjanji kepada saya akan membeli mobil baru dan akan melengkapi salah sebuah rumah di lahannya dengan segala kemewahan,termasuk air leding dan WC.
Ayah berkata, saya tidak perlu khawatir. Neraca pribadinya bahkan lebih beres, karena ditangani sendiri oleh Lucy Ho. Berlainan dengan gundiknya yang lain . Lucy Ho terpelajar. Saya tetap khawatir. Saya tahu, tidak semua istri setia. Mengapa Lucy Ho membiarkan dirinya terikat pada pria yang menghamilinya setiap tahun ? Saya memperingatkan ayah agar jangan mencampuradukkan seks dengan bisnis. Ayah tertawa,”kamu dan ibumu akan jauh lebih kaya, kalau pemasukan dan pengeluaran uang kalian seperti Lucy Ho.”Saya pun tertawa dan menjawab,”Buat apa saya repot2 mengurusi neraca dan menelusuri kemana uang saya kalau saya mempunyai ayah seperti ini?”
Sama seperti saya, Lucy Ho rupanya lebih suka kalau kami tidak bertemu muka. Ia hanya muncul kalau makan siang. Ia mengenakan saraung dan berkebaya putih. Ia bertelanjang kaki dan rambutnya disanggul. Sanggulnya itu disemat dengan tusuk sanggul Kami bersikap resmi dan ia memasang wajah tidak ramah. Siangnya, waktu saya tanyakan kepada ayah apakah ia tidak rindu istananya di Semarang dan kemegahan hidupnya di masa lalu, ayah menggeleng. Saya merasa sedih. Lucy Ho sudah berhasil menghapuskan kenangan lama ayah dan saya tidak berhasil membujuknya untuk hidup menurut caranya yang lama. Kata ayah, Lucy Ho berlainan dengan saya dan ibu. Ia tidak terbiasa hidup dikelilingi banyak pelayan. Kehadiran banyak pelayan membuatnya risih.
Dibelikan istana
Tampaknya ayah dan Wellington tidak saling menyukai. Mereka memang berbeda. Wellington memberi saya posisi yang penting di mata dunia. Ayah memberi saya uang untuk menaikkan gengsi jabatan Wellinton, membelikan Rolls Royce yang kini berada di dalam kapal, dan menjadikan saya perempuan yang ingin dinikahi oleh Wellington
“Kamu perlu uang saku?” tanya ayah dengan lembut ketika sopir mengantarkan saya ke kapal.”Selalu,”jawab saya. Ayah menjejalkan uang kertas ke tas saya yang jumlahnya ternyata lebih dari US$ 50,000. Saya tidak tahu apakah Lucy Ho tahu ayah memberi saya uang sebanyak itu. Yang jelas, saya tidak memberitahu Wellington.
Di Shanghai kami disambut dengan meriah. Kakak sulung Wellington sudah menyewakan kami rumah yang dianggapnya hebat sekali, tetapi menurut ukuran saya sangat mengecewakan karena tidak memiliki air leding dan WC duduk. Tempat tidurnya keras, karena berupa ranjang kayu tradisional. Jadi, saya membawa anak anak dan para pelayan inggris kami ke hotel. Wellington sebenarnya tidak setuju karena tidak mau menyinggung perasaan abangnya.
Dengan uang ayah , kami berhasil mendapat istana di Beijing. Istana itu memiliki 200 ruangan dan terletak di tanah seluas kira2 4,6 ha. Istana itu dijual murah oleh pemiliknya, US$100,000, karena ia takut disita oleh pemerintah. Saya menghabiskan US$ 150,000 lagi untuk mendandaninya. Uangnya tentu saja saya daat dari ayah. Istana itu dibangun Kaiser pada abad XVII untuk seorang gundik yang paling dicintainya. Di istana ini kemudian Dr. SunYat Sen presiden pertama Cina, meninggal 1925.
Di sini kami mempunyai 40 pelayan. Saya tidak usah pusing mengurusinya, karena Wang yang setia bertindak sebagai majordomo. Putra kedua, saya lahir diistana ini 24 Juli 1923 malam. Wang membangunkan Wellington untuk memberi tahu.
Tuan, Anda mendapat putra Ketiga.”
Bagus,”jawab Wellington yang segera mengatupkan matanya kembali.
Saya terlalu naif untuk mengharapkan suami saya, memberi penghargaan atau menunjukkan kepuasan. Lama kelamaan saya insaf bahwa bayi dan anak anak tidak begitu menarik baginya. (Ketika Wellington sudah menjadi dubes di Paris, pernah ia berpapasan dengan Junior di jalan, yang sedang berjalan jalan dengan pengasuhnya. Namun Wellington tidak menegurnya sepatah kata pun. Setiba di rumah, Junior berkata kepada saya,”Ibu saya rasa ia tidak mengenal saya.”)
Putra saya yang kedua diberi nama Fu Chang oleh abang sulung Wellington, tetapi ia sering dipanggil Freeman. Bekas raja Muda India, Marquess of Wellingdon yang nama aslinya Freeman Freeman Thomas, memberinya nama demikian. Nama Cina sulit diucapkan olehlidah barat. Karena itulah suami saya mendapat nama Barat dari guru atau teman, yang mendekati bunyi nama aslinya. Hui Lan tidak sulit diucapkan , sehingga saya tidak perlu ganti nama.
Ayah Merasa Lelah
Pada masa itu, kalau sya pulang dari bepergian, saya sering menemukan jepit rambut perempuan atau bedak di ruang duduk saya. Wellington pun sering pergi berakhir minggu entah kemana. Di Pihak saya sendiri, tidak pernah terpikir oleh saya untuk menyeleweng, walaupun saya digoda. Menurut orang tua tua, tidak pantas saya pergi berbulan bulan ke tempat ayah, meninggalkan suami. Kalau saja Wellington keberatan, saya tidak akan pergi berlama lama. Namun ia selalu sibuk dan tidak pernah kelihatan gembira kalau saya pulang dari mana nana.
Kalau saya kaji kembali sejarah hidup saya, saya hanya pernah sekali jatuh cinta, yaitu ketika saya masih berumur belasan tahun di Singapura. Orang tua saya sama sekali tidak setuju pada pilihan saya. Mungkin mereka benar. Ketika berpuluh tahun kemudian saya bertemu kembali dengan Siao Kuan, saya juga kecewa.
Ketika saya menemui ayah kembali di Singapura, rumah yang dijanjikannya belum selesai. Ayah menyewakan serangkaian kamar di Raffles Hotel. Hampir setiap malam kami makan bersama. Setiap kali saya hanya berniat untuk tinggal beberapa minggu, tetapi akhirnya menjadi berbulan bulan. Pada kunjungan ke singapura sekali ini, di luar dugaan, saya diundang gubernur jenderal ke perjamuan di rumahnya. Saya pikir, ini kesempatan bagi saya untuk mengajak ayah. Ia senang sekali, sebab kesempatan seperti ini, tidak bisa dibeli dengan uang. Karena tidak mempunyai rencana untuk menghadiri perjamuan di rumah gubernur jenderal, saya tidak membawa perhiasan mahal ke Singapura. Ketika ayah melihat saya memakai perhiasan biasa, ia masuk ke rumahnya dan ketika kembali ia melemparkan ke pangkuan saya perhiasan intan yang besanya berpuluh puluh karat.
Orang Cina yang dundang cuma kami berdua dan Sir Robert Ho tung dari Hong Kong. Selebihnya orang Inggris. Padahal ayah tidak paham bahasa Inggris dan ingin duduk di sebelah saya. Saya jelaskan masalahnya pada ajudan gubernur jenderal, yang lantas menempatkan ayah di sebelah saya. Malam itu semua berjalan lancar, cuma saja nyonya rumah yaitu Lady Guillemard mungkin heran melihat pengaturan tempat duduk berubah.
Pulangnya saya mentraktir ayah makan di pecinan. Di sini ia merasa bebas, sebab tidak ada pengalang bahasa. Ketika kembali ke Cina, saya bawa perhiasan yang malam itu saya pakai ke Perjamuan. Soalnya, ayah tidak memintanya kembali. Saya tidak tahu apakah perhiasan itu milik Lucy Ho atau bukan.
Saya masih bertemu ayah sekali lagi. Suatu ketika ia menulis surat, memberi tahu villa saya sudah hampir selesai dan saya diminta memberi saran penyelesaiannya. Saya datang ke Singapura. Pada kesempatan ini ayah diramal oleh seorang India. Kata orang itu semua orang hanya mencintai ayah karena uangnya. Cuma ada satu orang yang benar benar mencintainya. Ia memperingatkan bahwa ada musuh yang akan meracuni ayah. Saya khawatir dan mengajak ayah meninggalkan Singapura, tetapi ayah tidak mau. Ia tenang saja. Dengan was was saya meninggalkan ayah. Kata katanya yang terakhir ketika mengantarkan saya ke kapal adalah,“Hui Lan, aku lelah.“
Oei Tiong Ham meninggal
Tiga bulan kemudian, saya menerima kawat dari Tjong Swan, yang memberitahu ayah meninggal tiba tiba akibat serangan jantung pada 6 Juni 1924. Inilah awal masa suram bagi saya. Selama ia hidup, saya tahu saya aman. Bukan hanya dalam hal keuangan, tetapi lebih dari itu. Selama ada ayah, tidak seorang pun berani berbuat jahat terhadap saya.
Saya memberitahu ibu di London dan mengajaknya menghadiri pemakaman. Ibu menolak, saya takut pergi sendiri. Jadi, Wellington menyarankan saya membawa Wang, majordomo kami yang setia dan seorang pelayan perempuan ke Singapura. Peti Jenazah sudah ditutup, dikelilingi orang orang yang benar benar asing buat saya, yaitu teman teman Lucy Ho. Saya insaf, sekarang saya orang luar.
Mengingat ramalan orang india beberapa waktu lalu, saya meminta jenazah ayah diautopsi, sebab saya curiga Lucy Ho meracuninya. Namun menurut penasihat hukum di Singapura, sebagai anak perempuan almarhum saya tidak berhak meminta autopsi terhadap jenazah ayah. Kalau ibu hadir, dia lah yang berhak memintanya.
Tjong Wan dan Tjong Hauw mengatur pemakaman yang akan dilakukan di Semarang. Jenazah ayah diangkut dengan kapal. Tjong hauw mengosongkan rumahnya supaya bisa saya tempati. Ia sendiri mengungsi ke rumah lain. Sebagai anak istri sah, saya duduk di kerta pertama yang mengiringi jenazah ke pemakaman. Swan, Hauw , dan para putra ayah dari gundik gundiknya berjalan di belakang kami. Pemakaman dilaksanakan tanpa biksu. Saya merupakan orang pertama yang diminta melemparkan tanah ke liang lahat. Untuk mencegah pertemuan dengan Lucy Ho dan anak anaknya, saya segera meninggalkan tempat itu.
Saya diberitahu bahwa Lucy Ho dan anak anaknya berani pindah ke istana kami, tetapi hal itu sudah tidak berarti apa apa lagi buat saya. Saya bahkan tidak sampai hati melihat rumah itu lagi. Saya tinggal beberapa hari di Semarang untuk menjenguk keluarga ibu. Mereka menjamu saya di sebuah hotel, yang paling baik di Semarang sehingga saya merasa terharu.
Ayah memberi saya warisan yang dijanjikannya. Ibu mendapat beberapa juta dollar dan Tjong Lan mendapat satu juta dollar. Namun perusahaan ayah dibagi antara Tjong Hauw, Tjong Swan dan Lucy Ho. Saya yakin kalau ibu datang, ia bisa membatalkan surat wasiat ayah. Swan setelah upacara berkabung selesai, segera menjual bagiannya kepada Hauw dan Lucy Ho. Kemudian Swan pindah ke Belanda.
Hauw memang sudah dekat dengan Lucy Ho dan lebih dekat lagi sejak Lucy Ho pindah ke Jawa. Mereka sudah meninggal sekarang. Saya dengar Lucy Ho meninggal di Swiss akibat kanker. Swan meninggal akibat infeksi gigi yang ditelantarkan dan pada 1951 Hauw pun meninggal di Jakarta karena serangan Jantung.
Bisnis ayah di Indonesia diam diam diambil oleh Jepan dan sisanya kemudian diambil oleh pemerintah Soekarno. Belum lama ini saya dengar, warisan yang saya terima dari ayah masih berada atas nama saya. Suatu ketika mungkin saya bisa menjualnya.
Tahun 1936;Wellington menjadi dubes cina pertama untuk Prancis. Saya pergi ke Paris, meninggalkan banyak harta benda saya di Cina. Saya juga meninggalkan perhiasan almarhumah isteri Wellington di sebuah bank di Shanghai, dengan maksud akan diberikan kepada putri mereka, Pat, kalau Pat sudah dewasa. Tidak terpikir oleh kami kalau semuanya akan amblas, karena Cina kemudian dikuasai oleh Komunis.
Diundang Ibusuri
Musim dingin 1943 Wellington dijadikan dubes di London. Kami berteman baik dengan Menteri Luar Negeri Anthony Eden dan pernah dijamu oleh PM Churchill, kemudian juga oleh PM Attlee. Suatu hari saya mendapat undangan dari Ibu Suri Mary. Kemudian saya balas mengundangnya untuk makan malam di kedubes kami.
Tinggal di rumah bekas penemu telepon
Kami bisa mengadakan perjamuan megah dsb, berkat uang warisan dari ayah, sebab apara duta besar waktu itu cuma US$ 600 sebulan, ditambah tunjangan perjamuan, rumah , supir dan pelayan kami peroleh dengan gratis.
Pakaian saya selalu saya usahakan dari kain sulaman cina kuno yang saya jdikan pakaian modern,tetapi dengan sentuhan cina. Baru setelah kain kain cina itu usang di masa perang dan saya tidak lagi mendapatkannya lagi, saya berganti berpakaian eropa.
Teman baik saya semasa di London adalah Joseph Kennedy, Jr. Sayang, ia gugur dalam perang. Kalau tidak , pasti ia menjadi menjadi presiden AS.
Saya ikut menjadi sukarelawan Palang Merah Inggris di bawah Edwina Mountbatten di masa perang itu. Saya menjalankan tugas2 saya dengan tertib. Perkara ketertiban saya bsia diandalkan, sebab ibu dan ayah sangat menetapi waktu. Berbeda dengan Wellington yang terlambat melulu.
Tahun 1945, putra saya Freeman ingin menjadi tentara nasionalis cina. Saya meminta Wellington mempergunakan pengaruhnya. Freeman pun menjadi ajudan seorang jenderal. Hal ini bisa tejadi antara lain karena kefasihan Freeman berbahasa Inggris.
Tahun 1946 Wellington menjadi dubes cina untuk AS. Kedubes cina di washington tadinya rumah penemu telepon Alexander Graham Bell. Tetangga di sebelah rumah saya adalah Marjorie Merriweather Post yang kaya raya itu. Kalau mengundang saya ke pestanya ia selalu berpesan,”Jangan ajak Wellington.”Hubungannya dengan suaminya pun tidak baik, ketika itu, ia bersuamikan Davies.
Pada masa Wellington menjadi dubes AS ini, Madame Chiang Kai Shek (isteri presiden Cina Nasionalis) pernah menjadi tamu kami. Ia boleh dikatakan tidak mengenakan perhiasan dan makanan permintaannya sederhana sekali. Karena suaminya tidak bisa berbahasa Inggris, madame Chiang yang mendapat pendidikan di AS itulah yang diutus ke AS untuk berpidato di hadapan kongres. Menurut saya, Chiang pun orang yang sederhana dan makannya sedikit sekali. Lingkungannyalah yang brengsek.
Kami juga berhubungan baik dengan wakil presiden Richard M. Nixon dan isterinya yang bijaksana itu. Kami sempat menghadiri upacara pelantikan presiden Harry S. Truman dan Presiden Dwight D. Eisenhower.
Ibu pernah tinggal bersama saya, tetapi kemudian menderita kanker sehingga harus dirawat di sebuah rumah sakit di New York. Ketika ibu meninggal tidak lama kemudian, Wellington mengusahakan pemakaman yang paling megah, yang dihadiri oleh para pejabat cina dan para dubes. Sembahyangan dilakukan dengan pimpinan biksu, saya merasa sangat kehilangan sampai lama sekali.
Hari Mendung tiba.
Berkat intrik dari orang yang sebenarnya dekat dengan kami, Wellington ditarik pulang. Ketika itu pemerintah Cina Nasionalis sudah pindah ke Taiwan. Saya membawa beberapa pakaian dan mobil saya meninggalkan Wellington dan kedubes. Ketika itu tahun 1956. Sudah sepuluh tahun kami tinggal di Washington. Saya menyewa apartemen di Sutton Palace, New York, tempat saya hidup ditemani dua anjing peking saya. Waktu itu saya belum tahu bagaimana caranya menyalakan oven ataupun merebus telur, jangankan lagi memasak. Wang ikut dengan Wellington, sedangkan kedua pelayan saya memilih bekerja di tempat lain sementara koki kami membuka restoran.
Kemudian saya belajar memasak dari Pat, putri tiri saya yang dulu rajin memperhatikan koki kami memasak. Kini saya bisa memasak ayam dengan paprika, tim ikan dengan tausi dan pelbagai macam makanan dar bahan laut. Saya pun mencari perabotan praktis saja. Saya masih memiliki beberapa perabot yang dulu saya beli dan juga pemberian ibu. Perhiasan saya, saya taruh di bank, tetapi sebagian saya simpan di rumah.
Suatu hari sepulang mengajak anjing saya berjalan jalan, saya disergap perampok. Dua orang bule itu mengikat kaki dan tangan saya dan membuntal saya dengan selimut seperti lumpia saja. Mereka tampaknya tahu betul dimana saya menyimpan perhiasan saya. Perhiasan senilai seperempat juta dollar itu amblas mereka gondol.
Setelah perang usai, sulit sekali mengurus rumah rumah kami di pelbagai tempat di eropa. Dengan susah payah berhasil juga saya menjualnya, walaupun dengan harga murah. Saya mengagumi Ny. Kung, seorang Methodist yang tabah. Ia menghibur saya,“Apa pun milik kita yang hilang, jika Anda mencintai Tuhan, Anda tidak akan terpengaruh.“
Pesta sudah berakhir
Kini saya jarang menjamu dan enggan menghadiri perjamuan. Kalaupun sekali2 saya hadir, saya tidak sakit ditempatkan di bagian meja mana pun, asal jangan di kolongnya.
Saya merasa masih beruntung sebab Pat, anak anak saya, dan cucu cucu saya semua tetap hormat dan mendengarkan kata kata saya. Putra Sulung Wellington masuk AU Nasionalis dan berada di Taiwan. Ketika salah seorang putra saya sakit dan gundiknya menjenguk ke rumah sakit, saya memukul kepala perempuan itu dengan payung. Putra saya mungkin tidak senang, tetapi ia tidak berani berbuat apa apa, sebab saya ibunya. Menantu saya, Edith, sangat berbakti terhadap saya. Kalau ayah mertuanya mengundang ia makan, ia selalu permisi dulu kepada saya sebelum menghadirinya. Wellington tinggal di Mount Vernon bersama seorang perempuan yang diperkenalkannya kepada semua orang sebagai isterinya, tetapi saya tetap menganggapnya sebagai gundiknya, sebab saya tetap Ny. Wellington Koo yang sah.
Saya merasa mempunya pertalian emosional dengan Indonesia tempat saya dilahirkan. Ayah tidak pernah mengajari saya berbisnis. Pada tahun 1968 saya pernah mencoba melaksanakan bisnis di Indonesia bersama dua rekanan perempuan Timur. Kami ingin mengusahakan perkapalan, tembakau dan sepeda tetapi gagal.
Kini saya berpendapat, berkenalan dengan kaum ningrat dan orang berduit tidaklah penting. Otak dan kepribadian lebih penting. Kita bisa menderita akibat haus kekuasaan, tetapi kita bis mendapat kesenangan dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita seharusnya menghargai orang orang lain dan hidup ini. Seperti kata ibu, kita harus puas dengan yang kita miliki.
Old_oei_hui_lan
Tjong Lan sudah meninggal di New York tahun 1970. Suaminya meninggal setahun sebelumnya. Banyak teman baik saya pun sudah meninggal, tetapi saya banyak mendapat teman baru yang masih muda. Saya sering mengenang anjing anjing saya yang sudah mati, yang memberi saya cinta kasih dan kebahagiaan pada tahun tahun terakhir. Saya harap suatu waktu kelak mereka akan dilahirkan lagi. Kalau demikan halnya, saya yakin kami akan saling mengenali.
Catatan Redaksi: Oei Hui Lan masih bisa memberi kata pendahuluan untuk buku Raja Gula Oei Tiong Ham yang ditulis Liem Tjwan Ling, Maret 1978. Ketika itu Hui Lan masih menjadi Chief Executive Amerabia Corporation.
inilah akhir dari sebuah pelajaran hidup yang lantas menjadi sebuah sejarah yang patut kita simpan dan jadikan bagian dari kehidupan yang mempunyai arti jika
harta bukanlah nyawa dalam sebuah kehidupan yang bahagia
agnes davonar