Home

Tampilkan postingan dengan label Wisata Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Januari 2011

Pulau Moyo Objek Wisata Kelas Dunia




Jakarta – Pulau Moyo merupakan objek wisata kelas dunia yang ada di Indonesia. Wisatawan mancanegara seperti Lady Diana dan Mick Jagger pernah berlibur di pulau ini.

Berada 2,5 Km dari Pulau Sumbawa dan termasuk dalam Kabupaten Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, Pulau Moyo termasuk kawasan ekslusif karena dikelola Amanwana Resort. Menawarkan keindahan dan keaslian alam membuat Pulau Moyo banyak diminati wisatawan asing yang mencari ketenangan dalam berlibur.


Objek wisata yang ditawarkan Pulau Moyo cukup beragam di antaranya wisata air terjun, aneka burung langka dan keindahan bawah laut tentunya dengan didukung oleh akomodasi dengan standar internasional.

Begitu ekslusifnya Pulau Moyo membuat wisatawan harus menyiapkan biaya cukup besar untuk menikmatinya, sehingga objek wisata ini jarang dikunjungi oleh wisatawan domestik.

Untuk mencapai Pulau Moyo, Anda dapat melakukan perjalanan dari Bali ke Sumbawa besar yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 10-12 menit ke Air Bari, sebuah kampung pesisir di Sumbawa Besar. Dari Ai Bari perjalanan dilanjutkan dengan speedboat sekitar 15 menit menuju Pulau Moyo.

Jika tidak ingin melakukan penerbangan lewat Sumbawa, penerbangan dapat dilakukan melalui Lombok. Dari Lombok Anda dapat melakukan perjalanan darat dan melakukan penyeberangan dari Pelabuhan Khayangan ke Pelabuhan Tano yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Sumbawa Besar. Perjalanan itu menempuh waktu kurang lebih lima jam dengan menggunakan mobil.

Sumber:http://gayahidup.inilah.com/read/detail/1092042/pulau-moyo-objek-wisata-kelas-dunia

Selasa, 11 Januari 2011

Danau Toba

Heran, di Medan tidak banyak orang yang antusias dengan Danau Toba. Danau terbesar di Asia Tenggara itu menyimpan gambaran ”kotor”, ”penuh keramba”, hingga ”hutan yang sudah gundul”. Seorang guru SMA mengatakan, pelayanan warga kepada wisatawan di Parapat tidak bagus. Orang membeli mangga bisa kena tipu. Untunglah seorang kawan berkata, ”Danau Toba itu luas, kita masuk dari sisi lain.” Kata-kata itu menguatkan niat kami, apalagi ditambah kenangan tentang idola masa kecil, Julius Sitanggang, yang suaranya masih terngiang-ngiang di telinga: Danau Toba… oh Danau Toba… danau indah dan permai….

Berangkat hari Minggu pagi, dari Medan kami menuju Sidikalang, Kabupaten Dairi, untuk bertemu beberapa teman. Setelah itu menuju Tele, salah satu sudut terbaik untuk melihat Danau Toba. Di Sidikalang, kami mendapat informasi keberadaan danau di atas Danau Toba, danau di Pulau Samosir. Danau Sidihoni namanya. Sebuah imaji yang menjadi cita-cita perjalanan ini.

Perjalanan kami lanjutkan setelah sempat bimbang melihat beberapa truk mengangkut durian Sidikalang yang tersohor itu. Beli… tidak... beli... tidak…. ”Ada juga kok di Medan, malah sudah dibungkus kotak plastik, berlapis-lapis, siap masuk ke pesawat,” kata Maringan S Pardede, warga Sidikalang.

Jalan antara Sidikalang dan Tele melewati perkebunan kopi dan jeruk, berselang-seling dengan padang tempat kuda merumput di samping anak-anak yang bersuka ria, bercanda sambil mandi-mandi di air yang jernih.

Danau TobaJam sudah menunjukkan pukul 17.00 lewat, saat sesekali, sedikit demi sedikit, Danau Toba menampilkan dirinya, di antara perbukitan. Suasana jadi misterius sekaligus puitis.

Tele adalah salah satu sudut terbaik bagi umum untuk melihat Danau Toba. Sebuah menara pandang berdiri di sudutnya. Di sisi kiri tampak Gunung Pusuk Buhit, gunung mitologi Batak, yang diselimuti kabut dan awan. Di sisi kanan beberapa air terjun dari tebing Danau Toba mengalir. Di depan menara, Danau Toba terbentang. Hujan rintik-rintik turun, dingin, tetapi tak menusuk.

Beberapa orang yang datang ke Tele sering bergumam, Tele mengingatkan mereka pada pegunungan dalam film Lords of the Ring.

Hari itu jalan dari Tele ke Pulau Samosir yang menuruni bukit tengah diperlebar. Keamanan pengendara jadi taruhan. Tebing batu di sisi kiri rawan longsor, sementara jurang puluhan meter menganga di sebelah kanan. Jalanan bergeronjal, rusak. Sayang, keindahan Danau Toba menyembunyikan maut akibat infrastruktur yang buruk.

Sup ikan
Matahari nyaris tenggelam ketika tiba-tiba kami merasa mobil terguncang aneh di jalan rata. Sebuah insiden terjadi: ban mobil kami pecah. Jujur, kami tidak tahu yang namanya dongkrak, apalagi tempat ban cadangan. Beruntung, seorang pemuda asal Medan yang kebetulan lewat dengan inang dan tulang-nya rela berselonjor di bawah mobil mencari pengait ban cadangan yang telah berkarat dan membantu kami mengganti ban.

Danau TobaSekitar pukul tujuh malam kami tiba di Pangururan, kota terbesar di Pulau Samosir. Kami menginap di Ambarita, disambut Jumaga Gultom, tuan rumah yang mengajak mengobrol di teras dengan suara latar empasan air Danau Toba yang berjarak dua meter dari tempat kami duduk.

Istri Jumaga, Masrida Sihombing, menghidangkan menu hari itu, sop ikan Danau Toba, yang baru dibuat karena memang hanya kami tamunya pada hari yang dingin itu. Tidak ada lagi yang kurang, setelah semangkuk panas sop ikan mujair dengan potongan tomat segar dimakan bersama nasi hangat.

Obrolan pun mengalir ke sana-kemari, dari air danau yang naik beberapa meter belakangan ini, sampai pada turis mancanegara yang tidak pernah kembali sejak tragedi bom Bali. Turis domestik cukup banyak, tetapi kebanyakan berhenti di Parapat.

Sempat kami berpandangan saat empunya rumah bercerita tentang Danau Sidihoni. ”Sebenarnya bisa cuma setengah jam dari Pangururan, tetapi karena jalan rusak dua jam pun bisa lebih,” kata dia. Dalam hati saya berkata, ban bisa pecah lagi, nih.

Kami berangkat pukul enam pagi ke Sidihoni. Di huta-huta alias desa-desa di sepanjang jalan, wajah-wajah anak kecil muncul dari rumah adat, sementara ibu mereka menyapu di halaman rumah. Ladang dan makam tempat tulang-belulang para leluhur Batak yang dikubur kembali saat upacara Mangongkal Holi berjejer di tepi jalan.

”Boru apa kau, inang?” Ringan sebuah teguran meluncur yang dengan mudah berlanjut ke percakapan panjang tentang suami, istri, anak, cucu, hingga kehidupan. Perjalanan kami terasa sederhana, tetapi nyata, masuk ke dalam kehidupan para inang dan amang di Samosir, bukan sekadar menonton sesuatu yang artifisial.

Danau TobaPerjalanan dari Pangururan ke Danau Sidihoni melewati jalan menanjak yang bukan saja rusak parah, tetapi hancur lebur. Jalan tujuh kilometer perlu ditempuh dalam waktu dua jam. Untungnya, pemandangan Danau Toba dari atas sangat indah. Danau Toba bahkan terlihat dalam sudut 180 derajat melebar. Hutan pinus serta bunga-bunga liar ada di sepanjang jalan.

Sidihoni

Di tengah padang rumput dan ladang, muncullah Danau Sidihoni, danau di atas Danau Toba itu. Di tepian danau yang berujud bukit tampak sebuah gereja tua mungil.

Tidak ada kesibukan wisata di sekitar danau yang sunyi sepi. Hanya sebuah warung kopi dengan beberapa pria yang asyik menongkrong dengan meja biliar dan segelas kopi. ”Dulu sering ada turis bule kemah di sini, mereka suka berenang di danau,” kata Naibaho, warga setempat.

Danau TobaDanau Sidihoni terletak di tengah padang rumput di Desa Ronggur Nihuta, desa tertinggi di Samosir yang terletak di ketinggian sekitar 1.500 meter. Menurut Maruhum Simalango (73), tetua masyarakat, kawasan itu tadinya hutan belukar. Rawa yang ada di tengah hutan belukar itu kemudian berubah menjadi danau. Itu terjadi ratusan tahun lalu.

Maruhum berkisah, ada cerita di balik ketenangan air danau yang luas maksimalnya bisa mencapai 5 hektar dengan kedalaman 90 meter ini. Sesekali danau ini terlihat bening sehingga mengundang para turis berenang.

Ada saat-saat istimewa ketika perubahan warna danau mengikuti kondisi republik ini. ”Pernah dua kali danau ini berwarna merah, waktu 30 September 1965 dan waktu Soeharto turun,” kata Marihun.

Saat kami berada di sana, tepat pada hari kedua kampanye pemilu legislatif (17/3), air danau yang susut itu berwarna coklat keruh. Entah apa artinya....


Penulis : AUFRIDA WISMI WARASTRI
Sumber : KOMPAS 
Foto : KOMPAS  voucher-hotel

Selasa, 28 Desember 2010

Banda Naira, Surga Kecil di Timur Indonesia




Pulau kecil ini pernah menjadi tujuan para pelaut Asia dan Eropa. Saat itu rempah-rempah sama berharganya dengan emas. Benteng-benteng kuno, pelabuhan dan rumah tua bergaya kolonial, menjadi saksi bisu bahwa pulau kecil di Maluku Tengah ini pernah jadi pusat perekonomian dunia. Inilah Banda Naira, secuil surga kecil di Timur Indonesia.

Banda Naira tidak besar. Bisa dijelajahi dengan berjalan kaki selama 3 jam. Jalan aspal menghubungkan seluruh Pulau. Kendaraan roda empat bisa dihitung dengan jari. Selain kendaraan dinas milik pemerintah dan polisi, tidak ada warga yang memiliki mobil.


"Mau ke mana pakai mobil? Di sini selain dinas, tidak ada yang pakai mobil. Naik sepeda, pakai ojek atau jalan kaki saja," ujar Zainuddin, seorang warga Banda Naira saat berbincang dengan detikcom, Kamis (30/7/2010).


Pulau kecil ini juga menyimpan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokoh pergerakan seperti Muhammad Hatta dan Sjahrir pernah diasingkan di Banda Naira. Rumah bekas peninggalan mereka pun masih terpelihara dan dijadikan museum. Siapa saja bisa belajar sejarah di sini.

Berjalan kaki sekitar 15 menit ke arah Barat, Benteng Belgica berdiri kokoh. Lengkap dengan meriam-meriamnya yang mengarah ke laut. Kondisi benteng masih sangat baik. Pengunjung bisa naik ke atas menara benteng dan melihat laut lepas dan Pulau Banda Naira dari atas benteng yang dibangun pada abad ke-17 ini.

Jika hari sudah beranjak senja, berjalanlah ke arah dermaga. Matahari perlahan tenggelam, meninggalkan semburat warna yang menawan di langit luas beralaskan laut.


Untuk mencapai Banda Naira, ada kapal feri yang berangkat setiap dua minggu sekali dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Selain itu bisa juga dicapai lewat Ambon dengan kapal cepat. Kini ada penerbangan yang melayani rute Ambon-Banda Naira, satu minggu sekali.

Urusan penginapan, ada beberapa alternatif. Hotel rata-rata bertarif Rp 300-400 ribu permalam. Tapi jika ingin hemat, ada beberapa losmen nyaman yang tarif permalamnya hanya Rp 100 ribu.

Untuk makanan, harganya memang lebih tinggi dari Pulau Jawa. Sekali makan bisa habis Rp 20 sampai 30 ribu. Wajar saja, biaya mengirimkan bahan makanan ke sini memang tidak murah. Tapi jika sudah jauh-jauh ke sini, sirup pala dan ikan bakar, jangan sampai dilewatkan.

Saat Sail Banda 2010, pulau kecil ini kembali menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dari seluruh dunia. Namun kini tidak ada meriam yang mengarah ke pantai. Atau persaingan menguasai rempah-rempah di Maluku. Hanya tersisa jabat tangan dan senyum persaudaraan dari seluruh dunia di Banda Naira.


Read more: http://siradel.blogspot.com/2010/07/banda-naira-surga-kecil-di-timur.html

Senin, 20 Desember 2010

Lokasi Menyelam Menakjubkan Indonesia

Akibat keadaan politik yang sering bergejolak dan peringatan untuk wisatawan yang biasanya terlalu berlebihan, Anda akan jarang menemukan negara ini dalam daftar perjalanan kebanyakan turis. Untungnya bagi wisatawan yang berani dan berjiwa petualang, ini berarti lebih sedikit turis dan lebih banyak ketenangan, sehingga Anda lebih dapat menikmati keindahan sesuka Anda. Berikut adalah daftar dari delapan tempat menyelam yang menakjubkan di Indonesia.


Pulau Bintan, Riau


Mungkin ini adalah pulau yang paling mudah
dicapai dari luar Indonesia, tempat penyelaman ini hanya satu jam dari kebisingan Singapura. Pulau ini memiliki hamparan pantai berpasir putih sepanjang 18 km dengan kehidupan lautnya yang kaya, serta beragam lokasi menyelam untuk Anda nikmati.


Tidak jauh dari garis pantai sebelah utara, terdapat ngarai kecil sedalam 8 meter dengan dasar yang rata, sangat cocok untuk Anda yang baru pertama kali belajar scuba diving. Tempat unik lainnya adalah lokasi kapal karam, Anda dapat mengeksplorasi sisa-sisa kapal tanker tua yang karam bertahun-tahun lalu di kedalaman laut.



Kepulauan Seribu, Jakarta


Area unik ini terdiri dari ratusan pulau kecil (makanya dilebih-lebihkan jadi 'Kepulauan Seribu'), adalah tempat wajib bagi penyelam asal Jakarta. Dari bermacam pulau tersebut, beberapa yang terkenal yaitu Pulau Kotok Besar, Pulau Kotok Kecil, Karang Bongkok, Pulau Sepa dan Pulau Pantar Pulau Seribu sangat mudah dicapai, Anda hanya perlu menyewa speedboat dari Marina atau kapal nelayan dari satu dari sekian pelabuhan. Hanya sekitar satu atau dua jam dari Jakarta, Anda akan bisa menyelam sepuasnya. Beberapa pulau yang lebih besar menyediakan akomodasi lebih baik sekelas resort dan villa, tetapi Anda butuh menyewa kapal untuk mencapai pulau-pulau kecil – tempat karang-karang indah berada!



Karimun Jawa, Jawa Tengah


Bagian lain dari Laut Jawa yang juga merupakan surga bagi para penyelam adalah sebuah pulau di seberang laut dari Semarang, Jawa Tengah. Tempat ini, disebut Karimun Jawa, merupakan rangkaian 27 pulau kecil dikelilingi oleh laut yang kaya akan gugus karang biru Acropora. Para penyelam dapat menjelajahi sisa-sisa dari Indonour, sebuah kapal pedagang kuno yang karam pada 1955. Suguhan tambahan di sini adalah beragam penyu laut yang ditetaskan di taman perlindungan alam.



Pulau Derawan, Kalimantan Timur


Sekitar 50 mil dari Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, sebuah area yang meliputi pulau-pulau kecil. Tempat ini dipenuhi dengan gugusan koral spektakuler dan gua bawah laut untuk penjelajah berjiwa petualang. Derawan memiliki lebih dari 17 lokasi penyelaman, tiap lokasi memiliki atraksi unik tersendiri untuk Anda nikmati. Beberapa tempat yang terkenal adalah Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban dan Pulau Maratua.

Di Pulau Sangalaki Anda dapat menemukan pari elang, pari, hiu macan dan sotong. Setiap malam Anda bisa melihat penyu hijau raksasa menetaskan telur di pulau ini. Atraksi utama Pulau Kakaban adalah danau air asin yang dihuni oleh ubur-ubur yang tak menyengat dan ikan gobi. Sementara di Pulau Maratua, Anda akan menemukan banyak ikan berukuran besar seperti barakuda, tuna dan mackerel. Turis bahkan sempat melihat hiu kepala martil dan sampai delapan spesies paus di sini.



Pulau Komodo, Flores


Pulau ini biasanya dikenal karena menjadi tempat bermain bagi komodo, spesies kadal raksasa. Untuk scuba diving, Pulau Komodo juga memiliki sejumlah lokasi penyelaman terbaik di negeri ini. Dari Sebayour Kecil, Pulau Tengah Kecil dan Pantai Merah menawarkan beragam atraksi bawah laut seperti beragam mackerel, kod dan ikan kerapu.

Di Pantai Merah, tidak jauh dari pantai, Anda akan menemukan 5 meter turunan penuh ikan berwarna-warni. Terdapat lebih banyak lokasi penyelaman di pantai bagian barat dari Flores seperti, Pulau Tatawa, Pulau Tatawa Kecil, Pulau Rinca dan Pulau Nusa Node.



Nusa Penida, Bali


Pulau Nusa Penida, berlokasi di timur Bali, merupakan lokasi terkenal untuk penyelam lokal maupun internasional. Sekitar satu jam dari Bali, pulau ini memiliki beberapa gugusan karang yang sangat sehat, yang jelas terlihat pada kedalaman 15 sampai 30 meter.

Bagi pemula, trdapat bermacam lokasi penyelaman di pantai sebelah timur pulau ini yang cocok untuk dijelajahi. Pada pantai sebelah selatan terdapat Blue Corner, Nusa Lembongan dan Gamat, lebih tepat untuk penyelam berpengalaman yang mencari tantangan. Ikan matahari sering terlihat di Teluk Crystal sementara manta birostris merupakan pemandangan biasa di Manta Point.



Bunaken, Sulawesi Utara


Tempat ini merupakan lokasi penyelaman terkenal yang memiliki reputasi internasional lebih baik dari lainnya, terdiri atas pulau-pulau kecil seperti Pulau Sialdoen, Gangga, Mantehage, Nine dan sebuah gunung tua di tengah laut, Manado Tua. Snorkeling dan  menyelam sangat terkenal di sini dengan lebih dari enam belas titik penyelaman tersebar di seluruh area pulau-pulau. Bunaken memiliki lekukan sedalam 30 meter, tempat tinggal beragam spesies ikan dan kehidupan laut lainnya. Penampakan hiu adalah hal yang biasa, jadi berhati-hatilah!


Selat Lembeh, Sulawesi Utara


Masih di Sulawesi Utara ada ikon lain dunia penyelaman, Selat Lembeh. Lokasi ini terkenal secara internasional dengan keragaman biota lautnya yang hanya ada di tempat itu. Di sini anda akan dapat menemukan gurita mimic, kuda laut pygmy, sotong, dan frogfish berambut. Tempat ini merupakan surga untuk fotografi bawah laut dan sering disebut “Kiblat dari Fotografi Makro”. Bagaimanapun juga tetap waspada, keindahan Selat Lembeh diperuntukkan bagi penyelam yang berpengalaman.

Minggu, 28 November 2010

Carstensz Pyramide, Sulitnya Menggapai Atap Indonesia


Bagi pendaki gunung, mendaki jajaran pegunungan Jayawijaya dan Sudirman (Carstensz Pyramide), Irian Jaya, adalah impian. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu (Sudirman) terdapat titik tertinggi di Indonesia. Carstensz Pyramide (4.884 mdpl) menyimpan banyak keunikan dan tantangan. Bukan hanya karena puncaknya diselimuti salju tropis tetapi termasuk dalam deretan 7 (tujuh) puncak benua. 
Jangan heran bila pendaki-pendaki papan atas kelas dunia berlomba untuk mendaki puncak tertinggi di Australasia ini. Tak kurang dari Heinrich Harrer si pendaki yang hidupnya diperankan Brad Pitt dalam Seven Years In Tibet menjadi orang pertama yang mendaki Carstensz Pyramid. Kemudian Reinhold Messner pendaki pertama yang mencapai 14 puncak di atas 8.000 meter.

Pat Morrow yang mencanangkan Carstensz Pyramid sebagai satu dari tujuh puncak di tujuh benua bumi ini. Irian itu bagian dari benua Australasia katanya. Ini mengakibat pendaki-pendaki kelas dunia berbondong-bondong mengikuti jejaknya di antaranya pendaki wanita pertama Everest Junko Tabei pernah menjamah puncak ini.

Sayang, liatnya prosedur izin yang harus dimiliki, membuat banyak pendaki harus mengurungkan niatnya untuk berekspedisi. Apalagi wilayah pegunungan tengah Irian Jaya sempat tertutup untuk pendakian sejak kasus penculikan di Mapenduma 1995 – 1996.

Izin Mendaki yang Rumit
Di kalangan pendaki gunung di Indonesia ada satir tentang pendakian gunung di Irian Jaya. ”Lebih sulit mengurus izinnya daripada mendaki gunungnya,” keluh mereka. Izin pendakian gunung – utamanya ke Carstensz Pyramide – di Irian Jaya memang rumit dan tidak jelas. Tidak ada selembar surat izin yang sah seperti misalnya pendakian di Nepal di mana pendaki diberikan semacam paspor selembar lengkap dengan foto dan keterangan izin mendaki puncak ketinggian berapa di daerah mana.

Di Nepal ketika berhasil dan bisa menyerahkan bukti pun Departemen Pariwisata yang menangani izin ini mengeluarkan surat keterangan kesuksesan pendaki. Ketidakjelasan ini – hal yang biasa terjadi selama Orde Baru – selama bertahun-tahun bertahan dengan alasan klasik, keamanan.
Galih Donikara, seorang senior Wanadri menyebutkan untuk mendaki gunung ini harus memiliki rekomendasi dari kantor Menpora, Kapolri, BIA – intelejen Indonesia, Menhutbun/PKA, PT Freeport Indonesia (PTFI).

Kalau mau lewat Tembagapura ditambah dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Itu semua harus diurus di Jakarta. Lalu di Jayapura, rekomendasi dari Bakorstranasda dan Kapolda harus dikantongi. Di Timika, rekomendasi EPO dan izin PTFI untuk fasilitas lintasan.

”Terakhir di Tembagapura, koordinasi dengan Emergency Response Group (ERG) untuk penanganan Emergency Procedur dan aparat Satgaspam untuk masalah keamanan lintasan,” jelas pendaki gunung yang sempat tergabung dalam ekspedisi Indonesia – Everest ’97 ini. Galih mencapai puncak Carstensz Pyramid bersama tim Cina pada awal tahun Millenium ini. Bersama beberapa pendaki sipil dan militer, mereka menggunakan rute Timika lewat Tembagapura untuk mencapai kemah induk.

Jika lewat Nabire, surat dari Bakorstranasda dan Polda Irian Jaya harus dilaporkan ke Polres Paniai dan Kodim Nabire, yang keduanya ada di kota Nabire. Lalu terakhir di Ilaga, semua surat rekomendasi diberikan ke Tripika setempat (Ilaga) yaitu Polsek, Koramil dan Camat.

Tapi tunggu dulu, ketiga pimpinan tersebut akan memutuskan bisa atau tidaknya pendaki meneruskan ekspedisi. Semuanya tergantung dengan situasi keamanan pada saat itu. Bila sedang tidak ada bahaya yang dapat mengancam keselamatan pendaki seperti perang suku, maka pendaki boleh segera mulai. Nah itulah daftar panjang surat rekomendasi untuk mendaki atap Indonesia itu. Rumit dan repot.
Bambang Hertadi Mas, petualang dan pesepeda jarak jauh kawakan, sempat mengurungkan niatnya untuk berekspedisi ke puncak Carstensz Pyramide, gara-gara sulitnya mengurus izin pendakian itu. Paimo, panggilan akrab Bambang, lebih memilih memanjat Gunung Kilimanjaro, di benua Afrika untuk ekspedisi tahun 1987. ”Mending sekalian ke luar (negeri), toh ongkos dan susahnya proses perizinan relatif tidak jauh berbeda,” begitu komentar Paimo waktu itu.

Sebagian besar pemandu gunung, pendaki profesional sampai kelas amatiran, harus menelan kekecewaan. Padahal menurut mereka, banyak sekali turis-turis mancanegara yang ingin menggapai salju putih di kawasan tropis. Kegamangan masalah politik bumi Cendrawasih ini juga mengganggu upaya untuk menjadikan Carstensz Pyramid dan pegunungan Sudirman sebagai tujuan wisata yang bisa jadi andalan Papua. Bagi sebagian orang, Carstensz merupakan sumber rezeki tersendiri dan punya nilai jual yang tinggi.

Kelangkaan informasi tentang kedua pegunungan itu juga menjadikan minat terhadap pendakian gunung di Irian Jaya – utamanya Carstensz Pyramide – harus surut di tengah jalan. Kecuali, bagi para pendaki yang cukup dana dan pengalaman. Tak banyak buku-buku ”keluaran” negeri sendiri yang benar-benar menceritakan nikmatnya bertualang menggapai atap Indonesia itu. Paling-paling hanyalah beberapa bentuk tulisan hasil ekspedisi ke sana. 

Akhirnya, pendaki-pendaki lokal harus pontang-panting mencari informasi ke beberapa perkumpulan pencinta alam ternama dan berpengalaman di negeri ini. Tapi itu mungkin tidak seberapa rumit jika dibandingkan dengan mengurus perizinannya. Sampai kapan?


Penulis : Bayu Dwi Mardana Kusuma
Sumber : Disarikan dari berbagai catatan pendaki

Peta Lokasi :

"Dinosaurus Terakhir" dari Papua


Indonesia merupakan rumah bagi 6 dari 7 spesies penyu yang ada di dunia. Dua di antaranya adalah Penyu Belimbing dan Penyu Lekang. Dua spesies yang terancam kepunahan tersebut kerap ditemukan di Pantai Jamursbamedi dan Pantai Warmon yang berada di kawasan Konservasi Abun, Papua. Pantai-pantai itu menjadi tempat peneluran terbesar di Pasifik Barat. Mereka datang dan bertelur sepanjang tahun.

Sangat menggembirakan ketika saya berkesempatan mengikuti perjalanan Tim Konservasi Penyu World Wild Fund of Nation WWF di Papua pada musim peneluran. Tujuannya untuk memonitor penyu Lekang dan penyu Belimbing.

Bersama rombongan, pukul 07.00 WIT, saya berangkat dari Pelabuhan Perikanan Sorong dengan menggunakan speedboat menuju pantai peneluran penyu di kawasan Konservasi Abun. Tepatnya di pantai Jamursbamedi dan Warmon yang terletak sekitar 200 kilometer dari kota Sorong. Cuaca pagi itu cukup cerah. Kami sengaja berangkat pagi karena lamanya perjalanan dan harus berpacu dengan besarnya ombak di laut utara Papua.

Perjalanan menuju lokasi tempat peneluran penyu bukanlah perkara mudah. Tidak ada alternatif lain menyusuri bentangan laut ”Kepala Burung” Papua selain dengan perjalanan laut.

Setelah menempuh waktu selama 10 jam, speedboat yang kami tumpangi akhirnya merapat di Kampung Wau Distrik Abun Sorong. Kampung dengan penduduk 36 KK ini adalah lokasi terdekat dengan Pantai Warmon dan Jamursbamedi.

Kami tidak langsung menemukan penyu yang kami cari. Untuk memantau keberadaan penyu kami kembali harus melanjutkan perjalanan dengan speedboat selama 2 jam menuju Jamurbamedi, sedangkan Pantai Warmon terpaksa tidak bisa kami jangkau karena tingginya air pasang dan ombaknya terlalu besar.

Perlu diketahui, kedua pantai tersebut dikenal sebagai tempat peneluran penyu yang masih alami. Dengan pasir putih dan suhu panas, sangat cocok sebagai tempat penyu bertelur, hingga menetas menjadi tukik. Menurut warga setempat, kedua pantai itu sudah disinggahi penyu-penyu sejak ratusan tahun silam.

Berbeda dengan puluhan tahun lalu ketika orang-orang bisa menyaksikan penyu bertelur di siang hari, sekarang penyu hanya bisa ditemui pada malam hari. Karena itu, kami pun masih harus bersabar menunggu malam tiba. Waktu menunjukkan sekitar pukul 10 malam. Penyu sangat sensitif terhadap cahaya, sehingga kami hanya berbekal pencahayaan minim. Ditemani lampu senter dan cahaya bintang kami mulai menyusuri bibir pantai Jamursbamedi sepanjang 18 kilometer.

Maka pencarian pun dimulai. Untuk memudahkan pencarian biasanya Tim Konservasi Penyu menyebar patroli di beberapa titik lokasi peneluran penyu. Dengan cara mengidentifikasi jejak mereka ketika naik ke darat maupun kembali ke laut. Jejak ketika naik ke darat dan kembali ke laut bisa dibedakan dari bekas gerakan sirip depannya. Dengan cara itu, tempat penyu bertelur dapat ditemukan.

Dua jam kemudian, kami berhasil mengidentifikasi jejak penyu Lekang seberat 70 kilogram yang akan bertelur. Kami pun mulai mengamati proses peneluran hingga selesai. Mulai dari menentukan lokasi sarang hingga kembali ke laut. Penyu berjalan dengan sirip depan sejauh lebih kurang 10 meter dari bibir pantai, kemudian dengan sirip belakang penyu mulai menggali lubang sarang sedalam 60 centimeter. Butuh waktu sekitar 40 menit untuk mengeluarkan 80 telur sebesar bola pingpong. dan kemudian menutup sarang dengan pasir.

Sebelum kembali ke laut, penyu membuat sarang kamuflase atau sarang tipuan untuk mengelabui para predator seperti manusia, biawak, dan babi hutan. Biasanya sarang penyamaran hanya berupa bekas gerakan memutar sirip depannya yang berjarak sekitar 2 meter dari sarang asli.

Selain mengamati proses peneluran, kami juga menandai penyu dengan pemasangan metal tag dan mengambil contoh kulit untuk dijadikan sampel genetika. Pencarian malam itu selesai dengan membawa penyu Lekang betina ke pos untuk dipasang alat pemancar satelit pada keesokan harinya.

Pencarian malam kedua dilanjutkan. Seperti malam sebelumnya, kami mencoba menyusuri sisi timur Pantai Jamursbamedi. Harapannya bertemu penyu Belimbing. Di kawasan Warmamedi sekitar 5 kilometer dari pos pengamatan, akhirnya kami mendapati penyu seberat hampir setengah ton dengan panjang 2 meter naik ke pantai dan bertelur. Ini adalah penyu Belimbing. Penyu yang biasa dijuluki ”dinosaurus terakhir” itu merupakan satu-satunya penyu yang tak memiliki cangkang di punggungnya. Kulitnya bergaris-garis menonjol menyerupai buah belimbing. Warnanya hitam dengan bercak putih.

Untuk memonitoring penyu, kami menggunakan alat yang disebut transmitter yang biasa dipasang di punggung penyu. Spesialis pemasang transmitter dari Tim Konservasi Penyu WWF, I Made Jaya Ratha mengatakan, pemasangan transmitter dilakukan untuk memudahkan memantau pergerakan dan mengetahui jalur migrasi penyu. Terlebih lagi siklus hidup penyu ini 99 persen berada di laut, jadi tidak kasatmata.

Dari hasil pantauan di dua pantai peneluran itu hingga kini diketahui, penyu Lekang bermigrasi di sekitar laut Arafura. Sedangkan penyu Belimbing adalah penyu yang punya kemampuan jelajah paling jauh dan mampu menepuh perjalanan hingga 6.000 mil dalam waktu satu tahun lebih.

Di Indonesia, Penyu Belimbing hanya bertelur di Pantai Jamursbamedi dan Warmon. Mereka pergi bermigrasi ke segala arah, menyusuri Papua hingga ke Kepulauan Solomon, menuju selatan hingga ke Kepulauan Kei di Maluku Tenggara, ke utara melampaui Filipina hingga ke Jepang, dan menyeberang Samudera Pasifik hingga pantai barat California.

Sejak tahun 2003, sedikitnya 22 ekor penyu Belimbing dan 13 penyu Lekang telah dipasangi alat pemancar satelit yang mengirimkan sinyal setiap penyu muncul ke permukaan. Selama musim peneluran pada bulan April hingga September, upaya konservasi dengan memonitor penyu dilakukan pagi dan malam oleh para patroller. Biasanya pemonitoran dilakukan dengan berjalan menyusuri bibir pantai. Mereka adalah masyarakat lokal yang dilibatkan sebagai tenaga patroli dan dilatih untuk menjaga serta mengawasi telur penyu.

Setiap sarang telur penyu akan ditandai patroller untuk mengetahui berapa jumlah penyu yang datang dan bertelur hingga menjaga agar aman dari para predator seperti biawak, babi hutan dan manusia. Bahkan jika perlu melakukan relokasi atau pemindahan telur penyu.

Sebenarnya, kenapa konservasi dan pemonitoran dua jenis penyu di Papua itu sangat penting dilakukan? Barnabas Wurlianty, Project Leader, North Papua Leatherback Habitat Managment World Wide Fund for Nature (WWF) mengatakan, kawasan itu adalah kawasan penting dengan populasi penyu yang datang untuk bertelur, dan merupakan satu-satunya tempat yang jumlah populasinya tinggi dengan pantai peneluran yang cukup panjang, khususnya di utara Papua. Meskipun di Amerika, Mexico dan India juga terdapat tempat-tempat peneluran penyu tapi populasinya relatif kecil. Begitu juga dengan daerah pantai penelurannya.

Menurut Barnabas, 20 tahun tertakhir ini populasi penyu di kawasan Pasifik, yang merupakan jalur padat reptil ini, menurun drastis. Dari catatan World Wild Fund WWF Indonesia, sepanjang 2008, hampir 5.000 penyu mendarat di sana. Sedangkan penyu Belimbing diperkirakan hanya sekitar 2.000 yang tersisa. Padahal, dua dekade silam diperkirakan mencapai 30 ribuan penyu dan di kawasan ini sendiri masih ditemukan 13 ribu sarang penyu.

Banyak faktor yang mengancam keberlanjutan populasi penyu Belimbing dan Lekang di pantai utara Papua. Penyebabnya, antara lain pemburuan liar dan jaring penangkapan ikan yang sering terjadi di kawasan laut lepas, predator alami, serta abrasi.

Namun manusia ternyata merupakan ancaman terbesar. Mereka memakan dan menjual telur serta dagingnya. Bahkan aktivitasnya yang merusak pantai tempat bertelur berakibat gagalnya telur penyu menetas. Kondisi itulah yang menempatkan penyu di Papua menjadi penyu laut yang paling terancam populasinya di dunia. Penyu belimbing masuk daftar merah Serikat Internasional untuk Konservasi Sumber Daya Alam (IUCN). Artinya, hewan itu memiliki risiko kepunahan paling tinggi.

Belum lagi proses keberhasilan penetasannya yang sangat rendah. Dari sekitar seribu telur penyu, hanya satu yang selamat hingga dewasa. Maka, usaha konservasi penyu pun mulai aktif dilakukan WWF dengan melibatkan masyarakat lokal. Masyarakat pun diberi pemahaman pentingnya menjaga penyu. Mereka diberi pemahaman pentingnya konservasi penyu di wilayah mereka.

Konservasi penyu di Papua ini bermula dari survei udara di Pantai Jamursbamedi di tahun 1980-an. Itu momen kali pertama diketahui bahwa betapa pentingnya pantai tersebut sebagai habitat penyu Belimbing dan Lekang. Di sepanjang 20 kilometer garis pantai saat itu ditemukan lebih dari 250 ekor penyu betina datang untuk bertelur setiap malam pada puncak musim peneluran.

Tempat Peneluran Terbesar di Pasifik

Pelestarian penyu Belimbing dan penyu Lekang punya arti penting bagi ikan, manusia dan industri nelayan. Sebagai pemangsa ubur-ubur, penyu Belimbing dan Lekang mampu mengatur keseimbangan populasi ubur-ubur di laut. Jika populasi ubur-ubur berlebih, maka dia akan memangsa larva ikan, sehingga populasi ikan jadi terancam. Karenanya, penyu-penyu ini penting untuk dijaga kelestariannya.

Untuk memastikan adanya perlindungan pantai peneluran agar populasi penyu khususnya penyu Belimbing di Pasifik agar tetap stabil atau meningkat, melindunginya dari eksploitasi yang berlebihan dan melindungi habitat-habitat pentingnya di Jamursbamedi dan Warmon, dibuat kesepakatan bersama dengan menjadikan dua situs peneluran yakni Jamursbamedi dan Warmon sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Abun.

Sebelumnya wilayah ini masuk dalam ranah Sub-Balai Konservasi Sumber Daya Alam BKSDA Papua I Sorong sebagai kawasan suaka margasatwa. Dukungan nyata terhadap perlindungan penyu diperkuat dengan penetapan KKLD Abun melalui Surat Keputusan SK Bupati Sorong No.142 tahun 2005 yang menetapkan kawasan laut dan pesisir Distrik Abun sebagai KKLD. Di dalam SK itu dicantumkan luas pantai yang mencapai 169 ribu hektare, dari garis pantai ke darat itu ada lebih dari 5 km.

KKLD Abun merupakan salah satu KKLD di pulau Papua yang memiliki spesifikasi khusus yakni penetapan kawasan ini didasarkan karena kawasan ini merupakan kawasan peneluran penyu belimbing terbesar di Pasifik. Dengan demikian perlindungan terhadap kawasan perairan sebagai rute migrasi dan perlidungan terhadap kawasan pantai dan hutan disekitarnyanya menjadi prioritas.

KKLD Abun secara admintratif terletak dalam wilayah Distrik Sausapor dan Distrik Abun Kabupaten Sorong Papua. Kasi Konservasi dan Pesisir pada Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sorong, Linder Rouw mengatakan, upaya penetapan KKLD ini dilakukan agar habitat peneluran penyu tetap terjaga. Itu didorong oleh kesadaran pemerintah daerah Kabupaten Sorong akan pentingnya kawasan ini bagi keberlanjutan penyu terbesar di dunia ini.

KKLD Abun adalah salah satu contoh di mana penghargaan terhadap perlindungan penyu patut diberikan kepada semua sektor, baik kepada pemerintah, masyarakat sekitar maupun lembaga-lembaga pendidikan, para akademikus, serta LSM-LSM.

Sebagai salah satu kawasan peneluran terbesar di pasifik dan sebagai kawasan penting bagi keberlanjutan penyu terbesar di dunia, Pantai Jamursbamedi dan Warmon menjadi harapan satu-satunya untuk mempertahankan penyu dari kepunahan.


Sumber: SuaraMerdeka
Foto : deutsche-wellepandalifeinthefastlanecbn 

Peta Lokasi :
Map data ©2010 Tele Atlas - Terms of Use
Map
Satellite
Hybrid