Home

Minggu, 28 November 2010

Kawah Putih, Amazing!


Perjalanan wisata ke kota Bandung selalu menyenangkan di mana obyek wisata Bandung banyak yang menarik, salah satunya adalah Kawah Putih. Pesona alam dan keindahan Kawah Putih sangat menakjubkan, membuat saya hampir selalu mengunjungi Kawah Putih, jika berlibur ke Bandung. Kawah Putih terletak di lereng gunung Patuha, kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, sekitar 45 kilometer dari selatan kota Bandung, berada di antara jalur Ciwidey dan Situ Patenggang.

Kawah Putih yang berada di ketinggian 2.194 meter di atas permukaan laut, terbentuk saat terjadi letusan gunung Patuha pada abad ke 10 sampai dengan abad ke 12, menyimpan suatu misteri pada masa lampau. Masyarakat menganggap puncak Gunung Patuha sebagai daerah angker dan menyeramkan dan mereka menganggap gunung Patuha adalah tempat bertemunya para leluhur Bandung Selatan dan saking angkernya, burung-burung yang melewati Kawah Putih pun akan binasa.

Pada tahun 1837 Dr, Franz Wilheim Junghun, seorang ilmuan Belanda peranakan Jerman, yang juga pengusaha perkebunan Belanda yang mencintai kelestarian alam. Kondisi lembah Gunung Patuha pada waktu itu masih berupa hutan lebat, dipenuhi pohon-pohon kayu jenis lokal seperti rasamala, saninten, huru, samida dan lain sebagainya. Beliau tidak percaya pada cerita masyarakat dan malah penasaran, akhirnya beliau melanjutkan perjalanan menembus hutan belantara hingga akhirnya menemukan sebuah kawah yang sangat indah, yang saat ini dikenal sebagai Kawah Putih. Dari dalam kawah tersebut keluar semburan lava yang berbau belerang, yang di kemudian diketahui bahwa bau belereng inilah yang menyebabkan kawanan burung enggan untuk terbang di atas permukaan kawah.

Bagi orang yang baru pertama kali mengunjungi Kawah Putih, biasanya akan terpaku melihat genangan air yang berwarna putih disertai dengan asap putih yang mengepul di atasnya. Warna air di Kawah Putih selalu berubah-berubah mengikuti cuaca, bila matahari bersinar dengan teriknya, air pada Kawah Putih berwarna hijau apel dan kebiru-biruan, terkadang juga berwarna coklat susu, kuning terang dan yang sering dijumpai adalah berwarna putih disertai dengan kabut tebal di atas permukaan kawah. Selain permukaan kawah berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi oleh warna putih.

Kabarnya bila mengunjungi Kawah Putih pada malam hari, saat rembulan dan bintang-bintang menerangi malam, dari danau Kawah Putih akan terlihat pancaran cahaya berwarna terang kehijau-hijauan yang menghiasi kawah dan akan membentuk lingkaran yang menerangi seluruh lokasi kawah.

Meskipun Kawah Putih telah ditemukan pada tahun 1837 oleh Dr. Franz Wilheim Junghun, tetapi keindahan alam Kawah Putih baru dapat dinikmati oleh masyarakat luas pada tahun 1987 setelah PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkan menjadi obyek wisata.

Di Kawah Putih terdapat sebuah goa buatan sedalam 5 meter yang tertutup untuk umum dan sampai sekarang masih tercium bau belereng yang sangat menyengat dan ada peringatan agar jangan terlalu lama berada di depan goa.

Dari sinilah awal mulanya berdirinya pabrik belerang Kawah Putih pada jaman Belanda yaitu Zwavel Ontgining Kawah Putih dan usaha ini dilanjutkan pula pada masa Jepang dengan sebutan Kawah Putih Kenzaka Yokoya Ciwidey di bawah pengawasan langsung militer Jepang. 

Cerita-cerita ini sekarang tinggal misteri dan Dr. Franz Wilheim Junghun telah tiada, namun penemuannya masih dikenal dan masih tetap mempesona sampai saat ini dan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten telah mengembangkan sebagai Ecotourism Wana Wisata pada tahun 1991.

Kawah Putih memang menakjubkan dan mempesona walaupun cuaca di Kawah putih sangat tidak stabil, sebentar turun hujan deras dan berkabut dan tak lama kemudian cuaca menjadi cerah, cekungan di Kawah Putih seluas 25 hektar berair keputih-putihan.

Berhubung cuaca di kawasan Kawah Putih yang cukup dingin ditambah dengan hujan yang suka datang mendadak, sebaiknya membawa payung dan mengenakan jaket atau mantel.

Untuk mencapai Lokasi Kawah Putih, dari pintu masuk hingga ke kawah jaraknya sekitar 5 kilometer, dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit dengan mobil dengan pemandangan rimbunnya dan hijaunya hutan tropis. Harga Tiket untuk menikmati keindahan Kawah Putih, sebesar Rp 11.000 per orang.

Setelah puas menikmati keindahan alam Kawah Pesona, pengunjung dapat membeli camilan berupa kacang rebus, jagung bakar, ketan bakar dengan bumbu tiga rasa yaitu oncom, kacang dan kelapa atau dapat membeli beberapa kotak buah strawberry yang segar atau bantal dan pernak-pernik lainnya berbentuk strawberry sebagai buah tangan.

Jika masih ingin melanjutkan perjalanan wisata di Bandung Selatan, kita masih dapat melanjutkan ke obyek wisata lainnya seperti danau Situpatenggang, Rancaupas yang sejak lama menjadi penangkaran rusa dan tempat perkemahan, pemandian air panas Cimanggu dan sepulangnya dari lokasi wisata di atas, kita dapat juga memetik sendiri strawberry di sepanjang jalan raya Ciwidey dengan membayar sekitar Rp 25.000 – Rp. 35.000 untuk satu kilogram strawberry yang segar.

Sayangnya hujan turun begitu deras dan hari sudah menjelang senja, sehingga perjalanan wisata kali ini hanya ke Kawah Putih saja.


Penulis : Ariana - Jakarta
Sumber: Kompas Community
Foto : Ariana

Peta Lokasi :
Map data ©2010 Tele Atlas - Terms of Use
Map
Satellite
Hybrid



Vihara Avalokitesvara


Dalam catatan sejarah, keberadaan Vihara Avalokitesvara ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Syarif Hidayatullah (1450-1568 M), atau yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Djati, salah seorang wali dari Walisongo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Beliau terpantik mendirikan sebuah vihara di Serang karena melihat banyaknya perantau dari Tiongkok beragama Buddha yang membutuhkan tempat ibadah.

Menurut versi lain, ide mendirikan vihara muncul setelah beliau menikah dengan salah seorang putri Tiongkok. Karena banyak di antara pengikut putri tersebut yang masuk Islam, Sunan Gunung Djati kemudian membangun sebuah masjid bernama Masjid Pecinan, yang kini tinggal puingnya saja. Sedangkan bagi mereka yang tetap bertahan dengan keyakinannya semula, dibuatkan sebuah vihara. 

Vihara yang termasuk dalam Kawasan Situs Banten Lama dan konon dibangun sekitar tahun 1652 M ini diberi nama Vihara Avalokitesvara. Nama vihara tersebut diambil dari nama salah seorang penganut Buddha, yaitu Bodhisattva Avalokitesvara, yang artinya “mendengar suara dunia.” 
Mengunjungi Vihara Avalokitesvara tergolong istimewa. Karena dengan mengunjungi vihara ini berarti seseorang telah mengunjungi sebuah situs sejarah dan sekaligus tempat ibadah. Sebagai situs sejarah, vihara ini termasuk salah satu vihara tertua di Indonesia. Vihara ini juga menjadi bukti kegemilangan peradaban Kesultanan Banten pada masa lalu. Sebagai tempat ibadah, vihara ini merupakan salah satu tempat ibadah favorit bagi umat Buddha dari dalam dan luar negeri. 

Namun, vihara ini lebih dari sekadar situs sejarah dan tempat ibadah. Karena sesungguhnya, keberadaan vihara ini adalah simbol yang mencerminkan karakter masyarakat Banten yang mencintai kerukunan dan keharmonisan dengan berbagai suku, bangsa, dan agama pada masa lalu. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, namun masyarakat Banten senantiasa terbuka dengan berbagai agama yang masuk ke kawasan tersebut.

Sementara itu, keberadaan vihara di pusat Kota Banten Lama dan letaknya yang tidak terlalu jauh dari Masjid Agung Banten (masjid kesultanan), menjadi bukti lain dari fenomena kerukunan antarumat beragama di Banten pada masa lalu. Hinga kini, tradisi kerukunan antarumat beragama tersebut masih terjalin dengan baik.
Kompleks vihara yang luas dan suasana di sekitarnya yang tenang, serta lokasinya yang dekat dengan laut, menjadikan vihara ini begitu istimewa untuk dikunjungi. Angin laut yang berhembus pelan dan pesona daun nyiur yang melambai-lambai dengan latar Selat Sunda nan biru, menambah daya tarik kawasan ini. Sehingga, tidak mengherankan jika banyak orang yang datang ke sini, baik pemeluk agama Buddha yang ingin memanjatkan doa dengan khusyuk maupun turis yang ingin bertamasya atau sekadar mencari inspirasi. Biasanya, vihara ini ramai dikunjungi oleh turis dari dalam dan luar negeri pada saat perayaan Tahun Baru Imlek dan peringatan Lakwe Cakau, hari kesempurnaan Dewi Kwan Im sebagai Ibu Suri Buddha.

Di dalam vihara, pengunjung dapat menjumpai beraneka koleksi arsip, foto, lukisan, dan patung Dewi Kwan Im peninggalan Kekaisaran Tiongkok pada masa Dinasti Ming. Di samping itu, pengunjung juga dapat mengetahui reportase dahsyatnya gempa dan tsunami yang melanda kawasan sekitar Selat Sunda akibat letusan Gunung Krakatau pada tanggal 27 Agustus 1883. Reportase kronologi peristiwa tersebut dikisahkan dalam tiga bahasa, dan pengunjung dapat membacanya pada sebuah papan yang menempel di salah satu dinding vihara. Meski lokasi vihara dekat dengan laut, ajaibnya, vihara ini tidak “terpengaruh” oleh gempa tektonik dan tsunami dahsyat yang menewaskan ribuan korban yang sempat menggemparkan dunia itu. 

Setelah puas mengunjungi vihara ini, pelancong dapat mencoba suasana lain yang masih termasuk dalam Kawasan Wisata Situs Banten Lama, seperti Masjid Agung Banten, Benteng Speelwijk, bekas Keraton Surosowon dan Keraton Kaibon, serta bekas Pelabuhan Kramatwatu, sebuah pelabuhan yang sangat terkenal pada masa kegemilangan Kesultanan Banten. Obyek-obyek wisata ini lokasinya berdekatan dengan Vihara Avalokitesvara. 

Secara administratif, Vihara Avalokitesvara masuk dalam wilayah Kampung Pamarican/Kampung Kasunyatan, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Indonesia.

Dari Jakarta, Provinsi Banten berjarak sekitar 70 kilometer. Selain dengan kendaraan pribadi, pengunjung dapat menuju provinsi termuda di Pulau Jawa tersebut dengan bus, taksi, atau kereta api. Sedangkan Vihara Avalokitesvara berjarak sekitar 10 kilometer di sebelah utara Kota Serang, ibukota Provinsi Banten. Pengunjung dapat mengaksesnya dengan naik taksi atau angkutan kota jurusan Serang-Kramatwatu. Pengunjung tidak dipungut biaya.
Wisatawan tidak perlu cemas kelaparan bila berada di Vihara Avalokitesvara, karena di sekitar kawasan tersebut terdapat rumah makan, warung, dan pedagang asongan yang menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan. Di depan vihara juga terdapat penjual aneka makanan laut yang telah dikeringkan sebagai oleh-oleh, mulai dari cumi, lontar telur, telur ikan, ikan japu, sampai terasi udang. 

Di sekitar kawasan ini terdapat home stay, wisma, dan hotel dengan berbagai tipe, sehingga wisatawan tidak perlu khawatir bila mengunjungi vihara ini pada malam hari. Bahkan, di dalam kompleks vihara disediakan tempat penginapan bagi wisatawan yang ingin bermalam di sana.

Berbagai fasilitas lainnya, seperti jaminan keamanan, pelayanan panduan wisata, kios wartel, serta area parkir yang luas dan aman, juga tersedia di sini.


Penulis : Yusriandi Pagarah
Sumber: wisatamelayu.com
Foto : mahavishnu8, aroengbinang, flickr, CBN

Peta Lokasi :
Map data ©2010 Tele Atlas - Terms of Use
Map
Satellite
Hybrid



Gedung Linggarjati

Linggarjati
Desa Linggarjati merupakan sebuah Desa kecil yang berada di salah satu wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Praktis desa kecil ini dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia dan dunia, pada saat dilaksanakannya Perjanjian Linggarjati, pada tanggal 10-13 November 1946. Perjanjian ini dianggap sebagai  perjanjian yang sangat penting, karena berhubungan erat dengan eksistensi Pemerintah Indonesia dimata dunia pada waktu itu, baik secara De Facto dan De Jure dipertaruhkan.
        
Ibarat sungai, Linggarjati merupakan salah satu mata air yang mengaliri sungai tersebut, sehingga air mengalir terus sampai ke hilir dan akhirnya bermuara di laut membentuk lautan yang luas dengan segala kekayaaan alamnya. Begitupun dengan Linggarjati, merupakan bagian yang sangat penting dari perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, sehingga sampai sekarang bisa menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. 
Diantara isi pokok persetujuan Linggarjati adalah : (1) Belanda mengakui secara De Facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura; (2) Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama dalam membentuk negara Indonesia Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia;(3) Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya.

Linggarjati
Peristiwa yang berlangsung 59 tahun silam tersebut, masih dapat kita saksikan melalui peninggalan-peninggalan yang ada di Gedung Linggarjati, sekaligus dijadikan sebagai salah satu bangunan cagar budaya oleh Pemerintah sesuai dengan UU.No.5 tahun 1992. Desa Linggarjati sendiri berada di wilayah Blok Wage, Dusun Tiga, Kampung Cipaku, kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Desa ini terletak pada ketinggian 400 meter di atas permukaan air laut, dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Sebelah selatan desa ini berbatasan dengan Desa Linggasana, sebelah timur berbatasan dengan Desa Linggamekar, sebelah utara berbatasan dengan Desa Lingga Indah dan sebelah barat berbatasan dengan Gunung Ciremai. Untuk mencapai lokasi ini tidaklah terlalu sulit, karena akses jalan aspal yang mulus, sehingga mudah sekali dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari arah Cirebon kurang lebih 25 km sedangkan dari arah Kuningan kurang lebih 17 km.

Linggarjati
Hawa sejuk dan damai akan kita rasakan ketika mulai memasuki pelataran Gedung Linggarjati. Bangunan kuno dan megah yang dikelilingi oleh taman yang asri, dengan suasana yang tidak terlalu ramai, semakin menambah penghayatan suasana Linggarjati. Luas komplek Linggarjati kurang lebih 2,4 hektare, dimana sepertiga dari luas tersebut merupakan bangunan gedung yang dipergunakan untuk perundingan. 
Bangunan ini sendiri tadinya dibangun oleh warga negara Belanda, sebagai tempat peristirahatan, yang kemudian dipilih sebagai tempat perundingan dan akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Indonesia sebagai salah satu bangunan cagar budaya Pemerintah Indonesia. Walaupun berupa bangunan lama, tapi secara keseluruhan kebersihan gedung ini nampak terjaga sekali. Ada 14 orang yang membantu merawat gedung ini, diantaranya 7 orang merupakan PNS ( Pegawai Negeri Sipil ), dan sisanya adalah pegawai honorer.
        
Bangunan ini terdiri dari beberapa ruang, yaitu ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi dan ruang belakang. Ruang tamu dipergunakan sebagai ruang untuk melakukan lobi dan meeting informal. ruang tengah merupakan ruang utama, dimana perjanjian Linggarjati dilaksanakan. Ternyata posisi kursi yang diduduki oleh para anggota perundingan masih sama seperti dulu waktu perundingan dilangsungkan. diantara para peserta perundingan tersebut adalah, delegasi Indonesia terdiri dari : 1.Sutan Sjahrir, 2.Mr.Soesanto Tirtoprodjo, 3.Dr.A.K.Gani, 4.Mr.Muhammad Roem. delegasi Belanda terdiri dari: 1.Prof.Ir. Schermerhorn, 2.Mr.Van Poll, 3.Dr.F.DeBoer,  4.Dr.Van Mook. Dan sebagai notulensi adalah; 1.Dr.J.Leimena, 2.Dr.Soedarsono 3.Mr.Amir Sjarifuddin, 3.Mr.Ali Budiardjo. Kamar-kamar tidur yang bersebelahan dengan ruang perundingan merupakan tempat tidur yang dipergunakan oleh delegasi Indonesia dan Belanda selama mengikuti jalannya perundingan.

Linggarjati
Hari-hari biasa tempat ini biasanya sepi pengunjung, paling-paling kalau ada kunjungan biasanya kunjungan nostalgia dari para wisman Belanda yang ingin. Baru pada hari libur, tempat ini ramai dikunjungi oleh pengunjung yang hampir sebagian besar adalah anak-anak sekolah, yang tidak hanya berasal dari daerah sekitar, namun juga berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Biaya operasional tempat ini, selain diberi subsidi oleh Pemerintah, juga sedikit terbantu oleh kehadiran pengunjung. 

Pengunjung yang datang diharapkan bisa mengisi uang kas dengan jumlah seikhlasnya, kemudian uang tersebut digunakan untuk membantu biaya perawatan gedung. Menurut Pak Judi, salah satu petugas museum mengatakan,"Peranan pemerintah untuk menjaga kelestarian gedung ini sangat diharapkan, terutama dalam hal pendanaan,". Selama ini banyak sekali para Pejabat Pemerintah yang memberikan sumbang saran, namun lebih dari itu adalah bukti konkret berupa pendanaan untuk terus menjaga kelestarian Gedung Linggarjati.

Linggarjati
Tidak jauh dari Museum Linggarjati, tersedia juga obyek wisata alam sebagai pelengkap wisata Museum Linggarjati. Tempat tersebut terdiri dari taman-taman dengan pohon-pohon yang rindang dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang lain. Seperti kolam renang, kemudian danau buatan-dimana kita bisa melintasi danau tersebut dengan perahu karet dan tersedia juga pondok-pondok penginapan bagi pengunjung yang ingin menginap ditempat tersebut. 

Sayangnya, pengelolaan tempat tersebut kurang diperhatikan, sehingga terlihat agak kotor, banyak sampah yang berserakan dan pengaturan taman-taman yang kurang rapi, sehingga banyak rumput yang tumbuh disana-sini. Untuk menjaring pengunjung yang lebih banyak, pemda setempat harus lebih peduli, baik dalam hal pengelolaan maupun dalam hal promosi. Karena lokasi yang mudah dijangkau, serta udara yang cukup sejuk, wisata ini kalau dikelola secara profesional tentu kedepan akan semakin menarik banyak wisatawan.

Penulis : AMGD
Lokasi : Linggarjati, Cilimus, Kuningan
Sumber : Navigasi 
Foto : AMGD, museumindonesia 

Peta Lokasi :

Map data ©2010 Tele Atlas - Terms of Use
Map
Satellite
Hybrid