Home

Jumat, 26 November 2010

Minum Susu Bukan Kewajiban!

Minum susu, belakangan digemari berbagai kalangan. Seakan menjadi tren, yang kalau tidak dilakukan, bisa-bisa dianggap ketinggalan zaman, setidaknya tertinggal dalam menjalani pola hidup sehat. Tak sedikit, mereka yang sebelumnya emoh minum susu – demi ikut tren – jadi memaksakan diri menenggak “mantan musuhnya” itu.
Toh, di tengah kecenderungan itu, tetap menyembul suara sumbang, apakah susu memang jenis minuman yang mesti dikonsumsi setiap hari? “Iya dong. Susu kan bagian dari Empat Sehat, Lima Sempurna,” tegas Yahya, bapak beranak tiga. “Logikanya, kalau enggak minum susu, asupan gizi enggak sempurna,” tambah si bapak.
Begitu populernya jargon Empat Sehat Lima Sempurna, sampai-sampai Yahya terjebak, menganggap susu sebagai asupan wajib. Padahal, minum susu, apalagi buat orang dewasa, sebenarnya bukan kewajiban, melainkan pilihan. Maknanya, susu tidak perlu diminum, jika semua kebutuhan zat gizi tubuh sudah terpenuhi lewat makanan.
“Lo, kenapa waktu kecil dulu, kita diwajibkan minum susu?” Yahya mencoba membela diri.
Begini duduk persoalannya. Pada bayi dan anak, makanan yang paling ideal buat mereka adalah air susu ibu (ASI). Karena ASI mengandung zat gizi yang lengkap, sesuai dengan kebutuhan bayi.
Pada keadaan tertentu (ketika ASI tidak dapat diberikan), bayi dan anak biasanya diberi susu pengganti, yaitu susu formula. Susu formula adalah susu sapi atau kambing murni yang sudah diolah menjadi bubuk (sehingga tahan lama), dihilangkan atau dikurangi kandungan lemaknya (sehingga jumlah kalorinya lebih rendah). Atau, dibuang kandungan laktosanya (menghindari diare bagi yang alergi), serta diperkaya dengan kalsium, serat, dan zat-zat gizi lainnya.
Bayi hanya diberi ASI dan susu formula (makanan cair), karena ia baru mampu mengisap dan menelan. Proses selanjutnya, menelan makanan lebih padat. Pada tahap ini bayi memerlukan perkembangan lebih lanjut serta proses belajar. Jadi, tak sembarangan bahan makanan dan minuman dapat ditelan bayi. Beda dengan orang dewasa yang bebas makan apa saja.
Ketika bayi mulai lebih besar, kebutuhan makanan tidak lagi seratus persen dipenuhi susu, tetapi mulai mendapat makanan lain, seperti layaknya orang dewasa. Tentu saja, makanan itu disesuaikan dengan kemampuan makan anak, jumlah kalori, dan komposisi karbohidrat-protein-lemak yang dibutuhkan.
Seiring pertambahan usia, kemampuan tubuh anak untuk makan dan mencerna makanan semakin matang. Kebutuhan gizi tubuh juga berubah, sehingga perlahan-lahan tapi pasti, kebutuhan tubuhnya tidak lagi tergantung pada susu semata.
Buat orang dewasa, susu hanyalah satu jenis bahan makanan, sama seperti bahan-bahan makanan lainnya yang setiap hari disantap. Susu memang mengandung berbagai zat gizi, tetapi ia bukan “asupan ajaib” yang bisa membuat tubuh begitu super sehingga tidak lagi memerlukan asupan-asupan yang mengandung zat gizi lain.
Sebaliknya, meskipun tidak menenggak susu, kebutuhan gizi tubuh pun masih bisa dipenuhi dari bahan makanan lain. Itu sebabnya, para ahli gizi biasanya menganjurkan konsumsi bahan makanan secara bervariasi, untuk mendapatkan zat gizi yang beragam dan seimbang.
Susu juga tidak hanya mengandung kalsium, jadi jangan berpikir minum susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium. Meski dari sononya merupakan sumber kalsium, ia juga mengandung zat gizi lain.
Misalnya, laktosa (salah satu bentuk karbohidrat), protein, lemak, vitamin A, C, B1, B2, kalsium, zat besi, dan lain-lain. Susu juga mengandung zat-zat berguna lainnya yang tidak dikelompokkan ke dalam zat gizi.
Jadi, sekali lagi, mau minum susu atau tidak, adalah pilihan. Bukan Kewajiban !
Sumber: http://www.depkes.go.id (Oleh dr. Luciana B. Sutanto, MS)

Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar