Home

Minggu, 28 November 2010

"Dinosaurus Terakhir" dari Papua


Indonesia merupakan rumah bagi 6 dari 7 spesies penyu yang ada di dunia. Dua di antaranya adalah Penyu Belimbing dan Penyu Lekang. Dua spesies yang terancam kepunahan tersebut kerap ditemukan di Pantai Jamursbamedi dan Pantai Warmon yang berada di kawasan Konservasi Abun, Papua. Pantai-pantai itu menjadi tempat peneluran terbesar di Pasifik Barat. Mereka datang dan bertelur sepanjang tahun.

Sangat menggembirakan ketika saya berkesempatan mengikuti perjalanan Tim Konservasi Penyu World Wild Fund of Nation WWF di Papua pada musim peneluran. Tujuannya untuk memonitor penyu Lekang dan penyu Belimbing.

Bersama rombongan, pukul 07.00 WIT, saya berangkat dari Pelabuhan Perikanan Sorong dengan menggunakan speedboat menuju pantai peneluran penyu di kawasan Konservasi Abun. Tepatnya di pantai Jamursbamedi dan Warmon yang terletak sekitar 200 kilometer dari kota Sorong. Cuaca pagi itu cukup cerah. Kami sengaja berangkat pagi karena lamanya perjalanan dan harus berpacu dengan besarnya ombak di laut utara Papua.

Perjalanan menuju lokasi tempat peneluran penyu bukanlah perkara mudah. Tidak ada alternatif lain menyusuri bentangan laut ”Kepala Burung” Papua selain dengan perjalanan laut.

Setelah menempuh waktu selama 10 jam, speedboat yang kami tumpangi akhirnya merapat di Kampung Wau Distrik Abun Sorong. Kampung dengan penduduk 36 KK ini adalah lokasi terdekat dengan Pantai Warmon dan Jamursbamedi.

Kami tidak langsung menemukan penyu yang kami cari. Untuk memantau keberadaan penyu kami kembali harus melanjutkan perjalanan dengan speedboat selama 2 jam menuju Jamurbamedi, sedangkan Pantai Warmon terpaksa tidak bisa kami jangkau karena tingginya air pasang dan ombaknya terlalu besar.

Perlu diketahui, kedua pantai tersebut dikenal sebagai tempat peneluran penyu yang masih alami. Dengan pasir putih dan suhu panas, sangat cocok sebagai tempat penyu bertelur, hingga menetas menjadi tukik. Menurut warga setempat, kedua pantai itu sudah disinggahi penyu-penyu sejak ratusan tahun silam.

Berbeda dengan puluhan tahun lalu ketika orang-orang bisa menyaksikan penyu bertelur di siang hari, sekarang penyu hanya bisa ditemui pada malam hari. Karena itu, kami pun masih harus bersabar menunggu malam tiba. Waktu menunjukkan sekitar pukul 10 malam. Penyu sangat sensitif terhadap cahaya, sehingga kami hanya berbekal pencahayaan minim. Ditemani lampu senter dan cahaya bintang kami mulai menyusuri bibir pantai Jamursbamedi sepanjang 18 kilometer.

Maka pencarian pun dimulai. Untuk memudahkan pencarian biasanya Tim Konservasi Penyu menyebar patroli di beberapa titik lokasi peneluran penyu. Dengan cara mengidentifikasi jejak mereka ketika naik ke darat maupun kembali ke laut. Jejak ketika naik ke darat dan kembali ke laut bisa dibedakan dari bekas gerakan sirip depannya. Dengan cara itu, tempat penyu bertelur dapat ditemukan.

Dua jam kemudian, kami berhasil mengidentifikasi jejak penyu Lekang seberat 70 kilogram yang akan bertelur. Kami pun mulai mengamati proses peneluran hingga selesai. Mulai dari menentukan lokasi sarang hingga kembali ke laut. Penyu berjalan dengan sirip depan sejauh lebih kurang 10 meter dari bibir pantai, kemudian dengan sirip belakang penyu mulai menggali lubang sarang sedalam 60 centimeter. Butuh waktu sekitar 40 menit untuk mengeluarkan 80 telur sebesar bola pingpong. dan kemudian menutup sarang dengan pasir.

Sebelum kembali ke laut, penyu membuat sarang kamuflase atau sarang tipuan untuk mengelabui para predator seperti manusia, biawak, dan babi hutan. Biasanya sarang penyamaran hanya berupa bekas gerakan memutar sirip depannya yang berjarak sekitar 2 meter dari sarang asli.

Selain mengamati proses peneluran, kami juga menandai penyu dengan pemasangan metal tag dan mengambil contoh kulit untuk dijadikan sampel genetika. Pencarian malam itu selesai dengan membawa penyu Lekang betina ke pos untuk dipasang alat pemancar satelit pada keesokan harinya.

Pencarian malam kedua dilanjutkan. Seperti malam sebelumnya, kami mencoba menyusuri sisi timur Pantai Jamursbamedi. Harapannya bertemu penyu Belimbing. Di kawasan Warmamedi sekitar 5 kilometer dari pos pengamatan, akhirnya kami mendapati penyu seberat hampir setengah ton dengan panjang 2 meter naik ke pantai dan bertelur. Ini adalah penyu Belimbing. Penyu yang biasa dijuluki ”dinosaurus terakhir” itu merupakan satu-satunya penyu yang tak memiliki cangkang di punggungnya. Kulitnya bergaris-garis menonjol menyerupai buah belimbing. Warnanya hitam dengan bercak putih.

Untuk memonitoring penyu, kami menggunakan alat yang disebut transmitter yang biasa dipasang di punggung penyu. Spesialis pemasang transmitter dari Tim Konservasi Penyu WWF, I Made Jaya Ratha mengatakan, pemasangan transmitter dilakukan untuk memudahkan memantau pergerakan dan mengetahui jalur migrasi penyu. Terlebih lagi siklus hidup penyu ini 99 persen berada di laut, jadi tidak kasatmata.

Dari hasil pantauan di dua pantai peneluran itu hingga kini diketahui, penyu Lekang bermigrasi di sekitar laut Arafura. Sedangkan penyu Belimbing adalah penyu yang punya kemampuan jelajah paling jauh dan mampu menepuh perjalanan hingga 6.000 mil dalam waktu satu tahun lebih.

Di Indonesia, Penyu Belimbing hanya bertelur di Pantai Jamursbamedi dan Warmon. Mereka pergi bermigrasi ke segala arah, menyusuri Papua hingga ke Kepulauan Solomon, menuju selatan hingga ke Kepulauan Kei di Maluku Tenggara, ke utara melampaui Filipina hingga ke Jepang, dan menyeberang Samudera Pasifik hingga pantai barat California.

Sejak tahun 2003, sedikitnya 22 ekor penyu Belimbing dan 13 penyu Lekang telah dipasangi alat pemancar satelit yang mengirimkan sinyal setiap penyu muncul ke permukaan. Selama musim peneluran pada bulan April hingga September, upaya konservasi dengan memonitor penyu dilakukan pagi dan malam oleh para patroller. Biasanya pemonitoran dilakukan dengan berjalan menyusuri bibir pantai. Mereka adalah masyarakat lokal yang dilibatkan sebagai tenaga patroli dan dilatih untuk menjaga serta mengawasi telur penyu.

Setiap sarang telur penyu akan ditandai patroller untuk mengetahui berapa jumlah penyu yang datang dan bertelur hingga menjaga agar aman dari para predator seperti biawak, babi hutan dan manusia. Bahkan jika perlu melakukan relokasi atau pemindahan telur penyu.

Sebenarnya, kenapa konservasi dan pemonitoran dua jenis penyu di Papua itu sangat penting dilakukan? Barnabas Wurlianty, Project Leader, North Papua Leatherback Habitat Managment World Wide Fund for Nature (WWF) mengatakan, kawasan itu adalah kawasan penting dengan populasi penyu yang datang untuk bertelur, dan merupakan satu-satunya tempat yang jumlah populasinya tinggi dengan pantai peneluran yang cukup panjang, khususnya di utara Papua. Meskipun di Amerika, Mexico dan India juga terdapat tempat-tempat peneluran penyu tapi populasinya relatif kecil. Begitu juga dengan daerah pantai penelurannya.

Menurut Barnabas, 20 tahun tertakhir ini populasi penyu di kawasan Pasifik, yang merupakan jalur padat reptil ini, menurun drastis. Dari catatan World Wild Fund WWF Indonesia, sepanjang 2008, hampir 5.000 penyu mendarat di sana. Sedangkan penyu Belimbing diperkirakan hanya sekitar 2.000 yang tersisa. Padahal, dua dekade silam diperkirakan mencapai 30 ribuan penyu dan di kawasan ini sendiri masih ditemukan 13 ribu sarang penyu.

Banyak faktor yang mengancam keberlanjutan populasi penyu Belimbing dan Lekang di pantai utara Papua. Penyebabnya, antara lain pemburuan liar dan jaring penangkapan ikan yang sering terjadi di kawasan laut lepas, predator alami, serta abrasi.

Namun manusia ternyata merupakan ancaman terbesar. Mereka memakan dan menjual telur serta dagingnya. Bahkan aktivitasnya yang merusak pantai tempat bertelur berakibat gagalnya telur penyu menetas. Kondisi itulah yang menempatkan penyu di Papua menjadi penyu laut yang paling terancam populasinya di dunia. Penyu belimbing masuk daftar merah Serikat Internasional untuk Konservasi Sumber Daya Alam (IUCN). Artinya, hewan itu memiliki risiko kepunahan paling tinggi.

Belum lagi proses keberhasilan penetasannya yang sangat rendah. Dari sekitar seribu telur penyu, hanya satu yang selamat hingga dewasa. Maka, usaha konservasi penyu pun mulai aktif dilakukan WWF dengan melibatkan masyarakat lokal. Masyarakat pun diberi pemahaman pentingnya menjaga penyu. Mereka diberi pemahaman pentingnya konservasi penyu di wilayah mereka.

Konservasi penyu di Papua ini bermula dari survei udara di Pantai Jamursbamedi di tahun 1980-an. Itu momen kali pertama diketahui bahwa betapa pentingnya pantai tersebut sebagai habitat penyu Belimbing dan Lekang. Di sepanjang 20 kilometer garis pantai saat itu ditemukan lebih dari 250 ekor penyu betina datang untuk bertelur setiap malam pada puncak musim peneluran.

Tempat Peneluran Terbesar di Pasifik

Pelestarian penyu Belimbing dan penyu Lekang punya arti penting bagi ikan, manusia dan industri nelayan. Sebagai pemangsa ubur-ubur, penyu Belimbing dan Lekang mampu mengatur keseimbangan populasi ubur-ubur di laut. Jika populasi ubur-ubur berlebih, maka dia akan memangsa larva ikan, sehingga populasi ikan jadi terancam. Karenanya, penyu-penyu ini penting untuk dijaga kelestariannya.

Untuk memastikan adanya perlindungan pantai peneluran agar populasi penyu khususnya penyu Belimbing di Pasifik agar tetap stabil atau meningkat, melindunginya dari eksploitasi yang berlebihan dan melindungi habitat-habitat pentingnya di Jamursbamedi dan Warmon, dibuat kesepakatan bersama dengan menjadikan dua situs peneluran yakni Jamursbamedi dan Warmon sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Abun.

Sebelumnya wilayah ini masuk dalam ranah Sub-Balai Konservasi Sumber Daya Alam BKSDA Papua I Sorong sebagai kawasan suaka margasatwa. Dukungan nyata terhadap perlindungan penyu diperkuat dengan penetapan KKLD Abun melalui Surat Keputusan SK Bupati Sorong No.142 tahun 2005 yang menetapkan kawasan laut dan pesisir Distrik Abun sebagai KKLD. Di dalam SK itu dicantumkan luas pantai yang mencapai 169 ribu hektare, dari garis pantai ke darat itu ada lebih dari 5 km.

KKLD Abun merupakan salah satu KKLD di pulau Papua yang memiliki spesifikasi khusus yakni penetapan kawasan ini didasarkan karena kawasan ini merupakan kawasan peneluran penyu belimbing terbesar di Pasifik. Dengan demikian perlindungan terhadap kawasan perairan sebagai rute migrasi dan perlidungan terhadap kawasan pantai dan hutan disekitarnyanya menjadi prioritas.

KKLD Abun secara admintratif terletak dalam wilayah Distrik Sausapor dan Distrik Abun Kabupaten Sorong Papua. Kasi Konservasi dan Pesisir pada Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sorong, Linder Rouw mengatakan, upaya penetapan KKLD ini dilakukan agar habitat peneluran penyu tetap terjaga. Itu didorong oleh kesadaran pemerintah daerah Kabupaten Sorong akan pentingnya kawasan ini bagi keberlanjutan penyu terbesar di dunia ini.

KKLD Abun adalah salah satu contoh di mana penghargaan terhadap perlindungan penyu patut diberikan kepada semua sektor, baik kepada pemerintah, masyarakat sekitar maupun lembaga-lembaga pendidikan, para akademikus, serta LSM-LSM.

Sebagai salah satu kawasan peneluran terbesar di pasifik dan sebagai kawasan penting bagi keberlanjutan penyu terbesar di dunia, Pantai Jamursbamedi dan Warmon menjadi harapan satu-satunya untuk mempertahankan penyu dari kepunahan.


Sumber: SuaraMerdeka
Foto : deutsche-wellepandalifeinthefastlanecbn 

Peta Lokasi :
Map data ©2010 Tele Atlas - Terms of Use
Map
Satellite
Hybrid



Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar